Tampilkan postingan dengan label Artikel Kiriman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Kiriman. Tampilkan semua postingan

8 Jul 2010

Hal Melayani

Tulisan mengenai topik ini, pertama kali saya buat tahun 2001, ditujukan untuk seorang teman yang bingung karena kesibukan kerja membuatnya tidak bisa ‘pelayanan’.

Saat-saat ini kita melihat bagaimana ‘pelayanan’ berkembang menjadi suatu beban/kuk palsu, dan bukan menjadi kesukaan sejati orang kristen. ‘Pelayanan’ ber-evolusi menjadi sebuah legalisme rohani baru yang justru mengikat dan memperdaya anak-anak Tuhan sehingga banyak anak-anak Tuhan tidak mencapai potensi rohani maksimal. Bahkan boleh dikatakan, ‘pelayanan’ menjadi -seolah-olah- agama baru dalam kekristenan.

Tulisan berikut hanya memiliki satu tujuan, yaitu supaya kita memiliki pondasi atau dasar yang kuat yang berkenaan dengan thema ‘pelayanan’ ini. Saya berharap agar kita semua merenungkan dan menguji tulisan berikut ini. Segala masukan dan perbaikan tentu sangat diharapkan. Tuhan Yesus memberkati.

Hal-hal Mengenai Pelayanan

Banyak orang kristen tidak bingung jika mendengar kata ‘pelayanan’. Kata ‘pelayanan’ merupakan jargon yang paling sering kita dengar dalam kehidupan kekristenan. Kata-kata ‘pelayanan’ sangat tidak asing dalam kekristenan. Bahkan kekristenan sangat identik dengan ‘pelayanan’. Dalam hal ‘pelayanan’lah kekristenan seringkali bisa dibedakan dengan agama lain. Orang kristen sering menyebut dirinya sebagai pelayan Tuhan. Jika kita baru bertobat, maka seringkali kita dianjurkan untuk terlibat dalam pelayanan. Jika seseorang berjemaat dalam suatu gereja lokal, maka seringkali kita mendengar pernyataan-pernyataan seperti ini :
”Ayo terlibat dalam pelayanan Pak/Bu!”,
“Kapan mau pelayanan nih Pak/Bu!”,
“Bapak/Ibu sudah terlibat pelayanan belum?”,
“Bapak/Ibu mau melayani di mana nih?”,
“Bapak/Ibu tertarik dalam pelayanan apa nih?”,
“Gereja kami memiliki banyak departemen, Bapak/Ibu mau melayani di mana?”,
“Apakah Bapak/Ibu sudah mengikuti sekolah pelayanan?”,
“Sebelumnya Bapak/Ibu melayani di mana?”,
“Suara Bapak/Ibu bagus sekali, apakah Bapak/Ibu mau melayani di departemen musik?”,
“Sepertinya Bapak/Ibu punya talenta dalam bermusik, ayo dong terlibat di sini Pak/Bu!”
“Pelayanan apa kamu sekarang?”,
“Pak/Bu, saya mau ijin tidak masuk kerja besok, karena saya pelayanan!”,
“Pak/Bu, saya besok minta ijin terlambat masuk, karena ada pertemuan doa!”,
“Pak/Bu, saya besok minta ijin pulang jam 2 siang, karena ada pertemuan pengurus!”,
“Wah, pelayanan kamu sekarang sudah berkembang yah!”,
“Besok kami akan melayani di Medan, lusa kami akan melayani di Menado.”,
“Yah, beginilah memang kalau kita mau menjadi hamba Tuhan.”,
“Puji Tuhan, sekarang saya sudah jadi pelayan Tuhan.”,
“Dulu saya kerja di sekuler, puji Tuhan sekarang saya sudah jadi hamba Tuhan.”,
“Apa saudara sebagai artis tidak malu jika sekarang aktif pelayanan?”
“Apa kata teman-teman anda, jika ternyata sekarang, selain artis, anda juga ikut pelayanan?”,
“Sebisa mungkin pelayanan kamu jangan mengganggu kuliah kamu!”,
“Buat apa pelayanan terus kalau keluarga jadi berantakan!”,
“Buat apa pelayanan kalau pekerjaan kamu jadi tidak beres!”,
“Buat apa sih banyak-banyak ambil pelayanan, sebenarnya kamu terbebannya di mana?”,
“Maaf Pak/Bu, sekarang saya sangat sibuk, oleh karena itu saya mau off dulu dari pelayanan.”,
“Maaf Pak/Bu, saya mau keluar dari pelayanan dulu, saya lagi sibuk dengan pekerjaan.”,
“Wah indah sekali yah jika kita bisa jadi hamba Tuhan.”,
“Puji Tuhan, sekarang kamu sudah menjadi hamba Tuhan.”,
Dst…

Jadi, orang kristen tidak asing mendengar kata ‘pelayanan’. Ketidakbingungan mendengar kata ‘pelayanan’ seperti di atas inilah yang justru membahayakan. Ketika kita sudah biasa alias tidak bingung mendengar kata ‘pelayanan’ maka disinilah jebakan iblis memainkan peranannya. Kita sudah menjadi sangat biasa dengan kata-kata ini. Tapi, jika kita menerima sesuatu tanpa memiliki dasar Firman Tuhan yang kuat, maka kita bisa salah tanpa menyadari apa kesalahan kita! Inilah bahaya terbesarnya, yaitu kesalahan yang kita tidak sadari

‘Pelayanan’ merupakan kata yang ter-erosi dari prinsip kebenaran Firman Tuhan, tapi sekaligus termasuk kata-kata yang paling sering diucapkan. ‘Pelayanan’ juga menjadi salah satu senjata iblis untuk melumpuhkan kekristenan tanpa disadari oleh banyak orang kristen. Tidak hanya merusak individu orang kristen tapi juga dampak ikutannya/efek sampingnya. Oleh karena itu, setiap pemimpin kristen perlu memiliki kesadaran akan hal ini.

Kekristenan yang berbahaya, yaitu ‘kekristenan 99%’ atau ‘kekristenan setengah kebenaran’. Legalisme dan roh agamawi menggantikan prinsip-prinsip rohani kekristenan yang sejati. Legalisme berarti perkara yang tidak penting menjadi lebih penting bahkan dapat menggantikan perkara-perkara yang penting itu sendiri. Legalisme adalah kerohanian yang palsu. Seringkali alat yang dipakai ialah tuduhan atau intimidasi.

Contohnya : Perpuluhan. Beberapa anak-anak Tuhan yang masih belum dewasa seringkali memberikan perpuluhan supaya tidak ada tuduhan telah mencuri uangnya Tuhan, dan setelah memberi perpuluhan barulah jiwanya menjadi tenang. Yang dicari, ialah ketenangan jiwa, bukan memberikan hidup bagi Tuhan, sehingga seringkali punya konsep bahwa setelah memberi perpuluhan, maka sembilan puluh persennya adalah hak dia. Aktivitas gerejawi menggantikan penyerahan hidup yang mutlak kepada Tuhan. Organisasi gereja lebih mementingkan denominasi sendiri dari pada tubuh Kristus. Banyak anak-anak Tuhan dilecehkan secara rohani, mereka mengalami penindasan dan penganiayaan rohani, tanpa disadari. Mereka memberi persembahan materi tanpa memiliki dasar rohani yang kokoh, sehingga hati nurani mereka tersiksa (atau bahasa lainnya adalah : dilecehkan secara spiritual). Aktivitas menggantikan hakikat pelayanan yang sebenarnya. Sehingga jika kurang beraktivitas, berarti kurang pelayanan. Secara badani mere! ka aktif di organisasi gereja, tapi secara roh mereka tidak mengalami terobosan, mereka tidak berkembang mencapai kesempurnaan Kristus. Hidup mereka terbelenggu oleh legalisme yang – parahnya – mereka anggap suatu kebenaran.

Mencabut akar kepalsuan ini sangat luar biasa sukar, walaupun tidak mustahil. Mengapa luar biasa sukar? Karena untuk menghancurkan pondasi yang salah harus merobohkan seluruh bangunan di atasnya. Jadi, hal ini bisa menimbulkan kegoncangan. Seperti lalang dan gandum yang akan selalu bertumbuh bersama-sama, maka penyesatan dan kebenaran akan selalu beriringan.

Ada satu perbedaan penting mengapa lalang selalu lebih banyak dari gandum. Lalang berkembang biak melalui akarnya, sedangkan gandum berkembang biak melalui biji! Jika akar lalang ini tidak tercabut dengan baik maka dia akan mudah memperbanyak diri secara terus menerus. Lalang memperbanyak diri secara tidak kelihatan, dia menjalar di bawah tanah sehingga tidak terlihat dengan mata telanjang. Akar lalang tidak menjalar di atas tanah sehingga keliatan oleh orang (begitulah cara kerja penyesatan, lewat jalur yang tidak terlihat, samar dan tidak jelas). Sedangkan gandum harus di tanam lewat biji, sehingga jika tidak ada biji dia tidak bisa memperbanyak diri, karena gandum tidak memperbanyak diri lewat akar. Perbedaan lainnya adalah lalang tidak menghasilkan buah, hanya gandum yang menghasilkan buah dan berguna. Buah rohani inilah yang menjadi pertanggungjawaban orang kristen pada akhir jaman. Lalang dan gandum memang memiliki penampakan yang boleh dikata hampir mirip, dan hanya T! uhanlah yang sanggup memisahkan kedua jenis keadaan ini pada akhir jaman.

Tuhan Yesus sangat peka akan kejahatan legalisme. Sama seperti orang Farisi dan ahli Taurat yang Tuhan Yesus tegor, karena mereka menyeberang lautan untuk mempertobatkan satu orang tapi menjadikannya lebih jahat dari semula, begitu pula halnya dengan kekristenan setengah benar ini. Jika kita ingin melaksanakan amanat agung Tuhan tapi prinsip kita tentang pelayanan tidak memiliki dasar yang kuat, maka kita hanya akan menjadikan orang-orang petobat baru menjadi pembawa dan penyebar legalisme atau kekristenan yang palsu!

Pemimpin rohani perlu menguasai diri dan hati-hati dalam pengajarannya. Ia harus memiliki dasar kekristenan yang kokoh, karena mereka akan selalu ditempatkan di depan untuk melindungi orang-orang yang telah Tuhan percayakan untuk dipimpin. Ia harus memiliki kerendahan hati untuk mau terus belajar dan memiliki penundukan diri atas otoritas Roh Kudus. Oleh karena itu, pemimpin rohani perlu didukung sebaik-baiknya. Mereka perlu didoakan. Para pemimpin rohani tetap manusia biasa, mereka bisa salah, bisa stress, mengalami tekanan, mereka juga perlu refreshing, dsb.

Pemisahan Kerja Sekuler (Parttime) dan Fulltimer dalam Pelayanan

Banyak orang yang bingung tentang pelayanan. Bahkan sampai ada istilah fulltime dan sekuler. Kesannya orang yang bekerja di bidang sekuler tidak rohani, sedangkan yang fulltime kesannya lebih rohani dari yang sekuler. Kesannya yang fulltime lebih maju dalam perkara-perkara rohani dibandingkan dengan yang kerja di sekuler.

Kalau kita bandingkan pekerjaan atau aktivitas pendeta (mewakili golongan fulltimer) dengan pengusaha (mewakili golongan : karyawan, bisnisman, usahawan), maka dalam agenda kerja mereka akan nampak dua perbedaan yang boleh dikata sangat bertolak belakang.

Kita bisa melihat, mana yang seolah-olah ‘melayani Tuhan’ … tentu saja pendeta (atau fulltimer) yang lebih banyak beraktivitas gerejani. Pagi ikut menara doa, siang membuat / mengatur jadwal pelayanan, lalu rapat pelayanan. Mungkin bikin acara KKR, rapat pelayanan departemen yang baru dibentuk, rapat retreat, bikin catatan khotbah, bikin surat keluar untuk mengundang pembicara, negosiasi masalah tempat untuk pelayanan, telepon pembicara. Latihan drama pementasan, latihan tambourine, atau masuk tim dekorasi, singer, Worship Leader, sound system, dsb. Bikin struktur kepengurusan, memotivasi pelayan-pelayan Tuhan, ikut pertemuan doa, kubu doa, rumah doa, perisai doa, doa berantai, doa puasa, doa keliling, doa untuk kota, doa untuk bangsa, dsb. Pokoknya kegiatan-kegiatan ‘rohani’. Pada malam hari, pendeta itu tidur dengan hati penuh ucapan syukur kepada Tuhan, karena satu hari sudah dilalui dengan ‘melayani Tuhan’, seolah-olah jerih payah dalam hidupnya tidak sia-s! ia, karena dia menggunakan waktu yang ada untuk ‘melayani’ Tuhan.

