Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

21 Agu 2014

Mengatasi Masalah Kehidupan

Kita harus mengerti bahwa setiap pencobaan memiliki tujuan untuk memperbesar kapasitas atau daya tampung kita!

Bagaimana pun juga ingatlah, semuanya itu pada satu hari kelak akan selesai, sebesar apa pun pencobaan atau masalah kehidupan kita. Hal ini akan membuat materai tertentu di hati kita atau termeterai dalam hati kita.

Oleh karena itu pesan saya adalah apa pun yang Tuhan limpahkan dalam kehidupan kita, janganlah akhirnya kita terikat dengan harta duniawi, namun biarkanlah hati kita melekat hanya kepada Tuhan, dan bukan melekat kepada dunia!

Sebab pada hari Tuhan Yesus datang, sebenarnya yang menimbang itu adalah hati kita sendiri.
Apakah kita inginkan Tuhan, ataukah kita inginkan dunia?

Apabila pada hari-hari itu, hati Anda lebih cenderung kepada dunia maka sekuat apa pun “tarikan” Tuhan untuk membawa Anda naik pada hari kedatangan-Nya maka tarikan Tuhan itu tidak akan cukup kuat menarik Anda, sebab hati Anda lebih melekat kepada dunia. Dan hal inilah yang membuat seseorang tertinggal di hari kedatangan-Nya!

Oleh karena itu, janganlah biarkan hati Anda melekat kepada dunia, tetapi fokuskanlah dan biarkanlah hati Anda melekat kepada Tuhan! Dan itu akan menjadi kita semua umat yang layak bagi kedatangan-Nya kelak.

Pencobaan adalah sebuah salah bentuk untuk melihat ke dalam hati kita, sebab lewat pencobaan akan menunjukkan siapa kita sebenarnya. Apakah orang yang mengasihi Tuhan, yang hatinya melekat kepada Tuhan atau kepada dunia…

Yakobus 1:2-4

Saudara- saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai- bagai pencobaan, 3 sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. 4 Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.
Adalah sulit untuk bisa menganggap sebagai suatu kebahagiaan apabila kita sedang menghadapi pencobaan atau masalah dalam hidup ini, seperti mengadapi problem keuangan, problem rumah tangga, problem ditinggal oleh orang yang dikasihi, problem sakit penyakit, problem-problem kehidupan yang berat…

Mengapa Tuhan memerintahkan kita untuk menganggap sebagai suatu kebahagiaan apabila kita sedang mengalami pencobaan?

Ingatlah tidak ada kemenangan tanpa peperangan!
Dan tidak akan ada peperangan tanpa musuh kehidupan (pencobaan). Ketika musuh kehidupan itu muncul di depan Anda, ketahuilah bahwa itulah cara Tuhan mengumumkan: Mujizat dan Kemenangan-Nya yang ajaib akan segera datang dalam hidup kita.
Ingatlah ukuran musuh kehidupan Anda adalah sebuah petunjuk tentang ukuran kebesaran Anda di masa depan yang Tuhan sediakan bagi Anda!
Kita ingin agar Tuhan menyusutkan ukuran musuh kehidupan kita, jikalau boleh cukuplah sebesar “kurcaci” atau orang kerdil, tetapi Tuhan berkata: “TIDAK!” Jikalau Aku harus menyusutkan ukuran musuhmu maka Aku pun harus menyusutkan ukuran masa depanmu. Aku tidak mau menyusutkan ukuran masa depanmu. Aku sudah menetapkan sebuah rancangan masa depan dengan yang penuh harapan, besar dan tidak terduga bagi Anda.

Yeremia 29:11

Sebab Aku ini mengetahui rancangan- rancangan apa yang ada pada- Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.
Kisah Daud dan Goliat.

Daud yang kecil melawan Goliat yang raksasa, namun Daud tidak pernah mengeluh tentang betapa besarnya Goliat itu.
Cobalah Anda bayangkan apabila Goliat hanyalah seorang kurcaci, orang kerdil, maka Daud tidak akan pernah masuk ke istana raja, menjadi seorang panglima perang dan raja Israel. Faktanya Goliat adalah raksasa. Daud berhasil menaklukkan Raksasa, itulah alasannya ia diangkat menjadi raja!

Ingatlah akan hal ini, yaitu sebelum Tuhan memakai Anda atau mengangkat hidup Anda maka ia akan munculkan “musuh kehidupan” supaya Anda pantas menerimanya!

Kata “pencobaan” di sini adalah sebuah ujian atau testing yang bertujuan untuk mengukur kapasitas atau daya tampung seseorang!

Pencobaan di sini bukanlah untuk menghancurkan (destroy) namun untuk membangun (develop) Anda
(dibaca: Mazmur 34:19-21).

Seperti halnya tiang pancang, akan mengalami uji beban (loading test), di mana seorang insinyur akan menaruh beban yang besar ke atas tiang pancang tersebut! Maksud dan tujuan test ini bukanlah untuk menghancurkan tiang pancangnya namun untuk mengukur daya tahan tiang pancang itu untuk menahan dan mengangkat beban di atasnya agar dapat dibangun sebuah bangunan besar yang indah dan kokoh!

Oleh karena Tuhan tidak akan pernah memberikan berkat-Nya yang ajaib itu tanpa melengkapi kita lebih dahulu dengan karakter dan kapasitas tertentu maka kita harus belajar bersukacita dan berbahagia apabila kita sedang berada di dalam pencobaan (problem).

Kita mengerti bahwa Tuhan punya ALASAN mengapa pencobaan itu harus kita alami sekarang! Tuhan punya CARA yang ajaib untuk menolong kita keluar dari krisis atau masalah ini! Dan Tuhan pun punya WAKTU-Nya yang tepat untuk memberikan pertolongan sehingga kita melihat mujizat itu nyata!

Kita tahu bahwa setiap masalah atau pencobaan adalah ujian untuk memperbesar kapasitas dan daya tampung kita untuk menerima berkat terbaik dari Tuhan bagi hidup kita!

27 Apr 2014

Adakah Hidup Kekal

Alkitab menunjukan jalan yang jelas untuk mendapatkan hidup kekal. Pertama, kita perlu mengakui bahwa kita telah berdosa kepada Tuhan: “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Roma 3:23). Kita semua telah melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan Tuhan dan pantas menerima hukuman. Karena pada dasarnya semua dosa kita adalah kepada Tuhan yang kekal, maka hanya penghukuman kekal yang pantas kita terima. “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Roma 6:23).

Namun demikian, Yesus Kristus, Anak Allah yang kekal dan tanpa dosa (1 Petrus 2:22) telah menjadi manusia (Yohanes 1:1, 14) dan mati untuk membayar hukuman kita. “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” (Roma 5:8). Yesus Kristus mati di salib (Yohanes 19:31-42), dan menanggung hukuman yang seharusnya kita tanggung (2 Korintus 5:21). Tiga hari kemudian, Dia bangkit dari antara orang mati (1 Korintus 15:1-4), menyatakan kemenanganNya atas dosa dan kematian. “Yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan” (1 Petrus 1:3).

Dengan iman kita harus meninggalkan dosa kita dan berbalik kepada Kristus untuk mendapatkan keselamatan (Kisah Rasul 3:19). Jika kita menaruh iman kita kepadaNya, percaya kepada kematianNya di atas salib untuk membayar dosa-dosa kita, kita akan diampuni dan diberikan hidup kekal di surga. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" (Yohanes 3:16). “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.” (Roma 10:9). Hanya iman di dalam karya Yesus yang telah diselesaikan di atas salib yang merupakan satu-satunya jalan kepada hidup kekal! “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri” (Efesus 2:8-9).

Jikalau Anda ingin menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat Anda, berikut ini adalah sebuah contoh doa. Ingat, sekedar mengucapkan doa ini atau doa-doa lainnya tidak akan menyelamatkan Anda. Hanya dengan percaya kepada Yesus yang dapat menyelamatkan Anda dari dosa. Doa ini hanyalah sebuah cara untuk mengungkapkan iman Anda kepada Tuhan dan berterima kasih kepadaNya untuk menyediakan keselamatan Anda. “Tuhan, saya tahu saya telah berdosa kepadaMu dan pantas untuk dihukum. Namun Yesus Kristus telah mengambil hukuman yang sepantasnya saya tanggung supaya melalui iman kepadaNya saya bisa diampuni. Saya bertobat dari dosa-dosaku dan percaya kepadaMu untuk keselamatanku. Terima kasih untuk anugrah dan pengampunanMu yang ajaib, untuk anugrah hidup kekal! Amin!”

Sumber: GotQuestions

14 Apr 2013

Doa Yabes Bagi Orang Kristen

Oleh Pdp. Filipus Heryanto, SE, MA

Dalam kitab 1 Tawarikh 4 : 9 -10 menulis : Yabes lebih dimuliakan dari pada saudara-saudaranya; nama Yabes itu diberi ibunya kepadanya sebab katanya : “Aku telah melahirkan dia dengan kesakitan.” Yabes berseru kepada Allah Israel, katanya : “Kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah dan memperluas daerahku, dan kiranya tangan-Mu menyertai aku, dan melindungi aku dari pada malapetaka, sehingga kesakitan tidak menimpa aku !” Dan Allah mengabulkan permintaannya itu.

Ayat ini menjelaskan siapa Yabes dan apa yang ia perbuat termasuk apa yang dia doakan dan doa tersebut dikabulkan oleh Allah. Yabes adalah sosok pribadi yang memiliki iman yang kuat dan mengetahui kehendak Allah atas hidupnya dengan pasti.