Bagaimana dengan pengusaha atau karyawan?

Mungkin pengusaha itu pada malam hari tidak bisa tidur. Malam hari itu ia merenung … kok rasanya tidak ada aktivitas yang rohani. Setiap hari bergulat dengan angka-angka, kerja dari pagi sampai tengah malam, harus marah sama karyawan, bahkan sampai membatalkan pertemuan doa dan pertemuan pengurus, lalu karena sering pulang malam dia tidak sempat ikut menara doa, atau kalau bisa menara doa maka malam itu ia tidak bisa bermain dan bercengkrama dengan anak dan istri. Setiap hari, kerjanya adalah : bagaimana caranya memutar uang, bagaimana meningkatkan kinerja, bagaimana mencari order atau memperbesar omzet, dsb. Akhirnya saat malam hari tiba, ia merenung, merasa tidak rohani, merasa bersalah, akibatnya ‘minder rohani’, tertuduh, terintimidasi, seolah-olah ia merasa bahwa ia melayani dua tuan. Hati kecilnya atau hati nuraninya terganggu, gelisah, tidak tenang, tidak damai sejahtera. Disinilah legalisme mulai bekerja.

Ternyata itu hanya ‘seolah-olah’. Itu bukanlah hal sesungguhnya. Di dalam Firman Tuhan, ternyata tidak pernah ada istilah sekuler dan fulltime. Tapi saat-saat ini, pemisahan kata-kata tersebut semakin jelas. Inilah ‘kekristenan setengah benar’ yang berbahaya itu! Abraham adalah seorang pengusaha yang kaya raya seperti halnya Ayub yang juga pengusaha. Daniel adalah seorang negarawan di kabinetnya Nebukadnezar, sama seperti Yusuf yang bekerja untuk Firaun, raja yang kafir. Alkitab yang kita miliki, ditulis oleh 36 orang yang mempunyai posisi / pekerjaan : raja, gembala, nabi, pengusaha, perdana menteri, hakim, nelayan, dokter, petugas pajak, ahli taurat, narapidana, dsb. Di dalam Firman Tuhan hanya ada istilah ‘Melayani’ yang merujuk pada ‘Melayani Tuhan’ dalam hidup orang kristen. Bukan sekuler ataupun fulltimer.

Jadi pemisahan istilah fulltime dengan sekuler sebenarnya berbahaya! Berbahaya bagi orang yang baru bertobat, berbahaya bagi orang yang belum dewasa rohani, berbahaya bagi orang yang masih lemah imannya. Karena sebenarnya, baik fulltime atau sekuler, kita seharusnya, melakukan semua pekerjaan kita untuk kemuliaan nama Tuhan.

Dalam 1 Kor 10 : 31 Firman Tuhan berbunyi : “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Tuhan.” Dalam Efesus 6 : 5 - 7 : ”Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia.”

Saya sangat tidak setuju jika orang kristen selalu minta ijin dari pekerjaannya karena ada urusan ‘pelayanan’ gereja. Bagi saya hal itu tidaklah memuliakan Tuhan. Karena dengan kita bekerja sebaik-baiknya sebagai karyawan, sebenarnya kita melayani Tuhan. Jika kita membuat atasan kita senang karena kita memiliki kinerja yang sangat baik, maka boleh dikata kita telah memuliakan Tuhan dan kita telah melayani Tuhan. Bukan berarti tidak boleh ijin, tapi menurut saya, tanggung jawab seorang karyawan adalah untuk bekerja sebaik-baiknya atas pekerjaannya, dan harus bertanggungjawab atas pekerjaan yang sudah dipercayakan kepadanya.

Tuhan tidak menuntut posisi fulltime atau sekuler, malah dari ayat diatas tadi, Tuhan berbicara untuk kaum pengusaha dan karyawan. Bagi Tuhan yang terpenting adalah ketaatan kepada pribadi Kristus, apapun posisi pekerjaan kita saat ini, entah itu sebagai pemilik usaha, karyawan, pelajar, mahasiswa, dsb.

Yang Tuhan tuntut dari kita adalah Roma 12 : 1, yaitu supaya kita mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah, itu adalah ibadah (pelayanan) kita yang sejati. INILAH YANG SEHARUSNYA MENJADI DASAR PELAYANAN KITA.

Fulltime banyak juga yang tidak rohani, begitu juga sebaliknya orang kerja sekuler pun ada yang rohani. Memang ada fulltime yang rohani dan banyak juga parttime yang tidak rohani. Jadi baik rohani atau tidak rohani, itu bergantung kepada keputusan kita masing-masing, bukan masalah posisi fulltime atau sekuler. Tapi masalahnya adalah : mau sungguh-sungguh ikut Tuhan atau tidak?

Paulus, ternyata adalah seorang pengusaha juga, ia seorang pembuat kemah. Tapi Petrus kemungkinan besar menjalani hidup sebagai fulltimer. Yang selalu menjadi masalah bagi mereka, adalah bahwa hidup mereka adalah untuk melayani Tuhan, dalam posisinya sebagai hamba Tuhan. Apa yang mereka coba hasilkan? Yaitu mereka mencoba menghasilkan buah. Dan dasar pelayanan mereka adalah mereka mempersembahkan hidup mereka kepada Tuhan sebagai persembahan yang hidup, kudus dan yang berkenan kepada Allah.

Tuhan Yesus menyatakan dalam surat Matius 24 : 40 - 41, bahwa saat kedatanganNya yang kedua, umatNya akan tetap dalam keadaan melakukan pekerjaan : ‘Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan; kalau ada dua orang perempuan sedang memutar batu kilangan, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.’

Dua orang di ladang dan dua orang memutar batu kilangan adalah gambaran orang yang bekerja. Yang satu sebagai petani (seperti gambaran karyawan di jaman ini) dan yang lainnya membuat makanan (juga orang yang bekerja). Peristiwa yang menceritakan saat kedatangan Tuhan ini ternyata digambarkan oleh peristiwa yang menunjukkan, bahwa bekerja itu tidak salah.

Apa itu Melayani Tuhan?

Dasarnya adalah Roma 12 : 1 “Karena itu saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan berkenan kepada Allah; itu adalah ibadahmu yang sejati.”

Ini yang seharusnya menjadi dasar bagi kita untuk melayani Tuhan, bukan skill, kepandaian, bahkan bukan talenta, atau bakat, atau karunia rohani yang kita miliki. Tapi, penyerahan hidup yang total kepada Tuhan, sehingga – seperti Paulus – kita menjadi tawanan Roh. Hidup kita bukannya kita lagi, melainkan Kristus yang hidup didalam kita.

Konsep kita tentang pelayanan seringkali terbalik sama seperti pandangan kita terhadap konsep-konsep rohani yang lain. Konsep dunia sangat berbeda dengan konsep sorga. Kesannya pelayanan iu hanya sebatas urusan-urusan di gereja saja. Apa itu salah? Tidak juga! Hal-hal yang kita lakukan di gereja, memang pelayanan juga. Tapi itu masih sempit, karena cakupan pelayanan itu sangat luas. Pelayanan menuntut komitmen total (berarti termasuk yang terkecil).! Yaitu : Hidup kita! Tidak bisa hanya rohani di gereja sedangkan di rumah kurang rohani. Jika ada aspek yang belum kita persembahkan kepada Tuhan, maka berarti kita belum pelayanan! Pelayanan berarti mempersembahkan seluruh hidup kita ke tangan Tuhan.
Pandangan yang salah tentang pelayanan menyebabkan hati nurani orang kristen yang masih baru atau tidak mengerti menjadi tersiksa. Mereka beranggapan bahwa mereka kurang rohani atau tidak full dalam melayani Tuhan. Sepertinya mereka belum melayani Tuhan secara kapasitas yang penuh. Rasanya kalau ingin full memberi diri dalam melayani maka harus fulltimer. Padahal, pelayanan yang sejati adalah mempersembahkan hidup kita sesuai dengan Roma 12 : 1.

Saya yakin sekali banyak hamba Tuhan yang sungguh-sungguh tapi mereka masih bekerja. Malah kesannya mereka lebih ‘fulltime’ daripada orang ‘fulltime’. Mereka lebih banyak bekerja untuk ‘pekerjaan pelayanan’ daripada fulltime-fulltime lainnya. Tapi tentu saja bukan aktivitaslah yang menyebabkan seseorang itu dikatakan sudah full melayani atau belum, karena yang penting ialah penyerahan hidup kita kepada Tuhan kita.

Kalau boleh, saya ingin membagi pelayanan dalam dua bagian. Pertama, pelayanan langsung, dan pelayanan tidak langsung. Dan yang kedua adalah ada dua penerimaan dari Tuhan mengenai pelayanan, yaitu pelayanan yang berkenan dan pelayanan yang tidak berkenan.

Pelayanan tidak langsung, berarti pelayanan itu tidak secara langsung melayani pribadi tuannya. Sedangkan pelayanan langsung, adalah pelayanan yang melayani pribadi tuannya. Jadi yang mana yang lebih baik. Dua-duanya baik dan perlu. Kedua-duanya tidak bisa dan tidak boleh berdiri sendiri. Yang perlu kita perhatikan adalah pelayanan yang berkenan dan yang tidak berkenan dihadapan Tuhan (sebenarnya pelayanan yang tidak berkenan adalah bukan pelayanan).

Di Matius 25 : 31 - 46, kita akan melihat yang namanya pelayanan yang berkenan dan tidak berkenan ini. Ayat ini berkata :

“Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaanNya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam diatas tahta kemuliaanNya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan dihadapanNya dan Ia akan memisahkan mereka seorang daripada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba disebelah kananNya dan kambing-kambing disebelah kiriNya. Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang disebelah kananNya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapaku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku didalam penjara kamu mengunjungi Aku. Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya : Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau ha! us dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Dan Raja itu akan menjawab mereka : Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiriNya : Enyahlah dari hadapanKu, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah kedalam api yang kekal yang telah sedia untuk iblis dan malaikat-malaikatnya. Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku. Lalu merekapun akan menjawab Dia, katanya : Tuhan, bi! lamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai o! rang asi ng, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? Maka Ia akan menjawab mereka : Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.”

Ada beberapa poin dalam perikop ini. Yang jelas, Tuhan tidak menyingkapkan pelayananan seseorang itu berkenan atau tidak berkenan selama Tuhan belum datang untuk yang kedua kali. Sangat mengejutkan sekali, orang yang telah berjerih lelah untuk bekerja melayani Tuhan, ternyata pelayanannya tidak berkenan. Bagian untuk orang yang pelayanannya tidak berkenan ini adalah siksaan yang kekal.

Orang-orang yang pelayanannya tidak berkenan ini, di mata Tuhan adalah orang-orang yang terkutuk! Apa itu terkutuk? Dalam ulangan 11 : 28, Ulangan 28 : 15, dan Imamat 26 : 14 - 45, orang terkutuk ialah orang yang tidak mendengar dan tidak melakukan perintah Tuhan. Dalam Ulangan 27 : 15 - 26, ada 12 jenis orang yang termasuk orang yang terkutuk (membuat patung, orang yg memandang rendah orangtuanya, yang menggeser batas tanah orang lain, yang membawa seorang buta ke jalan yang sesat, yang memperkosa hak orang asing - anak yatim - janda, yang tidur dengan istri ayahnya, yang tidur dengan binatang, yang tidur dengan saudara perempuan - anak ayah - anak ibu, yang tidur dengan mertuanya, membunuh sesamanya dengan sembunyi, menerima suap untuk membunuh orang yang tidak bersalah, tidak menepati hukum taurat dengan perbuatan).

Kalau demikian pelayanan seperti apa yang dilakukan oleh kristen kambing? Jawabannya adalah bukan jenis pelayanannya tapi lebih bergantung pada masalah hati. Jadi yang dilayaninya adalah egonya sendiri, kedagingannya sendiri dan hawa nafsunya sendiri. Ia melayani bukan untuk Tuhannya, tapi untuk mengambil keuntungan dari pelayanan untuk dirinya sendiri.Seperti Yudas Iskariot, ia menjual Tuhannya, karena sesungguhnya hawa nafsunya sendiri yang lebih penting. Bahkan, fakta sebenarnya adalah kristen kambing bukanlah anak Tuhan, bukan ahli waris kerajaan Sorga, karena dia tidak menjadikan Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan juruselamatnya. Adalah mudah untuk ‘melayani’ pekerjaan-pekerjaan yang disorot oleh banyak orang. Efeknya banyak, baik terkenal, ataupun memperoleh banyak uang. Tapi jenis pelayanan yang tidak tersorot ini yang seringkali menyingkapkan tabir sesungguhnya seseorang itu. Tuhan tidak memakai pelayanan yang spektakuler untuk mengetahui kristen kambing, tapi Tuhan k! ita menguji hati. Karena barangsiapa benar dalam perkara kecil, ia benar juga dalam perkara besar; barangsiapa setia dalam perkara kecil, ia juga setia dalam perkara besar.

Kristen kambing adalah kristen yang tragis. Dalam Matius 25 ini, sebenarnya kambing dan domba ini ada dalam satu penggembalaan, berarti memiliki gembala yang sama dan makan rumput dalam padang penggembalaan yang sama pula. Arti lainnya: mereka sama-sama dalam gereja yang sama, memakan makanan rohani yang sama, bahkan mungkin pelayanan sama-sama. Tapi ternyata ada perbedaan mendasar : yang satu kambing sedangkan yang satu lagi ialah domba. Kristen kambing itu terkutuk, dan upahnya adalah siksaan yang kekal.

Secara sifat, antara kambing dan domba ternyata ada perbedaan yang cukup mendasar. Berikut adalah sifat-sifat kambing dan domba yang saya kumpulkan dari bertanya kepada orang yang pernah memelihara kambing dan domba, dan juga dari pedagang daging kambing dan domba. Sifat yang pertama ialah: kambing memiliki daya navigasi yang cukup baik, karena itu jika dilepaskan dari kandang dan main-main keluar, ia bisa kembali lagi, sehingga kadang-kadang kambing dilepas begitu saja untuk mencari makan sendiri (tentu saja setelah diberi tanda di badannya, supaya orang-orang tahu siapa pemiliknya) sedangkan domba mudah sekali tersasar, sehingga mesti dituntun untuk mencari makan dan juga untuk pulang kembali, karena itu bisa dikatakan domba binatang yang bodoh, sehingga perlu ada yang menjaga. Yang kedua : Kambing tidak boleh kekurangan makan, karena kalau kurang makan ia berisik dan mengembek-ngembek terus, sedangkan domba akan diam saja walaupun ia kelaparan dan tidak dikasih makan. Yan! g ketiga, jika kambing digigit oleh anjing, maka ia akan berteriak atau mengembek-ngembek keras, sedangkan domba, walaupun ia kesakitan, ternyata ia tidak berteriak atau mengembek-ngembek walaupun berusaha menyelamatkan diri, sehingga seorang gembala memiliki peranan penting dalam menjaga domba. Sifat binatang kambing dan domba ini ada efeknya juga dalam dunia kriminal. Dalam dunia curi-mencuri hewan ternak, ternyata pencuri ternak lebih memilih mencuri domba daripada mencuri kambing, berkenaan dengan sifat hewan ini. Bahkan setelah saya bertanya kepada penjual daging kambing dan domba, perbedaan keduanya juga cukup mencolok, ternyata daging kambing dapat meningkatkan tekanan darah sehingga berbahaya bagi penderita tekanan darah tinggi, namun tidak demikian halnya dengan daging domba, karena daging domba katanya tidak menyebabkan tekanan darah tinggi. Benarkah? Untuk hal ini mungkin perlu diuji kebenarannya.

Bagaimana secara ilmiah? Ternyata walaupun kambing dan domba masuk dalam keluarga Bovidae (yang memamah biak dan berkaki empat, seperti : sapi, kerbau, kijang, bison, rusa, dsb), ternyata kambing dan domba tidaklah dalam kelompok genus yang sama. Domba termasuk genus ovis, sedangkan kambing termasuk dalam genus capra. Berarti pada dasarnya kedua ternak ini berbeda, karena memiliki genus yang berbeda. Itu terlihat dari jumlah kromosomnya, kromosom domba adalah 54 sedangkan kambing 60, sehingga kambing dan domba tidak mungkin dikawinsilangkan! Jadi walaupun bentuknya hampir mirip ternyata pada dasarnya mereka hewan yang berbeda, yang mirip hanya suaranya saja.

Hanya Tuhan yang bisa membedakan suara kristen domba dan kristen kambing. Karena pada akhir jaman, walaupun orang banyak berseru : “Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi namaMu, dan mengusir setan demi namaMu, dan mengadakan banyak mujizat demi namaMu juga?” Tuhan akan berterusterang kepada mereka (kristen kambing) bahwa Dia tidak mengenal mereka dan akan mengenyahkan mereka dari hadapanNya.

Bernubuat, mengusir setan dan melakukan mujizat adalah salah satu dari sekian banyak karunia pelayanan. Tapi karunia ternyata tidak menyelamatkan. Karunia-karunia di atas seringkali dianggap sebagai ciri orang ‘rohani’. Orang kristen yang bisa melakukan minimal satu dari tiga pelayanan diatas, dipastikan ‘laris manis’ dan memiliki ‘daya jual’ tinggi. Bayangkan saja, setan ditengking dalam nama Yesus, dan setannya bener-bener kabur. Kaki panjang sebelah didoakan jadi sama rata, orang mati jadi bangkit, orang yang sakit jadi sembuh, rahim mandul didoakan lalu jadi subur.

Bukan berarti pelayanan nubuat, mengusir setan dan mujizat itu salah. Tuhan tentu saja memakai karunia pelayanan ini untuk membangun gerejaNya. Tindakan kita seharusnya sebagai orang kristen adalah menguji setiap roh, menguji setiap pengajaran, menjaga diri kita dari berbagai macam pengajaran sesat. Kita jangan terpaku pada hal-hal luaran saja. Jangan kita melupakan hal terpenting, bahwa kita dipanggil menjadi ahli warisNya adalah dengan tujuan supaya kita menjadi sempurna seperti Kristus yang juga sempurna. Tujuan kita diselamatkan adalah supaya kita melaksanakan amanat agung Tuhan. Dan pelayanan sejati ialah jika kita menyerahkan seluruh hidup kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah, apapun posisi kita saat ini, apakah kita karyawan, usahawan, kerja di gereja, dsb. Pelayanan kita bukan bergantung pada pekerjaan kita. Pelayanan kita adalah masalah penyerahan hidup kita kepada Tuhan, apakah kita mau untuk menjadi murid yaitu jika kita m! emikul salib, menyangkal diri kita dan mengikut Yesus. Itulah PELAYANAN SEJATI.


Bagaimanakah melayani itu?

Kita sering diputarbalikkan bahwa pelayanan itu mesti aktif di organisasi gereja. Kesannya kalau tidak aktif di organisasi gereja maka belum pelayanan. Maaf. Ini adalah senjata paling ampuh yang dipakai iblis untuk menghancurkan rohani anak-anak Tuhan. Ini adalah senjata paling modern akhir jaman yang iblis pakai. Iblis justru senang jika kita ‘sangat super sibuk’ bergereja. Karena kesibukkan itu adalah salah satu cara untuk menghancurkan keluarga-keluarga kristen. Iblis tahu, bahwa jika dia bisa menghancurkan keluarga kristen maka daya hancurnya akan besar sekali. Keluarga-keluarga kristen yang kuatlah yang bisa melawan iblis pada saat akhir jaman nanti. Iblis mengetahui itu, maka dia berusaha menghancurkan hal-hal yang bisa membuatnya hancur.

Banyak orang terluka karena memaksakan diri untuk terlibat dalam organisasi pelayanan. Hati nurani menjadi tersiksa jika belum aktif pelayanan. Seolah-olah belum memberikan yang terbaik untuk Tuhan. Terlalu besar harga yang harus dibayar untuk menenangkan hati nurani, bayarannya adalah keluarga.

Banyak pasangan suami istri yang bekerja dari pagi sampai sore, dari senin sampai sabtu, akan memiliki waktu yang sangat sedikit untuk buah hati mereka. Banyaknya program dan acara yang menyedot waktu para pelayan-pelayan paruh waktu, entah itu rapat, gladi resik, pertemuan doa, pertemuan pembinaan, dsb, yang akhirnya mengorbankan waktu untuk keluarga. Terlalu mahal dan tidak layak jika harga untuk waktu yang kita berikan untuk pelayanan adalah mengorbankan keluarga kita. Itu bukanlah pelayanan yang berkenan jika karena kesibukan pelayanan, kita menghancurkan keluarga kita sendiri.

Jadi, apa tidak usah aktif pelayanan di organisasi gereja dan apa tidak usah ada departemen-departemen pelayanan? Tentu saja tidak. Bukan tidak boleh pelayanan di organisasi gereja. Pelayanan di organisasi gereja juga sangat penting dan perlu. Yang tidak boleh adalah jika untuk pelayanan di organisasi gereja, kita sampai mengorbankan keluarga. Dan organisasi gereja mesti mengerti bahwa membangun keluarga kristen yang kuat atau komunitas rohani yang kuat seharusnya menjadi prioritas utama.

Orang-orang yang terlalu hiperaktif dengan kegiatan di organisasi gereja seringkali membela hati nurani mereka dengan berkata bahwa yang penting adalah kualitas waktu mereka dengan anak, kuantitas itu nomor dua. Saya tidak setuju. Saya tidak setuju jika kualitas mengalahkan kuantitas. Yang benar adalah kualitas dan kuantitas harus berjalan bersamaan.

Ilustrasinya sebagai berikut (bukan cerita sebenarnya) : Pada suatu hari, saya olahraga di GOR, di jalan Pajajaran - Bandung. saya ambil tempat itu karena sehabis olahraga, banyak makanan dan jus segar untuk memulihkan stamina yang terkuras sehabis olahraga. Setelah lari keliling lapangan 20 kali non stop saya tentu saja lelah dan memutuskan untuk selesai. Di tempat saya jogging, ada kios jus buah yang baru buka hari itu, katanya sangat terkenal dan di Jakarta orang sampai antre panjang untuk jus buah buatan mereka. Begitu iklannya. Karena tertarik, saya pun antri. Begitu giliran saya sampai, saya memesan jus stroberi. Harganya memang premium, sekitar Rp 45.000. Tapi alangkah kagetnya saya karena saya hanya diberi setengah cangkir kecil. Tentu saja saya protes berat. Tapi sang manajer jus buah itu membela diri. Kata dia, buah stroberi yang dipakai adalah stroberi premium pilihan yang diorder fresh hari itu juga untuk produksi satu hari. Ia menunjukkan buah stoberi utuh yang ! tersaji, dan memang benar sekali, seumur-umur saya belum pernah melihat buat stroberi sebagus dan sebesar itu. Kreamer dan gula yang dipakai juga adalah gula terbaik di kelasnya, kata sang manajer. Air yang dipakai pun adalah air dew mountain, air embun yang tentu saja harganya mahal, yang diolah lagi dengan alat khusus menjadi air heksagonal, dsb. Ia berkata bahwa kualitas adalah segalanya. Buat kita yang logis, tentu saja semua alasan itu adalah omong kosong. Tapi begitu berkenaan dengan perkara ‘rohani’ segala sesuatunya jadi diputar balik.

Hati nurani yang tersiksa berkenaan dengan ‘pelayanan’ adalah karena konsep pelayanan yang salah yang sudah kita miliki akibat pengajaran yang dangkal dan tidak mendasar.

Konsep pelayanan yang dicatat dalam Matius 25 : 31 - 46 sangat menyentuh hati. Ternyata pelayanan tidak serumit yang kita bayangkan. Tidak rumit bukan berarti bahwa pelayanan itu sesuatu yang gampang. Dalam Matius 25 : 31 - 46 kita bisa melayani Tuhan kita, kita bisa memberi Dia makan, memberi Dia minum, bisa memberi Dia pakaian, bisa memberi Dia tumpangan, bisa merawat Tuhan dan mengunjungi Tuhan. Apa yang bisa membuat Tuhan mengalami hal-hal itu? Yaitu lewat saudara-saudara kita yang sedang mengalami kelaparan, kehausan, kedinginan, kesendirian, kesakitan. Tuhan sendiri yang kita layani secara langsung saat kita melayani saudara-saudara kita yang mengalami kesulitan.