 Sejak penciptaan manusia Allah mempunyai rencana untuk memberkati ciptaannya ini dengan berkat yang berlimpah-limpah (Kejadian 1 : 28). Saat Yabes menaikkan doa supaya ia diberkati berlimpah-limpah dan daerahnya semakin diperluas serta meminta penyertaan dan perlindungan Allah atas hidupnya. Ini sesuai dengan janji Firman Tuhan atas manusia supaya mereka bertambah banyak, menaklukan bumi dan berkuasa atas segala binatang yang ada di bumi

Ada tiga pokok utama dari doa yang Yabes naikkan kepada Allah dan ketiga hal utama ini juga memiliki arti yang penting bagi setiap orang Kristen pada saat ini :

1. Kiranya Engkau memberkati aku dan memperluas daerahku

Pokok pertama ini berarti Yabes menghendaki suatu kemajuan yang ingin ia capai. Bukan hanya kemajuan dalam hal jasmani saja tetapi juga dalam hal rohani. Ia sadar dengan segala berkat yang Allah beri padanya maka ia sanggup turut memperluas Kerajaan Allah bahkan sampai ke daerah-daerah yang lainnya.

Yabes mengingatkan setiap orang Kristen bahkan gereja Tuhan untuk melihat, mendengar dan ambil bagian dalam memperluas Kerajaan Surga karena saat ini banyak orang Kristen tidak malu jika tidak maju padahal Amanat Agung haruslah kita lakukan bagi pelebaran Kerajaan Allah di bumi (Matius 28 : 19 – 20).

2. Kiranya tangan-Mu menyertai aku

Yabes meminta penyertaan Tuhan dalam segala yang ia kerjakan. Ia sadar bahwa tanpa Tuhan ia tidak dapat melakukan apa-apa. Yesus mengatakan : “Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kami tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yohanes 15 : 5). Kita seharusnya juga selalu meminta penyertaan Tuhan bagi segala yang akan kita kerjakan seperti Elisa meminta bagian dari Roh Allah yang ada di dalam Elia, Yakub terus memegang Malaikat Tuhan untuk memberkatinya. Adalah menjadi bagian orang percaya untuk selalu mengingatkan Tuhan akan janjiNya supaya janji tersebut dapat terjadi dalam kehidupan kita.

3. Kiranya tangan-Mu melindungi aku dari malapetaka

Yabes meminta Allah menjadi pelindung dan perisai bagi keselamatannya. Yabes menyadari segala kelemahan dan kekurangannya bahwa ia tidak akan pernah luput dari malapetaka atau pun kesakitan. Hanya Tuhanlah yang dapat menjagainya dan meluputkannya dari malapetaka dan kesakitan yang dating dalam kehidupannya. Kita sebagi orang-orang Kristen yang telah Yesus tebus dengan darahNya dan Yesus telah memberikan kesembuhan atas segala kelemahan dan sakit penyakit kita dengan rela menderita di kayu salib supaya kita dapat dibebaskan dari hal tersebut.

Yabes mengajarkan kepada setiap orang percaya supaya kita jangan hanya cukup menjadi jemaat atau bahkan menjadi turis rohani saja, yang datang untuk makan kenyang lalu tidur. Seperti Yabes meminta kepada Allah suatu kemajuan dalam hidupnya sehingga mampu memperluas Kerajaan Surga dalam apa yang ia kerjakan. Itu juga yang seharusnya dimiliki setiap orang percaya untuk bangkit membawa Firman Tuhan dan menjadi saksi-saksi Kristus untuk memberitakan Injil Kristus sampai ke ujung-ujung bumi.

Bangkitlah , menjadi teranglah, sebab terangmu datang,

7 Apr 2013

Merespon Panggilan: Bukan Kemampuan Kita, Tapi Kemauan

Ayat bacaan: Filipi 4:19
=================
"Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus."

Sewaktu kecil saya sering diminta ayah saya untuk pergi ke warung membeli sayur, bawang atau bumbu masak lainnya yang akan ia pakai untuk memasak telur dadar. Pada waktu itu hari minggu adalah satu-satunya hari yang bisa dipakai oleh ayah saya untuk melakukan kegemarannya sibuk-sibuk di dapur, karena di hari kerja jadwalnya penuh dalam bekerja sebagai dokter. Saya masih ingat betul pada mulanya saya ragu apakah saya mampu melakukan itu. Bagaimana jika saya ditipu harga, diberi kembalian yang tidak benar atau kendala-kendala lainnya seperti salah beli sayur, bumbu dan sebagainya? Satu hal yang ayah saya katakan pada waktu itu juga masih membekas dalam memori saya sampai hari ini. Ia berkata bahwa jika saya ia suruh, itu artinya ia percaya saya mampu. Akan halnya soal berhitung uang kembalian, bukankah saya sudah ia beri kesempatan untuk bersekolah, disamping ia dan ibu saya juga rajin mengajari saya dalam banyak hal termasuk matematika? Dan soal salah beli, kalaupun salah saya tinggal menukarkannya kembali, atau saya bisa bertanya kepada si penjual. Kalau begitu tidak ada yang harus saya khawatirkan. Saya tinggal mengaplikasikannya ke dalam bentuk nyata. Pengalaman hidup nyata yang sederhana ini ternyata teraplikasikan dalam kehidupan saya setelah dewasa, dan ternyata pula merupakan sebuah cerminan tentang bagaimana reaksi kita dalam menanggapi panggilan yang diberikan Tuhan.

Keraguan, itu akan selalu hadir ketika kita dihadapkan kepada sebuah tugas, tantangan dan juga sebuah panggilan. Logika kita akan segera mengukur batas kemampuan kita, dan di saat ukuran kita tidak sebanding dengan besarnya tanggungjawab yang dibebankan, maka keraguan pun segera muncul. Padahal apa yang diminta Tuhan bukanlah soal kemampuan kita, tetapi kemauan kita. Bukan kepintaran, kekuasaan, koneksi, keahlian atau gelar kita yang membuat Tuhan tertarik untuk memberi sebuah tanggungjawab lewat panggilan, tetapi kesediaan kita untuk mengerjakannya dengan taat, itulah sebenarnya yang diinginkan Tuhan. Selebihnya serahkan kepada Tuhan. Dia adalah Tuhan yang menyediakan (Jehovah Jireh), dan oleh karenanya segala keperluan kita butuhkan untuk mengerjakan sebuah panggilan tentu Tuhan sendiri yang akan sediakan. Dan lihatlah ayat yang secara tegas menyatakan hal itu. "Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus." (Filipi 4:19). Jika untuk keperluan-keperluan kecil kita saja Tuhan mau sediakan, apalagi untuk sebuah tujuan besar sesuai rencanaNya yang hadir dalam bentuk panggilanNya bagi kita masing-masing.

Jadi lihatlah bahwa ada perbedaan antara ukuran kesanggupan kita menurut penilaian kita sendiri dan pandangan Tuhan tentang kesanggupan kita menurut hematNya. Kita bisa melihat sebuah contoh akan kebimbangan ini lewat kisah Musa pada saat ia dipilih Tuhan untuk memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan untuk menuju tanah terjanji. Musa seperti kebanyakan dari kita langsung mengarahkan pandangan kepada keterbatasannya sebagai pribadi yang punya kelemahan fundamental yang bagi manusia mungkin akan dianggap sebagai nilai minus atau bahkan penghalang menuju keberhasilan. "Lalu kata Musa kepada TUHAN: "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah." (4:10). Berat mulut dan berat lidah, slow of speech and have a heavy and awkward tounge dalam bahasa Inggrisnya. Mungkin itu sejenis gagap, atau sekedar bukan orang yang pintar berbicara seperti layaknya orator ulung. Musa segera mengarah kepada kelemahannya dan lupa bahwa Tuhanlah sebenarnya yang menjadi pelaku utamanya, bukan dia. Itulah yang kemudian diingatkan Tuhan. "Firman Allah kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu." (3:14). Dalam versi bahasa Inggrisnya dikatakan "I AM WHO I AM and WHAT I AM, and I WILL BE WHAT I WILL BE." Tuhan secara jelas menyatakan bahwa siapa Tuhan itu jauh lebih penting daripada siapa Musa. "Akulah Aku", itu jauh lebih penting dari 'siapa aku.' Tuhan tidak melihat atau mengukur kehebatan diri kita, tetapi apa yang Dia minta adalah kemauan atau kesediaan kita. Itu saja. Selebihnya, Dialah yang akan melengkapi segala sesuatu yang kita butuhkan agar bisa berhasil menggenapi panggilanNya dengan baik.

Sikap sebaliknya kita dapati ketika Yesaya berada dalam situasi mirip dengan Musa saat mendapat panggilan Tuhan. Berbeda dengan Musa, Yesaya langsung menyatakan kesiapannya tanpa menghitung-hitung kemampuannya terlebih dahulu. "Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!" (Yesaya 6:8). Singkat namun tegas, demikian reaksi Yesaya. "Here am I, send me." Apakah Yesaya termasuk orang yang percaya diri berlebihan? Narsis? Sok hebat? Saya percaya bukan itu. Saya yakin Yesaya sangat tahu sampai dimana batas kemampuannya sebagai manusia. Tetapi ia menyadari betul bahwa ia hanyalah seorang utusan, seorang hamba. Ia tidak perlu takut. Bukankah ia memiliki "Tuan" dengan kuasa yang tidak terbatas? Bukankah ketika sang tuannya yang menyuruh, itu artinya tuannya tahu ia mampu, dan tuannya pula yang akan melengkapi apapun yang ia perlukan untuk melaksanakan tugas? Ini sebuah sikap yang seharusnya segera muncul dalam diri kita ketika Tuhan memberi sebuah panggilan. Bukan segera melihat kekurangan atau keterbatasan kemampuan kita, tetapi segera mengarahkan pandangan kepada Sang Pemberi tugas. Bukan mengeluh, tetapi sudah sepantasnya kita bersyukur karena kita dipilih Tuhan untuk melakukan pekerjaan yang mulia. Bukan kemampuan kita yang penting, tetapi kemauan kita. Selebihnya biarkan Tuhan yang berkreasi diatas segalanya lewat diri kita.

Dalam dua renungan terdahulu kita sudah melihat bagaimana caranya agar kita bisa mengerjakan panggilan secara maksimal. Hari ini marilah kita sadari bahwa apa yang diminta Tuhan adalah kesediaan kita, what He wants from us is simply our willingness, our obedience, our immidiate positive response based on trust and faith. Adakah panggilan Tuhan kepada anda yang hingga hari ini masih anda tunda karena ragu? Adakah panggilan Tuhan yang masih anda abaikan karena anda masih tidak percaya bahwa anda sanggup? Jangan tunda lagi, terimalah segera dan beranilah berkata seperti Yesaya: "Ini aku, utuslah aku!"

Bukan kemampuan kita, tetapi kemauan kita, itulah yang diminta Tuhan

Sumber: Renungan Harian Online

5 Apr 2013

Bergembira Dalam Kelelahan

Ayat bacaan: Amsal 15:13
====================
"Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat."

hati yang gembira, lelahTerkadang saya berpikir betapa manusia cenderung untuk sulit merasa puas. Selalu ada saja yang dikeluhkan, selalu ada yang kurang. Hal yang sama pun terjadi pada saya. Dulu, ketika saya belum memiliki pekerjaan, saya mengeluh dan terus berusaha dan meminta agar kiranya Tuhan memberkati saya dengan pekerjaan. Saat ini, ketika saya diberkati dengan pekerjaan yang begitu banyak sehingga saya tidak berhenti bekerja sejak pagi hingga lewat tengah malam selama beberapa hari terakhir ini, akhirnya malam ini tubuh saya terasa berontak. Saya merasa capai, uring-uringan dan akhirnya mengeluh. Jadi pengangguran mengeluh, punya pekerjaan banyak mengeluh. Tapi barusan saya mendapat teguran dalam hati saya, bahwa saya tidak boleh berlarut-larut membiarkan hal itu terjadi. Apa persisnya yang saya dengar? "manusia ini ya.. tidak punya kerja mengeluh, dikasih kerja mengeluh.." Itu perkataan yang saya dengar. Tuhan mengingatkan lagi pada saya, bahwa semua itu adalah berkat. Berkat yang bukan biasa-biasa, tapi luar biasa. Ada banyak orang yang mencari satu pekerjaan saja sulitnya bukan main, sedangkan saya tengah dipercayakan untuk melakukan banyak hal. Betapa keterlaluan jika saya malah mengeluh dan bukannya bersyukur bukan? Apalagi baru saja kemarin seorang murid saya berkata bahwa dia salut melihat saya, yang walaupun sedang sangat sibuk tapi tetap terlihat ceria seperti tanpa beban pikiran. Itu bentuk yang seharusnya ada dalam hidup anak-anak Tuhan. Tapi malam ini saya malah terpeleset dan kehilangan rasa gembira akibat terlalu lelah. Saya pun melakukan doa singkat, dan saat menulis renungan ini, saya sedang tersenyum. Saya kembali merasakan sukacita, merasakan kegembiraan ditengah kelelahan saya. Dan tubuh saya rasanya jauh lebih ringan.

Salomo menulis serangkaian hikmat mengenai hati yang gembira. Salah satunya adalah ayat bacaan hari ini: "Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat." (Amsal 15:13). Hati yang dipenuhi sukacita akan selalu membuat kita kelihatan ceria, sedangkan keluhan-keluhan akan mematahkan semangat kita. Selanjutnya Salomo berkata: "Hari orang berkesusahan buruk semuanya, tetapi orang yang gembira hatinya selalu berpesta." (Amsal 15:15) Bagaimana tidak buruk? Orang yang bersungut-sungut dan dipenuhi keluhan tidak akan bisa merasa senang dan bahagia. Tidak saja akan membuat perasaannya menjadi semakin tidak baik, tapi juga akan mempengaruhi orang-orang disekitarnya. Istri/suami, anak, orang tua, saudara, teman, tetangga, dan lain-lain, semua bisa kena getahnya. Padahal mereka tidak punya salah apa-apa. Dan ketika hati hanya dipenuhi amarah, kekesalan dan keluhan, semuanya pun terasa buruk. Lalu Salomo mengingatkan lagi: "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang." (Amsal 17:22). Sebuah penelitian menyebutkan bahwa 9 dari 10 penyakit disebabkan oleh pikiran. Dan benarlah apa yang dikatakan Salomo, hati yang gembira merupakan obat yang manjur, tapi semangat yang patah (bandingkan dengan Amsal 15:13 diatas) akan mendatangkan penyakit, atau membuat kita terlihat jauh lebih tua sebelum waktunya.

Saat ini saya berpikir betapa pentingnya kita mengucap syukur dalam segala hal. Anda merasa lelah? Ada Tuhan Yesus yang meringankan beban kita dan memberi kelegaan. (Matius 11:28). Ketika anda merasa beban pekerjaan menyita begitu banyak waktu anda dan membuat anda begitu letih, segera arahkan pikiran anda untuk melihat dari sudut pandang bahwa semua pekerjaan itu adalah berkat dari Tuhan, yang dipercayakan pada anda sesuai talenta yang telah Dia anugrahkan. Jangan fokus pada keletihan dan kesusahan anda dalam menyelesaikan pekerjaan. It's a blessing from God, sesuatu yang seharusnya kita syukuri dan bukan malah membuat kita dipenuhi keluh kesah. Daud mengalami banyak permasalahan dalam hidupnya, tapi Dia tetap fokus kepada rasa syukur pada Tuhan ketimbang tenggelam dalam permasalahannya. "dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu." (Mazmur 37:4). Paulus juga mengingatkan kita untuk terus bersyukur dalam segala hal, baik maupun buruk. "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika 5:8). Sesulit-sulitnya hidup, kita punya Kristus yang telah menyelamatkan kita dan menjanjikan kehidupan kekal penuh damai dan sukacita. Itu adalah hal yang luar biasa besar yang seharusnya mampu membuat kita selalu gembira dalam kondisi apapun.

Senyum saya semakin lebar sekarang, saat renungan ini mencapai akhir. Karena apa yang saya tuliskan juga sedang mengingatkan diri saya sendiri. Saya tidak merasa lelah lagi, karena beban itu telah diangkat dan digantikan dengan sukacita berlimpah. Haleluya. Saya mau bekerja dengan baik dalam segala perkerjaan yang telah dianugrahkan Tuhan pada saya dengan hati yang gembira, dan melakukannya sepenuh hati dengan sungguh-sungguh seperti sedang melakukannya untuk Tuhan (Kolose 3:23). Saya rindu mengajak teman-teman sekalian yang mungkin sedang merasakan kelelahan dalam pekerjaan juga untuk bersama-sama dengan saya mengembalikan kegembiraan dalam hati anda. "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!" (Filipi 4:4).

Gembira itu menyehatkan dan membuat awet muda. Gembira datang dari rasa syukur. Bergembiralah senantiasa

(C) Renungan Harian Online

1 Apr 2013

Bagaimana saya percaya ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS ?

Foto: Bagaimana saya percaya ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS ?


Kesaksian Professor Faouzi Arzouni
Bagaimana saya menjadi seorang pengikut Isa ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS ?

Perjalanan......
Pada intinya adalah perjalanan dari agama ke penyelamatan, saya gambarkan perjalanan hidup saya, dalam proses menjadi pengikut ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS, sebagai perjalanan dari ritual ke perdamaian. Dan ini sangat penting, karena saya dibesarkan dalam pedoman agama islam. Saya tumbuh dan memeluk agama islam dengan seluruh hatiku, sebaik yang bisa dilakukan sebagai seorang anak kecil di keluarga muslim.

Saya lahir di Senegal, Afrika Barat, dari keluarga berdarah Libanon, beragama Shia Muslim dan kami mengikuti pedoman dalam Alquran dan Hadits sebaik mungkin. Keluarga kami sangat beragama dalam semua aspek. Jadi, mengapa saya butuh lebih dari yang kami telah miliki ? Saya tidak pernah membutuhkan apa-apa. Sampai krisis kehidupan yang saya alami dan yang juga dialami semua orang, pada suatu waktu.

Membuat saya bertanya tentang beberapa hal terpenting dalam hidup :

Siapa saya ?

Kenapa saya dilahirkan ?

Apa artinya keberadaanku di dunia ini ?

Mengapa ada masalah ini ?

Mengapa kita mengalami pergumulan dalam hidup ?

Itulah sifat alami dalam manusia.

Untuk bergumul mencari jawaban dan untuk mencari belas kasihan TUHAN YESUS KRISTUS dan berkata, “TUHAN, kenapa?” TUHAN, kenapa aku ?

Apakah aku berbuat salah waktu kecil ?” orang tuaku bercerai dan keluargaku berantakan.

Kenapa kami mengalami pergumulan ketika sedang bertumbuh ?

Kenapa seorang dari latar belakangku membenci orang berkulit hitam ?