Ingin melihat wajah Tuhan? Lihatlah kepada saudara-saudara kita yang mengalami penderitaan. Ingin melihat tubuh Tuhan? Lihatlah kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan perawatan. Tuhan sendiri yang kita layani saat kita melayani saudara-saudara kita yang menderita. Inilah yang namanya pelayanan langsung. Pelayanan yang memperhatikan jiwa-jiwa. Tidak selalu penderitaan seseorang itu akibat dosa, tetapi bisa juga karena Tuhan sedang menguji atau mendidik orang tersebut, bisa juga karena Tuhan rindu untuk memberikan kesempatan kepada kita untuk melayani diriNya secara pribadi melalui orang tersebut! Dari sinilah perbedaan antara kristen kambing dan kristen domba!

Tentu saja pelayanan langsung ini tidak terkenal. Pelayanan yang bisa dilihat banyak orang memang gemerlap bahkan bisa dibilang ‘basah’. Sedangkan pelayanan seperti Matius 25 : 31 - 46 tidak fantastis, tidak bombastis, tidak spektakuler, karena tidak membutuhkan keahlian berkhotbah. Tidak butuh pujian manusia, tidak butuh struktur organisasi, tidak butuh turunnya dana anggaran, tidak butuh dekorasi, tidak butuh sound system, tidak butuh mimbar, dsb. Apa yang dibutuhkan dari pelayanan yang benar? Hati yang mengasihi jiwa-jiwa. Inilah yang menjadi landasannya. Siapakah jiwa-jiwa? Pasangan hidup kita, anak kita, orangtua kita, atasan kita, karyawan kita, rekan kantor, rekan pelayanan, kerabat, dsb.

Sekarang ini ukuran pelayanan seringkali adalah : pujian, tepuk tangan, besarnya gedung, banyaknya kehadiran jemaat, uang yang masuk, undangan khotbah, jabatan yang dipegang, dsb. Ini semua semu belaka! Ini adalah perkara luaran, bukan perkara yang mendasar. Dan banyak orang mengejar hal-hal seperti itu. Bagi orang-orang yang mengejar perkara luaran ini, visi mereka seringkali untuk memuaskan ego mereka sendiri. Perkara ingin menjadi terkenal menjadi sesuatu yang dikejar. Jadi apakah punya jemaat besar salah? Sama sekali tidak salah! Kita harus terus berusaha melakukan yang terbaik bagi Tuhan! Kita harus memuridkan orang-orang yang telah Tuhan percayakan dan membantu mereka –sesuai kasih karunia- untuk bertumbuh dewasa dan menjadi pemurid. Itu adalah anugerah yang luarbiasa. Berarti Tuhan telah memberikan berkat luarbiasa.

Perkara ingin menjadi terkenal tidak boleh menjadi tujuan kita dalam pelayanan, karena kita sangat tidak layak untuk menerima kemuliaan untuk diri kita sendiri. Gereja Tuhan harus memiliki roh seperti Yohanes Pembaptis, bahwa Tuhan kita harus semakin besar, dan kita harus menjadi semakin kecil. Kita bukan mencari kemuliaan sendiri, kita harus memiliki tujuan untuk memuliakan Tuhan. Dalam I Korintus 10 : 31, segala sesuatu yang kita lakukan, harus kita lakukan untuk kemuliaan Tuhan. Menjadi terkenal dalam pelayanan memang bisa saja terjadi, yang tidak boleh yaitu jika kita memiliki tujuan untuk menjadi terkenal. Bunda Theresa, memang terkenal, tapi sepertinya bukan itu yang ia kejar. Pelayanannya simple dan sederhana : mengasihi jiwa-jiwa yang menderita.

Tidak semua orang yang melayani Tuhan mengasihi Tuhan, tetapi orang yang mengasihi Tuhan, pasti melayani Tuhan. Pernyataan ini bukan bukan berarti bahwa orang yang mengasihi Tuhan pasti harus aktif di pelayanan organisasi gereja. Tapi bukan juga berarti aktif di organisasi gereja adalah sesuatu yang salah. Yang penting adalah pondasi pelayanan kita harus benar, entah itu melayani di organisasi gereja atau di luar organisasi gereja. Orang yang mengasihi Tuhan, pasti hatinya selalu rindu untuk melayani jiwa-jiwa! Ortu, teman, saudara, pembantu, rekan pelayanan, rekan kerja kantor, anak-anak yatim piatu, janda, narapidana, pecandu obat, dsb. Cakupannya sangat luas, melebihi pelayanan organisasi gereja.

Tapi saya tidak bisa apa-apa! Saya tidak punya talenta! Saya tidak punya bakat! Suara saya jelek! Saya sibuk kerja di kantor! Saya tidak bisa bicara di depan banyak orang! Saya tidak punya waktu untuk mengajar sekolah minggu! Saya tidak punya waktu untuk ikut komunitas sel!.... Alasan bisa dibuat banyak, bisa 1001 macam alasan dibuat untuk orang yang memang tidak mau melayani (atau yang tidak memiliki konsep pelayanan yang benar). Dasar pelayanan kita adalah Roma 12 : 1, yaitu jika kita memberikan hidup kita untuk Tuhan. Bagaimana kita melayani Tuhan? Yaitu dengan mengasihi saudara-saudara kita.

Matius 10 : 42 adalah perkataan Tuhan Yesus yang berbunyi “Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia muridKu, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya”. Bahkan untuk melayani orang yang ‘kecil’ sajapun dengan memberi secangkir air saja, Tuhan memperhitungkan itu kepada kita.

Memberikan ‘secangkir air sejuk’ adalah sebuah pertolongan kecil. Intinya adalah memberikan dari yang kita punya dulu. Tuhan tidak tuntut kita kasih air dingin (berarti perlu kulkas) atau memberi air panas (berarti perlu dipanaskan lagi sehingga membutuhkan extra bbm), atau air sebaskom (berarti butuh air banyak). Jangan terlalu jauh ingin memberikan sesuatu yang besar dan di luar jangkauan. Jika kita punya tenaga saja berikanlah itu. Jika tidak punya tenaga, berikanlah senyuman. Jika tidak bisa tersenyum bantulah dalam doa. Jadi mulailah pelayanan dari sesuatu yang kita punya dulu. Yang penting ialah : Hati yang mengasihi jiwa-jiwa.

David Livingstone, adalah misionaris di Afrika yang terkenal. Lewat hidupnya, banyak orang mengakui bahwa Afrika dilawat Tuhan secara luar biasa karena benih yang ditabur olehnya. Tapi tidak banyak yang tahu, bahwa panggilan David Livingstone ke Afrika adalah karena pelayanan kasih yang diberikan oleh seorang gembala gereja kecil di Skotlandia yang tidak terkenal. Gembala ini (tahun 1800-an), adalah gembala gereja kecil di Skotlandia, para diakennya suatu hari menyidang gembala ini karena, gembala ini tidak membawa banyak jiwa ke gereja ini. Dia hanya membawa satu jiwa, seorang anak berumur 9 tahun. Gembala ini merawat anak itu dengan kasih. Tapi karena keputusan sidang itu, akhirnya sang gembala harus meninggalkan gereja dan berpisah dengan anak kecil itu. Anak itu bernama Robert Moffat, dan dua puluh tahun kemudian, anak itu menjadi seorang yang pintar dalam firman Tuhan dan menjadi penterjemah Alkitab dalam berbagai bahasa, dan dikenal sebagai bapak misi luar negeri. Lewa! t pidatonya di Universitas Inggris-lah ia membakar hari seorang pemuda yang bernama David Livingstone ini…. Darimana ini semua? Dari seorang gembala yang dicap ‘gagal’ yang hanya memperhatikan satu jiwa dan melayaninya dengan penuh kasih.

Edward Kimball, seorang karyawan toko sepatu dan guru sekolah minggu di Chicago. Kadang diwaktu senggangnya dia melakukan kunjungan ke anak jalanan miskin di Chicago. Lewat kegiatannya ini D.L. Moody, penginjil terkenal Amerika diselamatkan pada tahun 1858. Ketika dewasa, D.L. Moody menjadi pengkhotbah yang dipakai Tuhan. Lewat pelayanan D.L. Moody ini, seorang pemuda bernama F.B.Meyer pada tahun 1879 diselamatkan, dan iapun menjadi pengkhotbah yang dipakai Tuhan. Lewat F.B. Meyer ini, J.W.Chapman, yang setelah dewasa menjadi pengkhotbah dimenangkan bagi Kristus, yang lalu memenangkan Billy Sunday yang kemudian menjadi penginjil. Lewat pelayanan Billy Sunday inilah Billy Graham menyerahkan hidupnya dalam suatu KKR di Charlotte, Carolina. Dan Tuhan memakai Billy Graham untuk menginjili jutaan umat manusia di muka bumi ini. Darimanakah semua ini berasal? Dari seorang karyawan sepatu yang sederhana yang kerinduannya ialah melayani jiwa-jiwa. Walaupun tidak mesti khotbah, pelaya! nan sederhana Edward Kimball ini dipakai Tuhan untuk merubah dunia. Pelayanan tidak perlu bombastis, tapi yang penting ialah mengasihi jiwa-jiwa seperti kita mengasihi Yesus, bahkan lebih kuat lagi, seperti Yesus mengasihi kita. Kita hanya perlu mengerjakan bagian kita, perkara selanjutnya adalah urusan Tuhan.

Dari tulisan diatas, biarlah kita bisa mengerti konsep pelayanan yang benar, dan memiliki dasar pelayanan yang kuat. Sehingga kita sebagai anak Tuhan tidak terombang-ambing oleh pengajaran yang kurang mendasar. Setiap anak Tuhan harus memiliki dasar yang kuat yaitu Yesus Kristus Tuhan kita.

Maranatha!

Penulis: Pieter
Email: Pieter_adiguna@live.com

Melepaskan Masa Lalu

Saat ini kita hidup ditengah masyarakat yang senang mencari alasan untuk menutupi ketidak berdayaan atas sikap dan perbuatan negative yang dilakukannya dimasa lalu. Sebagian dari kita hidup dengan mengasihi diri sendiri, sering memikirkan kekecewaan, luka batin, bahkan segala kesalahan dan perbuatan yang tidak berkenan pada Tuhan dimasa lalu. Kita hidup dibalik bayangan masa lalu bahkan kita tertawan dengan kesalahan kita sendiri.

Tidak ada seorangpun didunia ini yang tidak pernah berbuat dosa, bahkan tidak ada seorangpun yang telah memenuhi kehendak Allah, Kita pernah mengalami kekecewaan bahkan kegagalan dalam meraih impian, Ada diantara kita justru pernah mengalami kekerasan seksual, fisik atau emosional, masalah jasmani (Penyakit yang belum disembuhkan) bahkan hal – hal negative lainnya yang membuat kita merasa tidak layak dihadapan manusia bahkan dihadapan Allah.Rata Penuh

Kita tidak akan memperoleh apapun dari Tuhan apabila kita tidak melupakan masah lalu, apabila kita pernah mengalami masa lalu yang tidak menyenangkan dihadapan Tuhan, maka saat ini juga kita harus mengambil keputusan untuk meninggalkan masa lalu dan menatap terhadap masa depan yang menanti kita, Mengingat kesalahan masah lalu hanya akan mengabadikan masalah itu sendiri, kita bahkan kita tidak akan meraih kebahagiaan dan kesuksesan selama kita masih menyimpan kepahitan dalam hati kita.