Dan kenapa walaupun kami semua muslim, kami semua tidak ada yang akur ?
Saya mulai mengerti saat saya sangat muda bahwa walaupun dengan pembicaraan mulai kami tentang Allah dan agama dalam keluarga, semua itu tidak menutup pintu kesengsaraan dan kerusakan yang dibawa masuk oleh dosa ke keluarga kami dan kehidupan masa mudaku. Saya mengalami semua ini.

Lalu saya mulai tugas untuk mereformasi hidupku karena saya mengira semua yang telah saya alami, semua hal buruk yang saya alami, terjadi karena saya bukanlah muslim yang baik. Saya pun mulai mengubah hidup saya dengan bersikap lebih hati-hati, membaca Alquran, mencoba mengikuti semua tradisi dan tentu melakukan segala ritual dan apapun yang diharuskan.

Tapi tahu tidak ada yang terjadi padaku ? Semakin aku melakukan semua itu, semakin aku mencoba, semakin aku menyadari ada sesuatu yang tidak beres, ada sesuatu yang salah.

Apakah ada masalahnya didalam hidup saya ? Atau saya tidak melakukannya dengan benar ? Saya mulai memperhatikan orang-orang lain. Saya memperhatikan siapa saja yang mengaku muslim, baik muslim fundamentalis atau muslim ktp. Dari satu ke yang lain.

Saya lihat secara keseluruhan semua jenis muslim yang mungkin ada, dan aku memperhatikan ada hal yang sama dalam hidup mereka dan saya. Yaitu, bahwa tidak ada kepastian pengampunan dosa, bahwa tidak ada damai yang sejati walaupun kami selalu berbicara tentang kedamaian, dan bahwa sejujurnya dalam hati saya dan juga hati teman-temanku yang muslim waktu itu, walaupun kami bilang 5x sehari dan ribuan kali disaat lain “Ar-Rahman Ar-Rahim”, kami tidak pernah benar-benar yakin kalau Allah ada di sisi kami. Kami tidak tahu apa yang dia telah tetapkan untuk kami. Kami tidak memiliki kepastian sama sekali.

Dan dalam situasi ini, pergumulan untuk mengubah diri, membuat saya merasa kesepian, sendiri, dan terasa sangat sulit. Namun, sebenarnya TUHAN melihat hati kami. Dan TUHAN melihat hatiku dan saya lihat hatiku sendiri dan saya tahu, saya tidak menemukan jawaban yang saya cari didalam agama. Apa lagi selain, cara kehidupan ? Apa lagi selain iman ? Apa lagi perlu saya lakukan supaya saya bisa naik ke tingkatan selanjutnya, ke langkah berikutnya. Aku tidak tahu, kemana saya harus berpaling ?

Pesan ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS

Apa yang ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS berikan kepada kita, bukanlah hanya sekumpulan peraturan atau hukum, amal-amal yang bisa dibawa supaya kita layak untuk dihargai dan berikan hadiah, seperti doa atau memberi zakat taupun juga, ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS datang untuk mengajari kita bahwa yang kita butuhkan adalah suatu hubungan, bukan agama. Dan hubungan tidak terjadi antara TUHAN dan kita, ketika kita belum memiliki pendamaian antara kita dengan TUHAN. Ini harus dimulai dengan adanya pendamaian di dalam hati. Ini yang saya dapat dari pesan ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS, yang seseorang ceritakan padaku.

Pertama kali orang itu berbicara kepadaku, saya marah sekali. Saya bilang, “Jangan pernah bicara soal itu lagi !!! Kamu pikir siapa kamu?” dan saat itulah saya belajar ada perbedaan besar antara mereka yang mengaku mengikuti Alkitab dan pangikut ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS yang sejati. Orang yang berbicara pada saya adalah pengikut ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS yang sejati.

Saya ingat pertama kalinya saya mendengar seseorang berkobtah tentang injil. Dan orang yang memberi kotbah tentang itu, saya tidak pernah lupakan. Bagaimana dia mengangkat buku itu, Alkitab, yang berisikan semua wahyu-wahyu suci dari ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS dari Taurat sampai Injil. Dan dia mulai mengatakan, “ TUHAN YESUS adalah yang memberi janji-janji dan menepati janji-janji-NYA. Dan YESUS KRISTUS-lah yang menjamin bahwa kita bisa berpegang pada Firman-NYA.”

Itu adalah kata-kata yang menghiburku, karena dia mengatakan bahwa hal-hal yang TUHAN YESUS katakan yang tidak mungkin sekedar main-main, yang sungguh-sungguh memberikan kepastian. Karena saya besar di suatu sistem yang di dalamnya saya tidak pernah yakin kalau Allah benar-benar ada di sisiku. Saya diajari bahwa Allah lebih dekat kepadaku dari pada urat leherku tetapi setelah aku membaca Alquran untuk membaca ayat itu ternyata ini bukan berbicara soal kedekatan yang penuh kasih lebih lemah lembut kepadaku tetapi suatu peringatan kepada orang-orang yang sesungguhnya tidak taat. Jadi saya berada dalam ketakutan bukan dalam kedamaian.

Hari itu, di antara janji-janji yang saya dengar, salah satunya yang diberikan kepada kita, didalam kitab Kisah Para Rasul fasal ke 4 : 1 - 12 yang berbunyi: tidak ada nama lain di bawah langit dan di atas bumi, yang berikan kepada kita yang oleh-NYA kita dapat diselamatkan. Dan jika kita percaya, TUHAN YESUS akan mengampuni kita. YESUS KRISTUSlah satu-satunya yang bisa memberikan nyawa-NYA sebagai tebusan, korban yang TUHAN YESUS telah siapkan. Keyakinan itu menusuk hatiku. Itu bukan sesuatu yang saya cari selama ini. Saya tidak berpikir ke sana. Dan Puji TUHAN ! Ini bukanlah suatu ajakan untuk pindah agama. Tidak, ini bukan soal itu. Tapi saya mendapat kepastian dan jaminan mutlak 100% dari TUHAN YESUS KRISTUS akan hidup yang kekal.

Ini bukan soal agama, ini soal pendamaian, inilah pesan dari injil, berita suka cita. Inilah yang dibawa ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS : Pendamaian. Jadi saat ini, kepada siapa saja yang mendengarkan, saya ingin bersaksi. Bahwa Injil itu Benar !!! Injil itu benar dan bersembunyi: yang artinya: hanya ada satu TUHAN dan tidak ada perantara lain antara manusia dan TUHAN kecuali YESUS KRISTUS, ANAK MANUSIA. Dan itulah yang saya inginkan saat ini, bahwa jika dengan iman, kamu menerima apa yang diberikan oleh Injil, kamu menemukan solusi hidup. Kehidupanku berubah karena kebenaran itu.

Apa yang tidak bisa ketemukan dalam agama, agama apapun juga itu sama saja, bisa agama apa saja, apa yang tidak bisa kutemukan dalam agama, saya temukan keselamatan lewat penebusan dosa dalam nama ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS, saya mendapat pendamaian dengan TUHAN yang mengubah hatiku dan hal itu memberikan damai sejati. Dan itu kenapa saya mau mengikuti ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS dan kenapa saya mengikut ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS, karena saya selalu bilang ke surga, mari dapatkan pendamaian dirimu dengan TUHAN. Dalam nama ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS dan jadilah pengikut-NYA.

Catatan :
Kesaksian ini saya posting untuk mencerikatan suatu Kebenaran yang harus di sampaikan, bukan untuk mau menyinggung yang berbeda agama. Biarlah Kebenaran yang dari TUHAN YESUS yang menenari hati kita.


TUHAN YESUS Memberkati. Kesaksian Professor Faouzi Arzouni
Bagaimana saya menjadi seorang pengikut Isa ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS ?

Perjalanan......
Pada intinya adalah perjalanan dari agama ke penyelamatan, saya gambarkan perjalanan hidup saya, dalam proses menjadi pengikut ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS, sebagai perjalanan dari ritual ke perdamaian. Dan ini sangat penting, karena saya dibesarkan dalam pedoman agama islam. Saya tumbuh dan memeluk agama islam dengan seluruh hatiku, sebaik yang bisa dilakukan sebagai seorang anak kecil di keluarga muslim.

Saya lahir di Senegal, Afrika Barat, dari keluarga berdarah Libanon, beragama Shia Muslim dan kami mengikuti pedoman dalam Alquran dan Hadits sebaik mungkin. Keluarga kami sangat beragama dalam semua aspek. Jadi, mengapa saya butuh lebih dari yang kami telah miliki ? Saya tidak pernah membutuhkan apa-apa. Sampai krisis kehidupan yang saya alami dan yang juga dialami semua orang, pada suatu waktu.

Membuat saya bertanya tentang beberapa hal terpenting dalam hidup :

Siapa saya ?

Kenapa saya dilahirkan ?

Apa artinya keberadaanku di dunia ini ?

Mengapa ada masalah ini ?

Mengapa kita mengalami pergumulan dalam hidup ?

Itulah sifat alami dalam manusia.

Untuk bergumul mencari jawaban dan untuk mencari belas kasihan TUHAN YESUS KRISTUS dan berkata, “TUHAN, kenapa?” TUHAN, kenapa aku ?

Apakah aku berbuat salah waktu kecil ?” orang tuaku bercerai dan keluargaku berantakan.

Kenapa kami mengalami pergumulan ketika sedang bertumbuh ?

Kenapa seorang dari latar belakangku membenci orang berkulit hitam ?

Dan kenapa walaupun kami semua muslim, kami semua tidak ada yang akur ?
Saya mulai mengerti saat saya sangat muda bahwa walaupun dengan pembicaraan mulai kami tentang Allah dan agama dalam keluarga, semua itu tidak menutup pintu kesengsaraan dan kerusakan yang dibawa masuk oleh dosa ke keluarga kami dan kehidupan masa mudaku. Saya mengalami semua ini.

Lalu saya mulai tugas untuk mereformasi hidupku karena saya mengira semua yang telah saya alami, semua hal buruk yang saya alami, terjadi karena saya bukanlah muslim yang baik. Saya pun mulai mengubah hidup saya dengan bersikap lebih hati-hati, membaca Alquran, mencoba mengikuti semua tradisi dan tentu melakukan segala ritual dan apapun yang diharuskan.

Tapi tahu tidak ada yang terjadi padaku ? Semakin aku melakukan semua itu, semakin aku mencoba, semakin aku menyadari ada sesuatu yang tidak beres, ada sesuatu yang salah.

Apakah ada masalahnya didalam hidup saya ? Atau saya tidak melakukannya dengan benar ? Saya mulai memperhatikan orang-orang lain. Saya memperhatikan siapa saja yang mengaku muslim, baik muslim fundamentalis atau muslim ktp. Dari satu ke yang lain.

Saya lihat secara keseluruhan semua jenis muslim yang mungkin ada, dan aku memperhatikan ada hal yang sama dalam hidup mereka dan saya. Yaitu, bahwa tidak ada kepastian pengampunan dosa, bahwa tidak ada damai yang sejati walaupun kami selalu berbicara tentang kedamaian, dan bahwa sejujurnya dalam hati saya dan juga hati teman-temanku yang muslim waktu itu, walaupun kami bilang 5x sehari dan ribuan kali disaat lain “Ar-Rahman Ar-Rahim”, kami tidak pernah benar-benar yakin kalau Allah ada di sisi kami. Kami tidak tahu apa yang dia telah tetapkan untuk kami. Kami tidak memiliki kepastian sama sekali.

Dan dalam situasi ini, pergumulan untuk mengubah diri, membuat saya merasa kesepian, sendiri, dan terasa sangat sulit. Namun, sebenarnya TUHAN melihat hati kami. Dan TUHAN melihat hatiku dan saya lihat hatiku sendiri dan saya tahu, saya tidak menemukan jawaban yang saya cari didalam agama. Apa lagi selain, cara kehidupan ? Apa lagi selain iman ? Apa lagi perlu saya lakukan supaya saya bisa naik ke tingkatan selanjutnya, ke langkah berikutnya. Aku tidak tahu, kemana saya harus berpaling ?

Pesan ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS

Apa yang ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS berikan kepada kita, bukanlah hanya sekumpulan peraturan atau hukum, amal-amal yang bisa dibawa supaya kita layak untuk dihargai dan berikan hadiah, seperti doa atau memberi zakat taupun juga, ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS datang untuk mengajari kita bahwa yang kita butuhkan adalah suatu hubungan, bukan agama. Dan hubungan tidak terjadi antara TUHAN dan kita, ketika kita belum memiliki pendamaian antara kita dengan TUHAN. Ini harus dimulai dengan adanya pendamaian di dalam hati. Ini yang saya dapat dari pesan ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS, yang seseorang ceritakan padaku.

Pertama kali orang itu berbicara kepadaku, saya marah sekali. Saya bilang, “Jangan pernah bicara soal itu lagi !!! Kamu pikir siapa kamu?” dan saat itulah saya belajar ada perbedaan besar antara mereka yang mengaku mengikuti Alkitab dan pangikut ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS yang sejati. Orang yang berbicara pada saya adalah pengikut ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS yang sejati.

Saya ingat pertama kalinya saya mendengar seseorang berkobtah tentang injil. Dan orang yang memberi kotbah tentang itu, saya tidak pernah lupakan. Bagaimana dia mengangkat buku itu, Alkitab, yang berisikan semua wahyu-wahyu suci dari ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS dari Taurat sampai Injil. Dan dia mulai mengatakan, “ TUHAN YESUS adalah yang memberi janji-janji dan menepati janji-janji-NYA. Dan YESUS KRISTUS-lah yang menjamin bahwa kita bisa berpegang pada Firman-NYA.”

Itu adalah kata-kata yang menghiburku, karena dia mengatakan bahwa hal-hal yang TUHAN YESUS katakan yang tidak mungkin sekedar main-main, yang sungguh-sungguh memberikan kepastian. Karena saya besar di suatu sistem yang di dalamnya saya tidak pernah yakin kalau Allah benar-benar ada di sisiku. Saya diajari bahwa Allah lebih dekat kepadaku dari pada urat leherku tetapi setelah aku membaca Alquran untuk membaca ayat itu ternyata ini bukan berbicara soal kedekatan yang penuh kasih lebih lemah lembut kepadaku tetapi suatu peringatan kepada orang-orang yang sesungguhnya tidak taat. Jadi saya berada dalam ketakutan bukan dalam kedamaian.

Hari itu, di antara janji-janji yang saya dengar, salah satunya yang diberikan kepada kita, didalam kitab Kisah Para Rasul fasal ke 4 : 1 - 12 yang berbunyi: tidak ada nama lain di bawah langit dan di atas bumi, yang berikan kepada kita yang oleh-NYA kita dapat diselamatkan. Dan jika kita percaya, TUHAN YESUS akan mengampuni kita. YESUS KRISTUSlah satu-satunya yang bisa memberikan nyawa-NYA sebagai tebusan, korban yang TUHAN YESUS telah siapkan. Keyakinan itu menusuk hatiku. Itu bukan sesuatu yang saya cari selama ini. Saya tidak berpikir ke sana. Dan Puji TUHAN ! Ini bukanlah suatu ajakan untuk pindah agama. Tidak, ini bukan soal itu. Tapi saya mendapat kepastian dan jaminan mutlak 100% dari TUHAN YESUS KRISTUS akan hidup yang kekal.

Ini bukan soal agama, ini soal pendamaian, inilah pesan dari injil, berita suka cita. Inilah yang dibawa ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS : Pendamaian. Jadi saat ini, kepada siapa saja yang mendengarkan, saya ingin bersaksi. Bahwa Injil itu Benar !!! Injil itu benar dan bersembunyi: yang artinya: hanya ada satu TUHAN dan tidak ada perantara lain antara manusia dan TUHAN kecuali YESUS KRISTUS, ANAK MANUSIA. Dan itulah yang saya inginkan saat ini, bahwa jika dengan iman, kamu menerima apa yang diberikan oleh Injil, kamu menemukan solusi hidup. Kehidupanku berubah karena kebenaran itu.

Apa yang tidak bisa ketemukan dalam agama, agama apapun juga itu sama saja, bisa agama apa saja, apa yang tidak bisa kutemukan dalam agama, saya temukan keselamatan lewat penebusan dosa dalam nama ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS, saya mendapat pendamaian dengan TUHAN yang mengubah hatiku dan hal itu memberikan damai sejati. Dan itu kenapa saya mau mengikuti ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS dan kenapa saya mengikut ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS, karena saya selalu bilang ke surga, mari dapatkan pendamaian dirimu dengan TUHAN. Dalam nama ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS dan jadilah pengikut-NYA.

Catatan :
Kesaksian ini saya posting untuk mencerikatan suatu Kebenaran yang harus di sampaikan, bukan untuk mau menyinggung yang berbeda agama. Biarlah Kebenaran yang dari TUHAN YESUS yang menenari hati kita.

TUHAN YESUS Memberkati.
 

Sumber Akun FB: Samuel Benny

10 Jan 2012

Kepuasan yang sesungguhnya.

Ayat Pengantar: Yohanes 6:25-40

Yohanes 6:26-27  Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya."

Kepuasan yang sesungguhnya. Kebaktian Kebangunan Rohani lebih disukai daripada pembinaan-pembinaan rohani mendalam dan serius. Adakah kegiatan kebangunan rohani tersebut dilanjutkan dengan keseriusan membina diri bertumbuh dalam iman percaya? Orang banyak di masa Tuhan juga demikian. Mereka mencari Tuhan bukan supaya mereka tumbuh dalam pengenalan yang benar, yaitu meyakini bahwa Tuhan Yesus adalah yang diutus Allah, Mesias yang hidup. Pertemuan dengan Tuhan dalam kelompok besar tidak membawa mereka pada kesadaran melakukan kehendak Allah. Rasa lapar dan haus yang terus-menerus dirasakan adalah karena mereka tidak datang pada Roti Hidup yang sesungguhnya, Tuhan Yesus Kristus (35)

Jaminan keselamatan. Firman yang telah membuat kita percaya kepada Kristus adalah kebenaran yang sesungguhnya. Rintangan, hambatan, kesulitan dalam hidup dari berbagai pihak sepatutnya tidak meluluhkan iman percaya kita. Kita adalah orang-orang pilihan Allah, anak-anak Allah yang meyakini bahwa di dalam Kristus ada kehidupan kekal dan jaminan keselamatan.

Renungkan: Tanyakan kepada diri Anda, sudahkan iman percaya kepada Yesus Kristus itu membawa Anda mengalami kepuasan yang sesungguhnya?