Apa yang harus kita lakukan untuk melepaskan masah lalu kita :

1. BELAJAR DARI KEGAGALAN
Pengalaman masa lalu merupakan contoh yang paling buruk namun bisa juga menjadi pelajaran yang berharga agar kita jangan jatuh bangun dalam dosa yang sama. Belajar dari Pengalaman nabi yang dipakai Tuhan misalnya Saulus pada saat Stefanus dianiaya dan dihujani batu sampai mati ia ada disitu bahkan ia menjadi orang yang paling bertanggung jawab atas penganiayaan dari Jemaat di Yerusalem. Dia berusaha membinasakan orang – orang saleh, menyeret dan memasukkan ke Penjara (Baca Kisah Para Rasul 7 : 54-60 & Kisah Parah rasul 8). Begitu juga dengan Petrus. Ia merupakan murid yang paling dicintai oleh Yesus namun pada akhirnya ia menyangkal Yesus sampai 3 kali.
Bisakah kita membayangkan bagaimana perasaan Saulus pada saat mengetahui kalau yang dianiaya merupakan anak – anak Allah, atau bagaimanakah perasaan Petrus pada saat dia menyadari kalau ia telah mengingkari ucapannya untuk tidak menyanggkal Yesus. Kedua Rasul tersebut mengalami masa lalu yang sangat tidak menyenangkan hati Tuhan, namun mereka tidak mau terikat dan tinggal dalam masa lalu, justru mereka memutuskan untuk tidak mengingat apa yang ada dibelakang dan memusatkan perhatian terhadap apa yang ada di depan. Kegagalan yang mereka alami justru menjadi pendorong kearah masa depan yang lebih baik dan hasilnya mereka menjadi Rasul yang besar. Saulus berhasil membangun Jemaat yang ada di Yudea, Galilea dan Samaria untuk hidup takut akan Tuhan dan jumlah mereka makin hari makin bertambah besar (Kisah Para rasul 9:31). Begitu juga dengan Petrus Ia menjadi Seorang Rasul yang berani memberitakan tentang Yesus Kristus, penuh Kuasa dan penuh dan dipenuhi Roh Kudus.


2. BANGKIT BERJALAN DAN TERUS MELANGKAH
Kita tidak akan pernah memperoleh perubahan seperti apa yang kita inginkan kalau kita hanya duduk diam sambil menyesali nasib kita, meratapi kemalangan dan kegagalan yang kita peroleh, berdalih untuk mengasihi diri sendiri bahkan cenderung minta belas kasihan orang lain. Memikirkan masalah dan kegagalan masa lalu hanya akan membebani hidup kita bahkan justru akan membuat kita jatuh terpuruk. Pada saat Yesus menyembuhkan seorang yang telah 30 tahun sakit dekat kolam Betesda Yesus berkata Bangunlah, angkat tilammu dan berjalanlah (Yohanes 5 : 9). Walaupun pada saat itu hari sabat dan olrang – orang Yahudi melarangnya namun Yesus tetap melakukan penyembuhan karena Dia mengasihinya.
Serahkanlah hidupmu pada Tuhan, Allah tidak ingin kita hidup dengan bayangan masa lalu. Jika kita ingin dipulihkan maka kita harus melupakan masah lalu. lepaskanlah segala beban dan dosa yang menekan hidup kita. Kita harus Bangkit dari keterpurukan yang kita alami berjalanlah bersama Yesus Arahkanlah pandanganmu terhadap apa yang ada didepanmu dan terus melangkah jangan bimbang, kita ngak usah kuatir karena seluruh masa depan kita ada di tanganNya dan bila kita berserah sepenuhnya pada Yesus maka Dia pasti akan menolong dan memulihkan kita.
Mungkin kita memiliki masa lalu yang kelam sehingga membuat kita ragu ‘tuk melangkahkan kaki kita, kita takut akan bahaya yang mengancam kita di balik tikungan. Namun percayalah Tuhan memberikan kita jaminan; Jika kita benar-benar mentaati Firman Tuhan dalam menghadapi keadaan apapun juga, kita tidak akan berjalan dalam kegelapan. Yang diminta Tuhan dari kita hanyalah agar setiap langkah yang kita ayunkan lakukanlah itu dengan penuh ketaatan kepada Firman Tuhan.

3. MENGAMPUNI MEREKA YANG MEMBUAT KITA MENDERITA
Banyak diantara kita hidup dengan memendam luka batin yang mendalam hingga menimbulkan akar pahit yang meracuni hati kita. Memang sulit melupakan seseorang yang perna membuat kita menderita, menyebabkan kita gagal bahkan membuat kita terluka, namun apabila kita tidak cepat mengambil keputusan untuk mengampuni dan membuang akar pahit dari hidup kita sama artinya kita hidup dalam penjara dosa masa lalu. Dan tanpa kita sadari waktu kita akan terbuang , kita hanya akan menghambat kesuksesan yang akan kita raih bahkan kita menghalangi berkat Tuhan mengalir dalam hidup kita.
Mengampuni adalah pilihan. Jika kita mengampuni maka Bapa disurga juga akan mengampuni kita. (Matius 6 : 14 – 15). Pada saat kita melupakan dan melepaskan masa lalu kita maka kita akan dipulihkan dan kita akan melihat berkat dan kemurahan Tuhan tercurah dalam hidup kita.

Selain Yesus tidak ada satupun yang tidak pernah berbuat dosa. Untuk apa kita larut dalam dosa yang telah dibayar lunas dengan Darah Yesus di Kayu salib, Apabila Allah mengampuni maka Dia juga akan melupakan dosa – dosa kita. Bila kita bingung dengan apa yang akan kita lakukan maka Baca dan Pelajarilah Firman Allah, Mohon pertolongan yesus melalui Doa agar Roh Kudus menuntun untuk menemukan apa yang akan kita lakukan agar hidup menjadi lebih baik ( 2 Timotius 3 : 16).


Jangan hidup dalam penyesalan, kesedihan yang hanya akan membuat kita menderita dan menggoyahkan iman, kita harus memiliki iman dan Iman harus nyata dan selalu hadir bukan kenangan. Kehidupan dapat memberikan ratusan alasan untuk marah, kecewa dan menangis tetapi memiliki Yesus akan memberikan kehidupan yang abadi dan berjuta alasan untuk tersenyum. Tuhan Yesus Memberkati………….


Tondano, Juni 2010
Penulis : Adeleida Paula T
Email : Adeleidapaula@rocketmail.com

17 Mei 2010

Menjadi saksi Kristus

Murid – murid Yesus mengalami kekuatiran yang sangat mendalam pada saat mereka menyadari kalau Yesus akan naik kesorga meninggalkan mereka namun Yesus mengetahui segala kekuatiran dan kelemahan hati dari murid – muridNya, pada Kisah Para Rasul 1 : 7 – 8, Yesus menghibur hati murid – muridnya untuk tidak perlu takut, kuatir dan gelisah karena segala sesuatu punya waktu dan masanya dan semuanya hanyalah Bapa di sorga yang mengetahuinya, dan Dia berjanji tidak akan membiarkan mereka sendiri, mereka akan menerima kuasa melalui Roh Kudus yang akan menyertai, melindungi, memberi kuatan agar mereka menjadi Saksi Yesus diseluruh bumi.

Lewat Kematian, Kebangkitan dan Kenaikan Yesus, Allah ingin menebus manusia dari kuasa kegelapan dan mendamaikan manusia dengan DiriNYA supaya kita bisa  memberitakan injil keseluruh dunia,  mengusir setan, menumpangkan tangan dan  Menyembuhkan orang sakit , Yesus menyelamatkan kita selanjutnya memakai kita, mengutus kita  agar bisa menjangkau orang lain. (Markus 16:16-18).

Didunia ini  kita memiliki tugas dan tanggung jawab masing - masing.  Allah ingin kita memiliki pelayanan didalam tubuh Kristus. Sebagian dari tugas tersebut merupakan tanggung jawab yang kita pikul bersama semua orang Kristen lainnya. Yesus ingin agar kita menjadi  pembawa berita tentang kasih dan tujuan Allah bagi dunia. Allah yang maha tinggi adalah Allah yang dasyat untuk segala hasil karyanya. Kata dasyat menggambarkan sesuatu pekerjaan yang tak terlukiskan dan sulit untuk dilukiskan.
Banyak cara yang dipakai Tuhan agar kita mau bertobat dan menjumpai Tuhan antara lain masalah Rumah Tangga, Masalah keuangan, Sakit Penyakit, Pemutusan Hubungan Kerja dan lain sebagainya.

Bagaimana menjadi saksi Yesus dan melayani Yesus secara Efektif :

1.    MILIKI BELAS KASIHAN DARI ALLAH
Belas Kasihan adalah modal agar kita menjadi saksi untuk melayani atau melayani tanpa pamrih karena dengan belas kasihan kita akan jadi lebih bersungguh – sungguh dalam melayani. 2 Raja – raja 5 : 3 Perempuan itu timbul belas kasihnya dan Ia mengatakan pada tuannya untuk pergi pada nabi agar bisa didoakan dan disembuhkan. Kalau dihati kita ada balas kasihan maka dihati kita akan selalu memiliki kerinduan untuk melayani sampai orang – orang yang disekitar kita dicurahkan berkat dan melihat kemuliaan Allah. Lihat anak perempun itu bicara , Ia berani untuk melakukan tugasnya untuk bersaksi dan tugas untuk bersaksi tidak terbatas hanya untuk pendeta atau orang dewasa saja tapi itu adalah tugas kita semua. Mintalah pada Bapa agar diberikan hati yang penuh belas kasihan, makin besar belas kasihan makin besar kuasa Allah dinyatakan dan nama Yesus dipermuliakan.

2.    HARUS MEMILIKI KEMAUAN.
Menjadi saksi hidup bukan karena bisa atau tidak bisa, mau atau tidak mau. Karena Dia adalah Allah yang bertanggung jawab yang akan memperlengkapi kita. Roh Kudus dicurahkan pada kita agar kita segera bertindak dan jangan hanya berdiam diri. Sesaat sebelum Yesus naik kesurga Ia berpesan agar jangan bertindak / pergi dahulu tunggu sampai diperlengkapi dan saat Roh Kudus  dicurahkan segera bertindak dan berpencar untuk memberitakan injil. Begitu juga dengan kita bertindaklah agar  banyak jiwa yang diselamatkan, kita jangan hanya berpangku tangan. Lakukanlah seperti apa yang Tuhan perintahkan Tumpang Tangan, minta kesembuhan dan kuasa Allah akan dicurahkan. Sembuh atau tidak orang yang kita doakan itu jangan kita pikirkan lakukan saja dan biarkan Tuhan yang bertindak, Roh Kudus  dan iman orang tersebut yang akan menyembuhkan mereka.
Iman timbul dari pendengaran, Pendengaran akan firman Tuhan tapi  bagaimana orang bisa percaya kalau injil tidak diberitakan, janganlah membatasi diri saat kuasa Allah ada dalam kita, bergeraklah biarkan Kuasa Allah bekerja secara dasyat. orang sakit dan mereka yang berada dalam masalah selalu berada dalam persimpangan.  Tidak ada salahnya kita mempraktekkan Iman kita agar banyak jiwa yang boleh diselamatkan.

3.    HARUS ADA PENGORBANAN (1 Korintus 9 : 19 – 23 )
Dasar dari pelayanan adalah pengorbanan. Lihatlah Yesus, Ia rela meninggalkan tahtaNya disorga untuk melayani. Disetiap usaha kita selalu membutuhkan pengorbanan, Kita mengorbankan tenaga kita, korban perasaan, Korban Materi, bahkan ada yang sampai mengorbankan nyawanya. Namun dimana ada darah ditumpahkan disitu banyak jiwa yang akan tumbuh.

4.    MILIKI ETIKA YANG BAIK
Penting bagi itu memiliki etika yang baik apa lagi dalam hal melayani karena kita diperhadapkan pada jemaat yang kadang – kadang ingin menjebak kita. Kita tidak boleh terlalu mengikuti kemauan jemaat karena kadang – kadang itu yang akan membawa kita jatuh kedalam pencobaan. Namun kalau kita mempunyai pendirian yang kuat yang berakar dalam Yesus Kristus dan selalu melekat pada Yesus, dalam dihati kita selalu berpikir yang positif dan bertindak sesuai dengan kehendak Yesus maka kita akan dijauhkan dari segala godaan  - godaan yang akan menyeret kita dalam pribadi yang tidak menyenangkan hati Tuhan.

5.    HARUS ADA KERJA SAMA
Perempuan itu melakukan semampu dia dan dia sudah melakukan bagiannya sesuai kapasitasnya.  Setiap kita mempunyai kemampuan atau kelebihan masing – masing  lakukan semampu kita bersama tenam – teman seiman karena seseorang yang berhasil bukan karena kekuatannya sendiri tapi didukung oleh orang – orang yang ada disekitarnya. Kerja sama yang baik maka akan menghasilkan sesuatu yang baik pula.