26 Jun 2011

Baik dan Jahat

Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku Matius 13:29-30

Gandum dan lalang adalah dua tanaman yang sangat mirip, tetapi sebenar-nya sangat berbeda. Gandum adalah makanan pokok yang sangat berguna bagi manusia, sedangkan lalang sama sekali tidak berguna. Bahkan lalang lebih banyak menyerap sari makanan dari tanah, sehingga mengganggu pertumbuhan gandum. Sayangnya lalang dan gandum baru dapat dibedakan ketika bulir-bulir-nya ke-luar. Dan, lalang yang dicabut sebelum waktunya bisa membuat gandum turut tercabut. Satu-satunya cara memisahkan lalang dan gandum adalah de-ngan menunggunya sampai saat menuai tiba. Seumpama lalang dan gandum, begitulah orang jahat tetap dibiarkan hidup di dunia ini bersama orang baik, meski mereka membawa penderitaan bagi orang-orang baik. Tuhan mengasihi seluruh ciptaan-Nya, baik yang berbuat jahat atau yang berbuat baik. Dia masih memberi kesempatan kepada yang jahat supaya bertobat, juga memberi kesempatan kepada yang baik untuk terus bertumbuh dalam ketaatan pada firman Tuhan. Justru dengan adanya “lalang”, maka “gandum” ditantang untuk makin tekun bertumbuh, makin tahan uji, dan makin berkualitas. Hari ini kita diajar mengenal hati Allah yang panjang sabar dan mengasihi seluruh isi dunia ini. Dia bersabar karena segala sesuatu ada waktunya; kasih-Nya menerima setiap orang apa adanya. Kasih-Nya memberi kesempatan kepada setiap orang untuk berubah dan bertumbuh lebih baik, bukan cepat menghakimi dan menghukum. Allah memiliki kasih yang besar, yang tidak menyerah untuk terus mengasihi. Sebagai “gandum” di ladang-Nya, hendaknya kita terus bertumbuh dalam kasih dan kebenaran yang sejati

22 Mei 2011

SUKSES, BAHAGIA

TUHAN, karena kuasa-Mulah raja bersukacita; betapa besar kegirangannya karena kemenangan yang dari pada-Mu! Mazmur 21 : 2

Sukses adalah paling di inginkan orang. Ironisnya, banyak orang tidak bahagia justru setelah mereka meraih sukses. Sebut saja Kurt Cobain, penyanyi dari grup Nirvana yang bunuh diri ketika sedang tenar-tenarnya di tahun 1990-an. Atau, para rohaniwan yang citranya runtuh karena keblinger oleh kesuksesan mereka. Belum lagi para pengusaha yang setelah sukses, justru keluarganya berantakan. Dan, masih banyak kisah tragis lain tentang kesuksesan. Ini menunjukkan pentingnya menjaga sikap hati saat meraih kesuksesan.

Bacaan hari ini berbicara tentang kemenangan Raja Daud. Berbagai keja-yaan dan kesuksesan ia peroleh, sehingga ia menjadi raja yang besar dalam sejarah bangsa Israel. Namun, ia sangat sadar bahwa kemenangannya datang dari Tuhan (ayat 2). Oleh karena itu, ia mengembalikan semua kemuliaan hanya bagi Tuhan. Hasilnya, ia bersukacita. Bukan karena kemenangannya, melainkan karena kesadaran yang ia miliki tentang siapa yang memberi kesuksesan terse-but, yakni Tuhan.

Dari mazmur ini kita belajar tentang cara menyikapi kesuksesan. Pertama, kita harus selalu menyadari bahwa kita sukses bukan melulu karena kita hebat, tetapi lebih utama karena anugerah Tuhan. Dalam rencana-Nya, Allah memercayakan berkat yang lebih kepada kita. Karena itu kita tidak boleh menjadi sombong. Kedua, kesuksesan bukan untuk dinikmati sendiri, melainkan untuk disalurkan kepada sesama. Sama seperti segala berkat yang lain, Tuhan ingin kesuksesan kita dipakai untuk memberkati orang lain dan memuliakan nama-Nya. Dengan demikian, kita akan menjadi orang sukses yang bahagia

20 Mei 2011

TETAP KUDUS

Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.  2 Timotius 2:21

Di hadapan Anda ada dua gelas. Yang satu terbuat dari kristal dengan ukiran cantik. Mahal, tetapi bagian dalamnya kotor dan berdebu. Yang satu lagi gelas plastik murahan, tetapi dicuci bersih. Jika Anda ingin minum, mana yang akan Anda pakai? Saya yakin Anda memilih gelas yang murah, tetapi bersih! Gelas semewah apa pun, jika dalamnya kotor dan berdebu, menjadi tidak berguna. Setiap anak Tuhan adalah gelas kristal.

Kristus telah menebus kita dengan darah yang mahal, sehingga kita menjadi milik-Nya yang sangat berharga (ayat 18,19). Itu sebabnya Tuhan ingin memakai kita menjadi alat-Nya, untuk menyalurkan air hidup kepada orang-orang di sekitar kita. Namun, itu akan terhalang jika kita tidak rajin membersihkan debu yang mengotori hati dan hidup kita. Agar dapat dipakai Tuhan, kita harus hidup dalam kekudusan. Tak membiarkan hawa nafsu mencemari dan menguasai hati. Tuhan meminta kita menjadi kudus dalam seluruh aspek hidup. Bukan hanya di gereja, melainkan juga di tempat kerja dan dalam keluarga.

Kata kudus berarti terpisah atau berbeda. Hidup kita harus dipisahkan, dikhususkan untuk memuliakan Tuhan. Berbeda dari cara hidup duniawi. Hidup kudus adalah keharusan, bukan pilihan. Tuhan berfirman, Kuduslah kamu, sebab Aku kudus (ayat 16). Adakah kotoran yang masih menempel di hati Anda? Bentuknya bisa berupa dendam, amarah, nafsu yang merusak, niat jahat, atau kebiasaan dosa yang terus dipelihara. Kita harus sering mem-bersihkan hati. Membuatnya tetap murni, agar Tuhan dapat terus memakai kita menjadi saluran berkat-Nya. Sayang, jika kita hanya menjadi gelas kristal kotor; indah namun tak berguna

14 Mei 2011

Prioritas Hidup

Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Matius 6 : 33

Benjamin Franklin mengeluarkan slogan time is money, seakan-akan seluruh hidupnya hanya diprioritaskan dan ditujukan untuk mendapat uang. Bukankah dewasa ini ada banyak orang yang dibutakan oleh uang? Sebenarnya uang bukan sesuatu yang jahat. Hanya, kita perlu menjagai sikap hati kita terhadap uang. Itulah yang hendak Tuhan Yesus nyatakan kepada kita. Penumpukan harta yang tanpa tujuan sebenarnya justru akan membuat manusia khawatir. Atau, membuat manusia percaya pada diri sendiri secara berlebihan.

Dan yang paling parah, membuat hidup manusia dikuasai oleh uang. Itulah inti perkataan Tuhan Yesus (ayat 24). Tuhan menegaskan bahwa di mana hati kita berada, di situlah prioritas hidup kita cenderung berada. Bila hati kita ada pada harta, maka seluruh waktu, pikiran, dan tenaga, kita konsentrasikan untuk mengumpulkan harta pula. Tuhan Yesus tidak mengecam orang kaya. Buktinya, Zakheus pun dipanggil menjadi murid-Nya (Lukas 19:5).

Namun Tuhan ingin agar kita memprioritaskan hubungan dengan-Nya di tengah rutinitas mencari nafkah setiap hari. Ketika kita menjalankan aktivitas ekonomi sehari-hari, hendaknya kita tetap memancarkan kasih Tuhan. Dengan demikian, cara kita mencari uang pun akan dipengaruhi oleh sikap hati. Inilah kuncinya agar kita tidak terjerumus dalam sikap cinta uang, yang merupakan akar dari segala kejahatan di bumi ini. Mari melihat ke dalam diri. Apa prioritas hidup kita hari ini?

11 Mei 2011

Berpikir Positif

Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Efesus 4:31

Seorang pemuda Indian bertanya kepada kakeknya, mengapa dirinya begitu gampang tersinggung dan cepat marah. Ia ingin tahu cara mengubah perangainya. Sang kakek bercerita bahwa dalam diri manusia ada dua serigala. Serigala yang satu selalu berpikiran negatif, mudah marah, dan suka berprasangka buruk.

Adapun serigala yang lain selalu berpikiran positif, baik hati, dan suka hidup damai. Setiap hari kedua serigala ini berkelahi. Lalu serigala mana yang menang? tanya si pemuda. Serigala yang setiap hari kamu beri makan. Dalam diri kita ada sisi baik dan sisi buruk. Sisi mana yang kemudian menjadi dominan sangat ditentukan oleh makanan rohani yang kita makan. Baik makanan rohani itu berasal dari pola asuh dan lingkungan kita, maupun makanan rohani yang kita sendiri upayakan.

Sebagai manusia baru di dalam Tuhan, kita perlu terus-menerus membuang segala sifat buruk; dengki, iri hati, prasangka, dan lain-lain. Sebaliknya kita harus terus memupuk segala sifat baik; sabar, suka berdamai dengan kenyataan, menyebar kasih dan kebaikan. Dengan semakin banyak memupuk sisi baik, lama-lama sisi buruk kita akan tenggelam. Bagaimana kita dapat mengendalikan dua sisi itu? Bagaimana kita dapat memberi makan serigala yang baik? Dengan evaluasi dan introspeksi diri.

Dengan kemauan untuk belajar. Dan terutama, dengan menekuni firman Tuhan. Hanya dengan cara itulah, kita dapat mengikis sisi-sisi buruk kita. Membuatnya tidak dominan, apalagi menguasai kita. Sekaligus menyuburkan sisi-sisi baik kit.


7 Mei 2011

Hanya untuk Kristus

..., biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan Roma 12:11

Pemahat Jerman yang bernama Dannaker bekerja selama dua tahun menggarap patung Kristus sampai patung itu tampak sempurna baginya.Ia memanggil seorang gadis kecil ke studionya, dan sambil menunjuk ke patung itu, ia bertanya "Siapa itu?" Gadis kecil itu dengan keras menjawab,"Orang yang hebat."

Dannaker kecewa. Ia mengambil pahatnya dan memulai lagi dari awal. Selama enam tahun ia bekerja keras. Sekali lagi, ia mengundang seorang gadis kecil ke studionya, membawanya ke sisi patung itu, dan berkata, "Siapa itu?" Gadis kecil itu mengadah sejenak, lalu air mata menggenangi matanya ketika ia melipat tangannya di dada dan berkata, "Biarkan anak-anak itu datang kepadaku" (Markus 10:14) kali Dannaker tahu bahwa ia berhasil. 

Pemahat itu belakangan mengaku bahwa selama enam tahun itu, Kristus telah menyatakan diri kepadanya dalam sebuah visi, dan bahwa ia hanya menuangkan di atas batu marmer apa yang dilihatnya dengan mata hatinya. 

Ketika Napoleon Bonaparte memintanya membuat patung Venus untuk Louvre, Dannaker menolak. "Seorang Pria," katanya, "yang telah melihat Kristus tidak akan dapat menuangkan bakanya dengan memahat seorang dewi kafir. Seni saya ditujukan untuk hal-hal yang kudus.

NILAI SEJATI SEBUAH KARYA TIDAK BERASAL DARI BESARNYA USAHA, BUKAN JUGA DARI PROSES PEMBUATANNYA MELAINKAN DARI KRISTUS YANG MENGILHAMINYA

Tuhan ada di Dunia Usaha Anda... BERSAKSILAH

Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan, Kisah Para Rasul 2:47

Dokter Teoh Seng Hing adalah salah satu dokter ginekologi di Mount Elizabeth Hospital, Singapura. Ia seorang kristiani. Semua orang yang saya kenal dan pernah menjadi pasiennya punya kesan yang sangat positif terhadapnya. Sebab selain ahli, ia juga sangat baik, sabar, telaten, ramah, penuh perhatian.

Pasien bisa bebas dan nyaman berkonsultasi dengannya. Bahkan ketika Kezia, anak saya yang berumur 8 tahun, bertanya ini itu saat istri saya konsultasi, ia juga melayani dengan baik. Dengan sikapnya itu, Dokter Teoh telah menunjukkan kesaksian yang indah sebagai dokter kristiani. Kekristenan berkembang bukan hanya karena peran para penginjil ternama. Namun juga melalui kesaksian hidup para penginjil anonim. Orang-orang yang dalam peran dan profesinya masing-masing telah memberi kesaksian indah bagi masyarakat se-kitar. Seorang dokterdokter kristiani yang berbeda dari dokter lain.

Seorang pejabat  yang berbeda dari pejabat lain. Seorang mahasiswa kristiani yang berbeda dari mahasiswa lain, dan sebagainya. Iman kristiani mereka betul-betul nyata dalam kehidupan sehari-hari, melalui sikap dan tutur kata yang ditunjukkan. Jemaat mula-mula adalah jemaat yang bertumbuh sangat pesat. Ciri-ciri hidup mereka selain tekun dalam pengajaran para rasul (ayat 42), dan satu sama lain memiliki hidup kebersamaan yang kuat dan akrab (ayat 46), juga memberi pengaruh positif bagi orang-orang luar. Dan mereka disukai semua orang (ayat 47). Mari kita menjadi saksi yang setia, sehingga kehadiran kita sungguh menjadi berkat bagi orang-orang sekitar

4 Mei 2011

Motivasi Hidup Kita

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Mazmur 23 :4 

Setiap orang mempunyai motivator dalam hidupnya. Motivator dalam arti sesuatu yang menggerakkan, memotivasi, mengarahkan, dan memengaruhi pola pikir, prioritas, perilaku, dan keputusan-keputusan dalam hidup seseorang. Motivator itu bisa berwujud uang, jabatan, popularitas, tokoh yang dikagumi, bisa juga akar pahit atau pengalaman traumatis di masa lalu. Sesungguhnya, hal-hal tersebut bukanlah motivator yang baik. Sebaliknya malah akan menjerumuskan dan mencelakakan; baik diri sendiri maupun orang lain. 

Tidak se-dikit tragedi di dunia ini yang dipicu dan dipacu orang-orang yang hidupnya dikendalikan oleh uang atau jabatan, misalnya. Motivator yang baik adalah Tuhan sendiri. Ini yang dialami dan dihayati oleh Daud. Daud sungguh-sungguh merasakan Tuhan membimbing, menuntun, dan memeliharanya. Ia memang tidak selalu bergelimang kesuksesan. Ia pun kerap hidup da-lam kesulitan; pernah dibenci setengah mati dan dikejar-kejar oleh Saul (1 Samuel 19), pernah dikudeta oleh Absalom, anaknya, dan terlunta melarikan diri (2 Samuel 15). Namun, Daud merasakan betapa Tuhan tidak pernah jauh darinya. Pun dalam saat-saat tergelap hidupnya, saat-saat kritis. Tuhan mencukupkan segala kebutuhannya. Tuhan membimbingnya ke jalan yang benar.

Tuhan menyegarkan jiwanya. Ia sungguh merasakan jejak-jejak kasih dan pemeliharaan Tuhan dalam setiap jengkal hidupnya. Bagaimana dengan kita? Pertanyaan penting yang perlu kita renungkan adalah; apakah Tuhan sudah menjadi gembala dalam hidup kita, sebagai prioritas dan dasar dari segala tindakan kita?

1 Mei 2011

Pilihan Yang Terbaik

Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: 1 Petrus 2 : 9

Kacamata adalah sebuah benda yang spesial. Saya sangat menghargainya dan merawatnya karena besar manfaatnya bagi saya. Memang kacamata saya tampak seperti kaca biasa, te-tapi ia bukan kaca jendela, atau kaca stoples tempat kue. Leburan kaca yang dicetak untuk menjadi lensa kacamata saya adalah leburan kaca yang dipilih secara khusus agar mencapai tujuan pembuat-annya, yakni membantu saya untuk memiliki penglihatan yang lebih baik.

Hampir serupa dengan hal itu, bacaan Alkitab hari ini membukakan bahwa kita juga adalah orang-orang yang dipilih. Dari sekian miliar orang yang hidup di dunia ini, Allah sendiri memilih kita secara khusus untuk menjadi para pelayan Allah, yang wajib memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia (1 Petrus 2:9). Apabila kita telah dipilih sedemikian rupa oleh Allah, maka sudah seharusnya kita menjalani setiap profesi kita sebaik mungkin, apa pun itu, dengan memanfaatkan segala karunia dan talenta yang Dia anugerahkan. Jangan sampai kita berpikir bahwa kita cukup menjalani hidup yang biasa-biasa saja.

Dengan demikian, kita mencapai tujuan mengapa kita diciptakan, dan tidak sekadar menjadi kaca biasa. Dia ingin kita selalu melakukan yang terbaik. Apabila kita seorang pekerja, biarlah kita menjadi pekerja yang terbaik. Bila kita seorang pelayan Tuhan, biarlah kita menjadi pelayan Tuhan yang terbaik. Kita adalah orang-orang pilihan-Nya. Dan, bila Dia memilih, Dia juga memperlengkapi, menyertai, dan memampukan kita untuk melakukan yang terbaik bagi kemuliaan-Nya

28 Okt 2010

Apa artinya Yesus menyelamatkan?

"Yesus menyelamatkan” adalah slogan populer di sticker mobil, pada acara-acara olahraga, dan di spanduk yang ditarik pesawat kecil di udara. Sayangnya, tidak banyak yang melihat frasa “Yesus menyelamatkan” yang betul-betul secara penuh mengerti apa maksudnya. Ada kuasa dan kebenaran yang amat dahsyat yang terkandung dalam kedua kata itu.

Yesus menyelamatkan, namun siapakah Yesus itu?
Kebanyakan orang tahu bahwa Yesus adalah seseorang yang pernah hidup di Israel sekitar 2000 tahun lampau. Hampir setiap agama dalam dunia memandang Yesus sebagai guru yang baik dan/atau seorang nabi. Dan sekalipun hal-hal itu memang benar mengenai Yesus, semuanya itu tidak mengungkapkan siapakah Yesus sesungguhnya, dan juga tidak menjelaskan bagaimana atau mengapa Yesus menyelamatkan. Yesus adalah Allah dalam wujud manusia (Yohanes 1:1, 14). Yesus adalah Allah, datang ke dunia, sebagai manusia sejati (1 Yohanes 4:2). Allah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus guna menyelamatkan kita. Ini menghasilkan pertanyaan berikut: mengapa kita perlu diselamatkan?

Yesus menyelamatkan, namun mengapa kita perlu diselamatkan?
Alkitab menyatakan bahwa setiap manusia yang pernah hidup telah berdosa (Pengkhotbah 7:20; Roma 3:23). Berdosa adalah melakukan sesuatu, baik dalam pikiran, perkataan maupun perbuatan yang bertentangan dengan karakter Allah yang sempurna dan suci. Karena dosa kita, kita layak mendapatkan hukuman dari Allah (Yohanes 3:18, 36). Allah itu adil, sehingga Dia tidak bisa membiarkan dosa dan kejahatan tidak dihukum. Karena Allah itu tanpa batas dan kekal, dan karena semua dosa pada dasarnya adalah terhadap Allah (Mazmur 51:4), hanya hukuman yang tanpa batas dan kekal yang mencukupi. Kematian kekal adalah satu-satunya hukuman yang adil untuk dosa. Itu sebabnya kita perlu diselamatkan.