Yesus naik kesorga untuk membebaskan kita dari tawanan, memang secara  fisik kita tidak hidup dalam penjara namun kita hidup sebagai tawanan dalam penjara emosi (Kita cepat emosi dan mudah tersinggung kalau ada orang yang menegor kita), Penjara Keserakahan, Penjara kesombongan, Penjara kesetiaan (Sudah mempunyai pasangan : istri / suami tapi masih saja mencari pasangan diluar) namun lewat kuasaNya kita diberi penolong yaitu Roh Kudus untuk membebaskan kita dari tawanan kuasa kegelapan yang mengikat kita saat ingin berbuat baik. Dia naik kesurga untuk memulihkan segala sesuatu (Efesus 4:10) Yesus  NAIK kesorga untuk menyediakan tempat dan terlebih dari pada itu agar firman yang sudah dinubuatkan bisa digenapi dan kita bisa mengerjakan apa yang sudah pernah Yesus kerjakan.

Menjadi saksi adalah tugas kita, dimanapun kita berada, kemanapun kaki kita melangkah, lakukanlah yang terbaik sesuai dengan kehendak Yesus. Kita tak perlu ragu dan gentar  karena Roh Kudus menyertai kita senantiasa. Dia akan menolong kita, memberikan kekuatan untuk menaklukkan musuh, Dia akan menolong kita untuk melepaskan diri dari kuasa kegelapan, Dia memampukan kita untuk bisa mengusir setan dan menyembuhkan orang sakit. Yakinlah bahwa kita tidak ditinggal sendiri Yesus dengan perantara Roh Kudus  akan selalu bersama kita. Yesus Memberkati.


Tondano, Mei 2010
Penulis : Adeleida  Paula Tampa
E-mail    : Adeleidapaula@rocketmail.com

5 Mei 2010

Racial & Religious Harmony

From Site:http://www.konghee.com/www/2009/08/racial-religious-harmony/

On August 16, 2009, I was invited to the National Day Rally held at the NUS University Cultural Center. The National Day Rally is akin to the State of the Union Address delivered by the President of the United States. In our case, it is an annual address that the Prime Minister of Singapore makes to the entire nation.
That night, I was seated on the second row, directly behind Rustom Ghadiali, the vice-president of the Inter-Religious Organization. Among those around me were the Methodist bishop and the Catholic archbishop, Buddhist monks and Muslim leaders. I must say that I was very impressed by the podium design, multimedia incorporation and technological gadgetry that PM Lee Hsien Loong used. The discipline and excellence in which the entire NDR was organized is indeed commendable.
This year is the 50th anniversary of Singapore’s self-government. The PM spoke first in Malay and then in Chinese. The following two hours, he spoke in English, issuing a call for unity across different races and religions. I was amazed by the content of the PM’s speech as it is consistent with the value and philosophy of ministry we practice in City Harvest Church. In a sense, it is comforting to know that our approach is not antagonistic to the society we are planted in and seeking to reach.
PM Lee: Critical to our long-term success is maintaining social cohesion, particularly racial and religious harmony. We have discussed potential fault lines in our society – between rich and poor; between Singaporeans and new arrivals. But the most visceral and dangerous fault line is race and religion.
As far as racial harmony is concerned, this should be second nature to us Christians. The Bible says, “There is neither Jew nor Greek, there is neither slave nor free, there is neither male nor female; for you are all one in Christ Jesus” (Gal. 3:28). Jesus Himself exhorts us to “go therefore and make disciples of all the nations (Matt. 28:19). That word “nations” (Gr. ethnos) literally means people of diverse races and ethnicity. We can’t reach them with God’s love if we don’t engage, befriend and build meaningful relationships with people of various cultures and customs. God created the world as a collage of various colors, hues, “nations, tribes, peoples, and tongues” (Rev. 7:9-10). For us to live and operate within our own racial enclave is certainly against the spirit of New Testament Christianity. One of the things I am very proud of about City Harvest Church is that our membership is made up of 24 different nationalities (based on a 2007 internal survey), and within them a further multiplied variety of ethnic races. This racial mix enriches us and gives us a more global outlook as a community.
PM: [In a multi-religious society, we] need good sense and tolerance by all sides, and a willingness to give and take. Otherwise whatever the rules, there will be no end of possible causes of friction—noise, parking, joss sticks, stray ashes, dog hair, etc.
We have been saying for years that God expects His people to thrive and prosper even as they mingle with people of different faiths. A good example is Jeremiah 29, when the Jews were in exile in Babylon. The Babylonians had thousands of gods that its citizens worshiped and revered, with religious values that were diametrically opposed to that of the Jews. Yet, God instructed His people,

“Build houses and dwell in them; plant gardens and eat their fruit. Take wives and beget sons and daughters; and take wives for your sons and give your daughters to husbands, so that they may bear sons and daughters—that you may be increased there, and not diminished. And seek the peace of the city where I have caused you to be carried away captive, and pray to the Lord for it; for in its peace you will have peace” (Jer. 29:5-7).
They were to put down their roots, establish businesses and profit from them. They were to assimilate themselves fully into the culture by raising their families, to increase and not diminish in their presence and contribution to the society. They were not to be antagonistic as a community but to seek the peace and prosperity of the world God had placed them in, knowing that if their city prospered, they too would prosper. It was precisely in that setting of a multi-religious culture that God promised His people,

“For I know the thoughts that I think toward you, says the Lord, thoughts of peace and not of evil, to give you a future and a hope” (29:11).
This is a promise to all Christians who are living in this present world. In fact, our greatest value to God is right here in our society, not when we get to heaven. Truth be told, heaven is just a temporary holding place for us before we return to earth to rule and reign with Christ. Like the Bible heroes Joseph, Daniel and Esther, we need to adopt a non-antagonistic stance toward our multi-religious world. Relationship precedes ministry. In our interface with people of different faiths, the central issue is always one of trust. Do non-Christians trust us enough for us to speak truth, wisdom and blessing into their lives?
The PM talked about “noise, parking, joss sticks, stray ashes, dog hair, etc.” Let us ensure that our weekly cell group meetings are not a constant source of noise pollution and nuisance to our neighbors. Let us not park indiscriminately (or illegally) when we come for church gatherings. Let us live the words of Jesus Christ to love our neighbors as ourselves (Matt. 22:39). May our neighborliness and consideration be evident to all.
PM: In itself, there is nothing wrong with people becoming more religious. Religion is a positive force in human societies. It provides spiritual strength, guidance, solace and a sense of purpose to many, especially in our fast-changing and uncertain world. But stronger religious fervor can have side effects which must be managed carefully, particularly in a multi-religious society. [For example:]Aggressive proselytization: pushing one’s religion on others, causing nuisance and offence … the distribution of Christian tracts with contents that are offensive to other faiths … Groups trying to convert very ill patients in hospitals.
The PM is certainly not against conversion or the sharing of our faith, but he is exhorting us to do it in a civil manner. In our zeal to win others to Christ, we should not be “pushing” our faith on others, “causing nuisance and offence.” I can’t agree with him more. Never once in the Gospels do we find Jesus scolding, shaming or condemning people into believing in Him. If Jesus ever got agitated, it was always to rebuke the religious scribes and Pharisees in the synagogues—people who shared His belief, who had the form but not the substance of the faith. But when it comes to the general public, Jesus was considered a friend to those whose lifestyle and religious beliefs were very different from His (Matt. 11:19, Luke 7:34). He was a natural in befriending, relating and communicating with them.
We see the same with Paul when he was in Athens. Though he was in a city whose citizens worshiped many different gods and idols (Acts 17:16), Paul remained gracious and polite in his interaction with the Athenians, even commending them for their religious longing (17:22). Sure, he was uncompromising in his presentation of the gospel, but he did it with great sensitivity, civility and in a non-pressuring manner, allowing his newfound friends to decide for themselves if they wanted to embrace his faith (17:32-34).
“Evangelism” is the sharing of good news. It is a good word. This term is even used in secular arenas today. For example, Google has a “chief internet evangelist,” tasked to promote and market the products and services Google is offering. On the other hand, the word “proselytization” evokes a negative connotation. It is the inordinate, overly zealous pushing of one’s religion at the expense of causing offense. In some societies without religious freedom, proselytization is the enforced conversion of the masses by the dominant local religion. It is insensitive and borders on harassment. Personally, I get very upset if someone aggressively tries to push his religious belief upon me or puts down my own Christian beliefs. Just like the indiscriminate touting of commercial products by insensitive salespeople at shopping malls can be irritating, proselytization is a huge turn off to many.
The way we grow CHC is not by “selling” the gospel, but by “serving” people. Jesus gives us the New Testament model of effective evangelism in Luke 10. He says that whenever we interface with nonbelievers, we must learn to be gracious, to bless and be encouraging in our words (10:5). We should build a genuine friendship with the people of different faiths, fellowshiping and sharing meals with them (10:7). We must then seek to serve them and meet their practical needs (10:9). And only when their hearts are open to us can we share the gospel of the kingdom of God to them (10:9). The pattern is clear: be gracious, befriend, meet needs, and then when they are open, share the gospel. Again, the underlying principle is clear—relationship precedes ministry.
The impersonal, indiscriminate “handbill saturations” done by Singapore churches in the 1980s have never proven to be effective. Instead, it has made a nuisance out of Christians in the community, giving us the image of being an overzealous bunch of religious fanatics. Yes, as Christians, we do believe that people without Christ will go into a godless eternity; but there is always a right time and a right way of sharing the gospel to nonbelievers. When we serve people lovingly and unconditionally with no ulterior motives, the opportunity to evangelize will naturally present itself.
PM: Intolerance—not respecting the beliefs of others, or accommodating others who belong to different religions, sometimes even within same families. Children who have converted from their parents’ religion, and decline to fulfill funeral rites of parents, or even stay away from the funerals [is] the ultimate unfilial act.
Again, Bible heroes like Joseph, Daniel, Esther and Paul have proven that being with people of different faiths does not “contaminate” their spiritual purity to God. Joseph had a diviner’s cup given to him by the Pharaoh (Gen. 44:5). Daniel worked among the magicians and sorcerers of Babylon (Dan. 4:7-9; 5:11-12). Esther was a beauty queen who lived in the harem of the Persian king (Esther 2). Being with Athenian idol worshipers didn’t mean that Paul had become one himself (Acts 17:16-17).
In fact, one of the greatest ways to demonstrate the reality of Christ is by loving people who are radically different from you (John 13:34-35). Loving people means accepting them just the way they are and treating them with respect even when you don’t agree with them.
The PM talked about filial piety. Honoring our parents is not only an Asian culture, it is a sacred biblical value. The Fifth Commandment states, Honor your father and your mother, as the Lord your God has commanded you, that your days may be long, and that it may be well with you in the land which the Lord your God is giving you” (Deut. 5:16). To stay away from our parents’ or grandparents’ funerals because the rites are unchristian is truly the “ultimate unfilial act.” At moments of grief, as loving Christians, we need to stand with our family and walk with them “through the valley of the shadow of death” (Ps. 23:4). We should “fear no evil”(grieving the Lord, being demonized, etc.) having the confidence that God is with us (23:5). Remember, we are already covered by the blood of Jesus Christ and have the Holy Spirit in us.
The trickier part is the fulfilling of funeral rites. This is where we need to be more spiritually discerning because not all portions of a funeral rite are religious or superstitious in nature. Showing honor and respect to the dead doesn’t mean you are worshiping them. Whenever possible, in the non-religious traditions, we should do them in solidarity with our families.
PM: Exclusiveness—segregating into separate exclusive circles, and not integrating with those of other faiths. This could be a direct preference to stay within own group or an indirect result of intolerance. Example, preferring not to share meals with others, or disapproving of yoga and taiji practices, because they allegedly contain religious elements.
First of all, Jesus tells us to share meals with nonbelievers (Luke 10:7). This should be a nonissue for us Christians.
But what about yoga and taiji? Yoga is often associated with Hinduism, and taiji with Taoism. But it is undeniable that the health elements of these physical disciplines are beneficial to the human body. So again, the question lies in whether is there anything religious in them. It all depends on the context they are practiced in and the instructors who teach them. In Singapore, as with many metropolitan cities around the world, yoga and taijiare taught as forms of physical fitness systems in sports gyms, just like aerobics and Pilates, devoid of any superstitious elements.
John Calvin (1509-1564), in his Commentary On First Corinthians, teaches that any good contribution by nonbelievers to society, as long as it is free from religious superstition, should be freely employed by Christians for his or her own enjoyment, for the glory of God.
I personally know of Spirit-filled pastors in Taiwan and Indonesia who regularly practiceqigong. They certainly don’t pray to idols, recite chants, believe in magical powers, or embrace Taoism. And they certainly don’t get possessed by demons. None of the Christian leaders I know who practice yoga and taiji regularly have lost their spiritual consecration to the Lord Jesus Christ.
But aren’t the roots of these ancient exercises unchristian or even anti-Christian? Well, if you go by that reasoning, then we shouldn’t even celebrate Christmas with Christmas trees. There is no dispute that the origin of Christmas trees is pagan. The ancient Egyptians decorated their homes with tree branches during the winter solstice as symbols of the afterlife. Heathen Greeks used them to worship their god, Adonia. Pagan Romans decorated their trees during their midwinter festivals in honor of the sun god. In Northern Europe, the ancient Germanic people tied fruit and attached candles to evergreen tree branches in honor of god Woden. (By the way, this is the deity after which Wednesday was named.)
In fact, the English Puritans long condemned the use of the Christmas trees, yule logs, hollies, mistletoes, etc. Oliver Cromwell preached against “the heathen traditions” of Christmas carols, decorated trees and any joyful expression that desecrated “that sacred event.” Yet, over the years, the Christmas tree has been “de-idolized” to become a major Christian symbol celebrating the birth of Christ. To people everywhere, it is a symbol of hope for the New Year and the future return of warmth to the earth. Churches today have “singing Christmas trees” and carols are sung to herald the birth of Christ. What originated as something totally unchristian has become very Christian over time.
Titus 1:15 says, To the pure all things are pure, but to those who are defiled and unbelieving nothing is pure; but even their mind and conscience are defiled.” Don’t do anything you are uncomfortable with in your heart. But at the same time, don’t condemn others who do not share your personal preferences or convictions, or think of them as lesser followers of Christ than you.
PM: All groups must exercise tolerance and restraint. Christians cannot expect Singapore to be a Christian society, ditto Muslims, Buddhists, Hindus and other groups. Many faiths share this island. Each has different teachings and practices. Rules which apply only to one group cannot be made into laws that apply to everyone. Muslims do not drink alcohol, but alcohol is not banned; ditto gambling, which several religions disapprove of. All must adopt “live and let live” as our guiding principle … Secondly, religion must stay separate from politics … Third, Government must remain secular. Government authority derives from the mandate of the people. Laws are not based on divine authority, but enacted by Parliament based on the public interest.
The Bible teaches repeatedly about the “royal law” (James 2:8), commonly known as the Golden Rule: treat others in the same manner you wish to be treated yourself. I often ask myself, as a Christian, if I live in a state whose dominant religion is say, Islam, Hinduism, Buddhism or Mormonism, do I want the values of those religions to be legislated as laws and imposed upon me? Definitely not. Even as a lover of the Holy Scripture, do I want the ceremonial, dietary and civil laws of Old Testament Judaism to be imposed on me? Definitely not. Now, putting myself in the shoes of the adherents of other faiths, how would they feel if they hear us spewing rhetoric about a Christian state where biblical commandments are enforced as law to all? I am sure the reaction would not be dissimilar to mine if the table is turned.
Look, even among the body of Christ we can’t all agree to the style and philosophy of ministry. If we have a Christian government seeking to establish a Christian state, whose denominational doctrine are we going to follow? Anglican? Baptist? Assemblies of God? Roman Catholic? Church of Christ? I shudder just to think of the amount of religious legalism that would be mandated upon Faith-Charismatic, contemporary churches if that happens.
Is it God’s will to have a Christian geopolitical state in this dispensation? I doubt it. Even after the resurrection, the ever zealous disciples asked Jesus, “Lord, will You at this time restore the kingdom to Israel?” To that, Jesus answered, “It is not for you to know times or seasons which the Father has put in His own authority” (Acts 1:6-7). Looking at the Holy Scripture, that is not going to happen anytime soon in this dispensation.
The beauty of a democracy is that human rights and freedom can be pursued for the common good of all. I believe in the separation of religion and politics. Christianity is a freewill religion. I wouldn’t want our commandments to be enforced on others who don’t follow the teachings of Christ. As much as he was persecuted for his faith, Paul didn’t advocate the overthrow of the oppressive Roman government.

Everyone must submit to governing authorities. For all authority comes from God, and those in positions of authority have been placed there by God. So anyone who rebels against authority is rebelling against what God has instituted, and they will be punished. For the authorities do not strike fear in people who are doing right, but in those who are doing wrong. Would you like to live without fear of the authorities? Do what is right, and they will honor you. The authorities are God’s servants, sent for your good. But if you are doing wrong, of course you should be afraid, for they have the power to punish you. They are God’s servants, sent for the very purpose of punishing those who do what is wrong. So you must submit to them, not only to avoid punishment, but also to keep a clear conscience. Pay your taxes, too, for these same reasons. For government workers need to be paid. They are serving God in what they do. Give to everyone what you owe them: Pay your taxes and government fees to those who collect them, and give respect and honor to those who are in authority. (Rom. 13:1-7)
Paul endorsed the secular state of Rome even with Nero Caesar on the throne. Paul teaches that we should submit to secular laws, pay taxes, respect and honor the political leaders in authority, even if they are secular in nature. In fact, Paul wants us to regularly pray for them.

Therefore I exhort first of all that supplications, prayers, intercessions, and giving of thanks be made for all men, for kings and all who are in authority, that we may lead a quiet and peaceable life in all godliness and reverence (1 Tim. 2:1-2).
When a secular state guarantees “The Four Freedoms” enshrined in the United Nation Human Rights Charter: (1) freedom of speech and expression, (2) freedom of worship, (3) freedom from poverty and lack, and (4) freedom from fear, the gospel can thrive in that society. I certainly wouldn’t want any government to legislate what I should believe, and how I should worship or carry out my faith. I greatly doubt that the unchurched public would appreciate us forcing them to embrace our spiritual convictions either. Let us continue to keep religion and politics separate as much as possible.
PM: [Concerning the recent AWARE controversy:] On homosexuality policy or sexuality education in schools, there can be strong differences in view; but government’s position on these issues is clear.
My position on this hot button issue is this: gay or straight, heterosexual, bisexual or homosexual, we want to introduce everyone to the love of Jesus Christ. But how are they going to encounter that if gays and lesbians perceive the Church as hostile toward their community? As the shepherd over my flock, I don’t want my members exposed to any unwelcome, predatory sexual advances made by anyone—be that person straight or gay. But if he or she doesn’t pose a direct, negative influence over the congregation, we should indeed adopt a “live and let live” attitude. We are all sinners saved by grace. I want City Harvest Church to focus on the issue of salvation, not sexual orientation. Once someone is saved, I trust the Word of God and the Holy Spirit to lead them into all truth and sanctification.
PM: Hence, we also invited religious leaders to be here with us tonight. Help your flocks to understand our limitations and guide them to practise their faith taking our context into account. Please teach them accommodation, as this is what all religions preach. I look forward to religious communities continuing to do good for Singapore.
“Tolerance,” “accommodation,” “mutual respect” and “being accepting” are all buzzwords of City Harvest Church. These are not foreign or new concepts to us. These are the values of new covenant Christianity. This is how we have always run CHC. They are an integral part of our DNA. In the last 20 years, we have grown our church by loving and serving people, not by knocking down other races, religions or communities. Let us continue to stay engaged to our culture as the salt and light of the earth (Matt. 5:13-16), promoting the common good for all.

2 Mei 2010

Postmodern dan Gereja

Artikel di terjemahkan dari situs: www.konghee.com
Pastor: City Harvest Singapore 

Apa itu postmodernisme? Haruskah orang Kristen dan gereja-gereja yang lebih kontemporer dalam ibadah mereka dan gaya pelayanan segera diberi label sebagai "postmodern"? Apakah itu kafir total, sekularisasi masyarakat dan Gereja? Lebih khusus lagi, adalah City Harvest menjadi postmodern dalam upaya untuk menjadi budaya yang relevan?

Postmodernisme adalah periode pemikiran dan ideologi yang muncul setelah Era Modern. Modernitas dianggap suatu periode pemikiran di Eropa yang dikembangkan dari Renaissance (abad ke-14-17) dan tumbuh dalam Pencerahan (abad ke-17 ke-19). Itu adalah waktu pengembangan yang signifikan dalam bidang ilmu pengetahuan, politik, perang dan teknologi. Postmodernisme adalah suatu reaksi terhadap periode tersebut. Menurut definisi, postmodernisme secara harfiah berarti "setelah modernitas." Hari ini, masyarakat pada umumnya adalah menghadapi lonjakan terhadap pemikiran modernis yang lebih besar, apakah itu menyadari atau tidak.

Modernisme, sebagai sebuah ideologi, merupakan rasionalisasi dan kategorisasi dunia sosial. Dalam pandangan dunia modern, segala sesuatu dalam hidup ini, dan harus, ditafsirkan secara rasional. Sains dan logika telah mencapai keunggulan seperti dalam semua wacana publik bahwa segala sesuatu harus dijelaskan melalui lensa mereka. Semua itu tidak ilmiah harus ditolak. Menurut pandangan modern, ilmu pengetahuan dan iman tidak dapat mencampur sejak transaksi terakhir dengan wilayah yang dijelaskan. Karena pengetahuan dan kecerdasan inordinately ditinggikan, modernis selalu menjadi elitis dalam kategorisasi mereka dari masyarakat. Contohnya adalah Adolf Hitler yang percaya pada supremasi absolut dari ras Arya atas semua ras lain. Enam juta orang Yahudi dibunuh dalam Holocaust karena dalam "analisis ilmiah Hitler," mereka tidak layak mendapatkan tempat di dunia yang beradab.

Postmodernisme, di sisi lain, tantangan yang prasangka dan keyakinan dari Zaman Modern. Ini berusaha secara radikal menafsirkan kembali apa yang saat ini diklasifikasikan sebagai pengetahuan yang berlaku umum. Untuk pascamodernis sebuah, konsep-konsep seperti benar dan salah, baik dan buruk, atau apa yang benar dan yang salah tidak mutlak, tetapi bisa berubah dari budaya ke budaya, dan situasi ke situasi. Dengan demikian, postmodernisme merupakan budaya dan etika relativisme mengenai kebenaran, kenyataan, alasan, nilai, makna linguistik, seni, arsitektur, dan setiap bentuk lain dari kehidupan sosial. Para dogmatis, atau siapa saja yang percaya pada suatu kebenaran hakiki, dianggap menjijikkan dan berbahaya.

Sebagai sebuah pandangan dunia, postmodernisme membenci yang stereotip kelas sosial menurut jenis kelamin, ras, umur, dll reaksi terhadap apa yang mempersepsikan sebagai prasangka angkuh dari modernis, ia menghargai dan terutama empathizes dengan yang terpinggirkan. Ini menolak chauvinisme dan penindasan yang diberikan oleh setiap jenis kelamin, kelompok atau penyebab atas orang lain (putih vs hitam, pria vs wanita, kaya vs miskin, berpendidikan vs buta huruf, mampu vs cacat, agama vs nonreligius, dll) . Ini bertujuan untuk juara nasib pertumbuhan populasi orang-orang yang terpinggirkan secara sosial atau dikucilkan.
Postmodernisme adalah yang paling banyak diterima dan dihormati dalam kerangka arsitektur. Ambil Guggenheim Museum Bilbao di Spanyol, dirancang oleh arsitek terkenal, Frank Gehry. Alih-alih merancang bangunan dalam skema sederhana dan logis, Gehry ingin menantang prinsip-prinsip yang berlaku umum arsitektur. Tidak ada garis lurus di dalam gedung karena setiap dinding melengkung. Setiap sudut yang terlihat dari memberikan Anda perspektif baru bangunan. Tidak ada dua foto dari Guggenheim pernah terlihat sama. Dan karena berlokasi di tepi sungai, façade titanium mencerminkan berbagai nuansa warna sepanjang hari. Hasil dari semua ini adalah bahwa tidak ada yang dapat mengklaim gambar mutlak museum. Hal ini relatif terhadap posisi melihat dan waktu hari. Dengan ketiadaan dari absolut visual, Guggenheim dianggap sebagai perwujudan dari konsep postmodernisme.

Konsep pascamodernisme juga dinyatakan dalam bidang seni. Hal ini terutama berlaku dalam kasus gerakan seni awal abad ke-20 yang dikenal sebagai Dada, yang mempromosikan konsep mempertanyakan norma-norma yang sebelumnya ditetapkan dalam seni. Meskipun dipengaruhi sastra, teater dan desain grafis, gerakan ini yang paling sangat diakui untuk dampaknya dalam drastis menantang perintah-perintah dasar seni rupa. Sebuah karya seni yang mencontohkan konsep adalah Fountain oleh Dadaist seniman terkemuka saat itu, Marcel Duchamp.
Fountain hanyalah sebuah wadah limbah umum manusia. Untuk seorang modernis, wadah ini hanya merupakan instrumen, fungsional ilmiah untuk membuang limbah. Mengambil objek yang umumnya dianggap kotor dan tidak berharga, Duchamp dikonversi menjadi sebuah karya seni mahal. Dia menanamkan nilai ke sebuah obyek yang paling berharga akan mempertimbangkan. Duchamp ingin membuktikan poin: dengan seni fabricating dan mendapatkan masyarakat menganggapnya sebagai bermakna, kita dapat meningkatkan nilai dan nilai. Ini menyatukan perbedaan yang signifikan antara masyarakat modernis dan modernis. Sementara tempat modernis nilai yang lebih besar pada, postmodernis tempat nilai intrinsik yang lebih besar pada ekstrinsik. Dengan karya seni nya, Duchamp menunjukkan bahwa dalam dunia postmodern, kebenaran tidak lagi tergantung pada nilai intrinsik (sebuah wadah, umum kotor); ekstrinsik tergantung pada bagaimana masyarakat mendefinisikan itu (sebuah karya mahal dari seni rupa).
Seperti halnya sistem ideologis atau isme, ada aspek positif dan negatif kita dapat memungut dari postmodernisme:

Aspek positif Postmodernisme
1.  Karena postmodernisme memiliki penghinaan untuk apa yang dilihatnya sebagai arogan kemutlakan sains dan logika, itu membuat ruang untuk kemungkinan iman dan supranatural. Ilmu pengetahuan dan iman dapat hidup berdampingan.

2. Postmodernisme adalah empati terhadap yang terpinggirkan dan tertindas, percaya nilai yang dapat ditambahkan ke orang-orang yang mungkin dianggap berharga. Dalam konteks ini yang lebih pendeta dan pemimpin gereja saat ini mulai menganggap diri mereka sebagai "orang Kristen postmodern."
(Www.christianitytoday.com/ct/2000/november13/7.74.html)

3. Hal ini memungkinkan toleransi yang lebih besar antara keyakinan, dan berpotensi membuka jalan bagi Amanat Agung melalui cinta yang lebih besar dan penerimaan untuk non-Kristen.

4 Hal ini memungkinkan untuk kebebasan berpendapat dalam perspektif seseorang tentang "kebenaran" yang relatif atau non-absolut. Hal ini menjadikan satu kurang menghakimi dan mengutuk terhadap perilaku, gaya dan preferensi pribadi yang mungkin kurang konvensional. Ini adalah penawar sifat munafik benar sendiri.

5. Hal ini memungkinkan untuk empati yang lebih besar menuju masyarakat yang semakin pluralistik, menantang kita untuk tidak keluar dari berhubungan dengan bagaimana orang berpikir dan fungsi saat ini.

6. Konsep kontrol, kekuasaan dan kepastian digantikan dengan cinta, pelayanan dan iman.

7. Postmodernisme memungkinkan keterbukaan lebih untuk spiritual dan kebenaran emosional, dan epistemologi (teori pengetahuan) yang melampaui batasan sains, logika dan alasan.

Aspek negatif Postmodernisme
1.  Postmodernisme adalah skeptis mengenai semua klaim kebenaran. Dibawa ke sebuah ekstrim, itu adalah perseteruan terhadap mereka yang mengklaim mengetahui kebenaran mutlak. Postmodernis bisa menjadi sangat menentang orang-orang yang percaya pada ketidakmungkinsalahan dan infalibilitas Alkitab. Filsuf Jerman Friedrich Nietzsche (1844-1900) berpendapat bahwa mereka yang menerima sistem etika Yahudi-Kristen, yang ia sebut sebagai moralitas budak "," menderita dari kepribadian lemah dan takut. Seorang yang berbeda dan lebih kuat dari orang semacam, katanya, akan menolak nilai-nilai etika dan menciptakan dirinya.

2. Postmodernisme dilihat semua klaim untuk pengetahuan sama-sama sah, terlepas dari preposterousness jelas di klaim tertentu (misalnya, "aku tidak ada).

3. Postmodernisme dilihat individu semata-mata sebagai konstruksi masyarakat. Dengan demikian, tanggung jawab individu untuk hidup menurut Firman Allah berkurang.

4 Seseorang yang pertanyaan keyakinan lain berkaitan dengan faktualitas dianggap tidak toleran.

5. proposisional kebenaran, atau kebenaran yang ditemukan, dianggap inexistent. Sebaliknya, hanya posisi masyarakat, bukan individu, dianggap sah. Tapi bagaimana kalau perbudakan, genosida, atau penyalahgunaan fisik perempuan dimaafkan dan dianggap "benar" menurut standar masyarakat? Apakah itu membuat mereka benar? Tanpa standar objektif untuk moralitas, relativisme budaya dan etika dapat mengakibatkan konsekuensi yang mengerikan di masyarakat.

6. Postmodernis sering melihat kemajuan, entah itu ilmiah, pendidikan, politik, dan sebagainya, sebagai merugikan. Kemajuan setara dengan dominasi dari marjinal.

7. Toleransi terhadap setiap keyakinan, kecuali terhadap mereka yang merasa bahwa keyakinan mereka lebih penting daripada orang lain. Paradoks di sini adalah bahwa dalam semangat mereka untuk mempromosikan toleransi, postmodernis sendiri bisa menjadi sangat tidak toleran terhadap mereka yang tidak berbagi pandangan mereka sendiri postmodern.
Reaksi Kristen / Respon untuk Postmodernisme

Seperti kebanyakan kasus, orang Kristen harus mengambil sikap yang moderat terhadap postmodernisme, menyerap aspek positif dan menolak yang negatif. Kami tidak berlangganan ideologi bahwa individu hanyalah produk dari masyarakat sendiri, atau bahwa kebenaran harus ditentukan oleh sekelompok individu kolektif. Dan sementara pendapat yang penting, kita berpegang pada yang mutlak ditemukan dalam Kitab Suci, dan tidak bimbang dalam keyakinan ketika datang dengan hukum moral dan prinsip-prinsip dasar iman kita.
Namun, yang mengatakan bahwa, orang Kristen memiliki kecenderungan untuk mengarah ke arah sifat munafik dan legalisme. konservatisme Self-benar berusaha untuk menjaga Gereja terisolasi, dibersihkan dan tidak berhubungan dengan masyarakat kontemporer. posisi saya sendiri ini adalah: dalam hal-hal yang mutlak (Sepuluh Perintah, Pengakuan Iman Rasuli, dll), marilah kita mutlak. Tapi dalam hal-hal yang non-mutlak (anggur-minum, tattooing, budaya pop, dll), mari kita memungkinkan untuk kebebasan yang ada di dalam Yesus Kristus (Galatia 5:1).
Sebuah kontribusi utama dari postmodernisme adalah apresiasi terhadap terpinggirkan, dan mereka yang sebelumnya dianggap tidak signifikan. Ini benar-benar sesuai dengan kasih Allah telah menuju miskin, miskin, rusak dan disalahgunakan (Is. 58:10, Lukas 4:18-19, Yakobus 2:14-17).

Postmodernisme harus memprovokasi orang-orang yang takut memeluk suatu injil "sosial" untuk memiliki hubungan yang lebih besar, hormat dan pelayanan dengan menyakiti dan terluka di dunia. Toleransi bukan kata jahat. Sebagai orang Kristen, kita harus berpegang pada keyakinan moral Firman Allah dalam hati kita. Namun pada saat yang sama, kita harus lebih ramah dan menerima dari mereka yang berbeda keyakinan dari kita. Saldo adalah kuncinya.
Navigasi Dalam Masyarakat Majemuk
Melekat dalam masyarakat postmodernis adalah konsep pluralisme: ada array besar agama dan keyakinan bahwa orang mematuhi. Ada tiga pendekatan konseptual seorang Kristen boleh berasumsi terhadap orang yang percaya dalam agama-agama lain.

1.  Eksklusivisme. Hal ini didasarkan pada gagasan bahwa "aku benar, kau salah", sebuah sikap pembatalan terhadap kepercayaan orang lain. Rasul Paulus mengerti bahwa dia tidak perlu membongkar keyakinan orang lain melalui kritik dan kutukan agar dia berbicara tentang iman sendiri. Sebaliknya, Paulus berusaha menjadi seperti hormat dan relatable untuk pendengarnya dalam usahanya untuk memenangkan mereka kepada Kristus (Kisah 17:22-34).

2. Universalisme. Hal ini dapat diringkas oleh pernyataan, "Selama Anda tulus, maka apa pun yang Anda percaya benar." Ini adalah kebalikan dari eksklusivisme, dan sikap populer postmodernis yang ekstrim. Masalah mendasar yang membuat posisi ini tidak masuk akal adalah kenyataan bahwa setiap agama atau kepercayaan menyajikan klaim sendiri untuk kebenaran mutlak. Universalisme mengambil toleransi ke ekstrim, dan meskipun awalnya mungkin tampak terhormat, itu mengarah ke jalan buntu dalam upaya pelayanan.

3. Inklusivisme. "Kami percaya kita benar, tapi kami terbuka untuk mendiskusikan dan mencakup cara lain untuk berpikir dalam diskusi kami." (Inklusivisme tidak menjadi bingung dengan Injil "sesat inklusi.") The New Oxford American Dictionary mendefinisikan "inklusivisme" sebagai "niat atau kebijakan termasuk orang-orang yang dinyatakan mungkin akan dikecualikan atau terpinggirkan, seperti cacat, belajar-cacat, atau ras dan minoritas seksual." Ini adalah pendekatan kita harus ambil untuk membawa kasih Allah kepada audiens semakin kritis dan canggih di abad 21.
Jadi, kembali ke pertanyaan: City Harvest adalah sebuah gereja postmodern? Jawaban saya adalah baik No dan Ya.
Tidak, dalam arti bahwa kita percaya Alkitab menjadi mungkin-salah, sempurna Firman Allah. Kita hidup dengan Sepuluh Perintah Allah dan prinsip-prinsip dasar iman Kristen kita yang dituangkan dalam Pengakuan Iman Rasuli, yang Nicea Creed, dll

Tapi, ya, dalam arti bahwa kita berusaha untuk menjadi seorang toleran, menerima dan orang-orang ramah. Kami cinta yang terpinggirkan dan tertindas, percaya nilai yang dapat ditambahkan ke orang-orang yang dianggap berharga. Kami tidak bertentangan dengan masyarakat atau budaya populer, tetapi berusaha untuk terlibat secara keseluruhan sebagai garam dan terang (Matius 5:13-16).
Meskipun kami tinggal di-rusak, dunia menyimpang, saya tidak percaya dalam menjaga Kristen naif dan bodoh dari realitas yang keras dari masyarakat. Sekali lagi, di absolut, kita harus mutlak. Tapi non-absolut, kita harus membiarkan kebebasan preferensi pribadi dan memberikan ruang untuk Roh Kudus memimpin setiap orang Kristen secara individual. Aku tidak pernah ingin Gereja City Harvest begitu terisolasi dan disterilkan bahwa kita menjadi kehilangan kontak dengan dunia. Melainkan, saya ingin mendidik dan memberdayakan generasi saya menjadi sebagai kreatif dan penuh warna mungkin, hidup, dinamis yang canggih, kehidupan diurapi dalam ketaatan kepada Kristus dan penyebab kerajaan-Nya.

Followers