Yesus menyelamatkan, namun bagaimana Dia menyelamatkan?
Karena kita telah berdosa terhadap Allah yang tidak terbatas, maka orang yang terbatas (kita) harus membayar dosa-dosa kita untuk waktu yang tidak terbatas, atau Pribadi yang tidak terbatas (Yesus) harus membayar dosa-dosa kita satu kali. Tidak ada pilihan lain. Yesus menyelamatkan kita dengan mati menggantikan kita. Dalam diri Yesus Kristus, Allah mengorbankan diri-Nya sendiri demi untuk kita, membayar hukuman yang tidak terbatas dan kekal yang hanya Dia yang sanggup untuk bayar (2 Korintus 5:21; 1 Yohanes 2:2). Yesus menanggung hukuman yang seharusnya kita tanggung demi untuk menyelamatkan kita dari nasib kita yang kekal, hukuman yang adil untuk dosa-dosa kita. Karena kasiih-Nya yang besar untuk kita, Yesus menyerahkan nyawa-Nya (Yohanes 15:13), membayar hukuman yang telah kita dapatkan tapi tidak sanggup kita tanggung. Kemudian Yesus dibangkitkan, menunjukkan bahwa kematian-Nya memang sudah cukup untuk membayar hukuman dosa kita (1 Korintus 15).

Yesus menyelamatkan, namun siapa yang Dia selamatkan?
Yesus menyelamatkan semua yang bersedia menerima karunia keselamatan-Nya. Yesus menyelamatkan semua yang percaya pada pengorbanan-Nya sebagai pembayaran untuk dosa (Yohanes 3:16; Kisah 16:31). Sekalipun pengorbanan Yesus cukup untuk membayar dosa dari seluruh umat manusia, Yesus hanya menyelamatkan mereka yang secara pribadi menerima karunia-Nya yang paling berharga (Yohanes 1:12).

Kalau Anda sekarang mengerti apa artinya Yesus menyelamatkan, dan Anda ingin percaya kepada-Nya sebagai Juruselamat pribadi Anda, pastikan bahwa Anda mengerti dan percaya hal-hal berikut, dan sebagai pernyataan iman, menyatakan ini kepada Allah. “Tuhan, saya tahu saya orang berdosa, dan saya tahu bahwa karena dosa saya maka saya layak untuk terpisah dariMu secara kekal. Sekalipun saya tidak layak mendapatkannya, terima kasih untuk kasih-Mu kepadaku dan untuk menyediakan korban untuk dosa-dosa saya melalui kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Saya percaya bahwa Yesus telah mati untuk dosa-dosa saya dan saya percaya hanya Dia saja yang sanggup menyelamatkan saya. Mulai dari saat ini, tolong saya untuk menghidupi hidup saya bagi Engkau dan bukannya bagi dosa. Tolong saya menghidupi sisa hidup saya dengan rasa terima kasih untuk keselamatan yang berharga yang telah Engkau sediakan. Terima kasih Yesus, untuk menyelamatkan saya!”

Apakah Anda membuat keputusan untuk menerima Kristus karena apa yang Anda baca di sini? Jika demikian, klik pada tombol “Saya telah menerima Kristus pada hari ini” di bawah.


27 Okt 2010

Saya dikucilkan dan dianiaya ketika jadi Kristen, apa yang harus aku lakukan ?

Adalah sulit bagi orang-orang percaya yang tinggal di negara-negara di mana kebebasan beragama adalah landasan dari peradaban untuk dapat betul-betul memahami resiko mengikuti Kristus di belahan dunia lainnya. Namun Alkitab adalah Firman Tuhan dan dengan demikian menyediakan pengertian yang menyeluruh terhadap cobaan-cobaan hidup di manapun dan kapanpun. Yesus sangat jelas bahwa mengikuti Dia adalah suatu pekerjaan yang beresiko. Bahkan kita harus mengorbankan segala yang kita mililki. Pertama-tama, kita membayar dengan diri kita sendiri. Kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Yesus mengatakan, "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Markus 8:34). Salib adalah alat kematian dan Yesus menjelaskan bahwa mengikuti Dia berarti mati terhadap diri sendiri. Semua keinginan dan ambisi duniawi kita harus disalibkan sehingga kita dapat memperoleh hidup yang baru di dalam Dia, karena tidak seorangpun dapat melayani dua tuan (Lukas 16:13). Namun hidup yang baru itu jauh lebih berharga dan bernilai dibandingkan segala yang dapat kita peroleh dalam dunia ini.

Kedua, mengikuti Yesus mungkin menyebabkan kita mengorbankan keluarga dan teman-teman kita. Dalam Matius 10:32-39, Yesus menjelaskan bahwa kedatanganNya membawa pemisahan antara para pengikutNya dan keluarga mereka, tetapi barangsiapa tidak membenci (artinya tidak mengasihi Dia lebih dari) keluarganya tidak layak untuk menjadi pengikutNya. Jikalau kita menyangkal Kristus demi untuk menjaga kedamaian dengan keluarga kita di dunia ini, Dia akan menyangkal kita di surga, dan jika Yesus menyangkal kita, kita akan tidak akan bisa masuk ke surga. Namun jika kita mengakui Dia di depan manusia, tanpa menghiraukan harga yang mungkin harus kita bayar, Dia akan berkata kepada BapaNya – ”dia adalah milikKu, sambutlah dia dalam kerajaanMu.” Hidup kekal adalah ”mutiara yang indah” yang disebut dalam Matius 13:45-46 yang layak untuk kita peroleh dengan menjual segala milik kita. Adalah tidak layak untuk mempertahankan apa yang ada dalam hidup yang pendek ini dan kehilangan kekekalan. “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya” (Markus 8:36). Sebagaimana dikatakan oleh Jim Elliott, misionari yang dibunuh karena membawa Injil Kristus kepada orang-orang Indian Huaorani di Ekuador, ”Seorang bijak menyerahkan apa yang dia tidak dapat pertahankan untuk memperoleh apa yang dia harus pertahankan.”

Yesus juga menjelaskan bahwa penganiayaan karena Dia adalah tak terhindarkan. Dia mendorong kita untuk menerima itu sebagai bagian kehidupan kita dan tetap tabah dalam penganiayaan. Dia bahkan menyebut mereka yang dianiaya sebagai ”berbahagia” dan mengatakan bahwa kita patut ”bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga” (Matius 5:10-12). Dia mengingatkan bahwa demikianlah selalu umatNya dianiaya. Para nabi Perjanjian Lama dianiaya, dihina, disiksa, dibunuh bahkan dalam satu peristiwa digergaji! (Ibrani 11:37). Semua Rasul (kecuali Yohanes yang dibuang ke Pulau Patmos) dieksekusi karena memberitakan Kristus. Tradisi mengatakan bahwa Petrus menuntut untuk disalibkan dengan kepala di bawah karena dia merasa tidak layak untuk mati dengan cara sama seperti Tuhannya. Namun demikian, dalam suratnya yang pertama, Petrus menulis, “Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu” (1 Petrus 4:14). Rasul Paulus dipenjarakan, dicambuk dan dilempari batu berkali-kali karena memberitakan Kristus, namun dia merasa bahwa penderitaannya sekarang tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang menanti Dia (Roma 8:18).

Walaupun harga menjadi murid kelihatannya tinggi, ada upah duniawi dan upah surgawi yang menanti. Yesus berjanji akan selalu beserta dengan kita, bahkan sampai kepada akhir zaman (Matius 28:20); Dia tidak akan pernah meninggalkan atau membuang kita (Ibrani 13:5); Dia merasakan penderitaan dan kesakitan kita karena Dia sendiri sudah menderita untuk kita (1 Petrus 2:21); kasihNya bagi kita tak ada akhirnya, dan Dia tidak pernah menguji kita melampaui kemampuan kita menanggungnya dan akan selalu menyediakan jalan keluar bagi kita (1 Korintus 10:13). Saat kita menjadi orang pertama dalam keluarga atau masyarakat kita yang menerima Yesus, kita menjadi anggota-anggota keluarga Allah dan kita adalah duta-duta besarNya kepada orang-orang yang kita kasihi dan kepada dunia. Dengan demikian, kita adalah alat yang dipakaiNya untuk menarik orang kepada diriNya dan kita mendapat sukacita yang melampaui segala yang dapat kita bayangkan.

4 Agu 2010

Kawin Cerai, bolehkah ?

Pertama-tama, apapun pandangan mengenai perceraian, adalah penting untuk mengingat kata-kata Alkitab dalam Maleakhi 2:16a: “Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel.” Menurut Alkitab, kehendak Allah adalah pernikahan sebagai komimen seumur hidup. “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia" (Matius 19:6). Meskipun demikian, Allah menyadari bahwa karena pernikahan melibatkan dua manusia yang berdosa, perceraian akan terjadi. Dalam Perjanjian Lama Tuhan menetapkan beberapa hukum untuk melindungi hak-hak dari orang yang bercerai, khususnya wanita (Ulangan 24:1-4). Yesus menunjukkan bahwa hukum-hukum ini diberikan karena ketegaran hati manusia, bukan karena rencana Tuhan (Matius 19:8).

Kontroversi mengenai apakah perceraian dan pernikahan kembali diizinkan oleh Alkitab berkisar pada kata-kata Yesus dalam Matius 5:32 dan 19:9. Frasa “kecuali karena zinah” adalah satu-satunya alasan dalam Alkitab di mana Tuhan memberikan izin untuk perceraian dan pernikahan kembali. Banyak penafsir Alkitab yang memahami “klausa pengecualian” ini sebagai merujuk pada “perzinahan” yang terjadi pada masa “pertunangan.” Dalam tradisi Yahudi, laki-laki dan perempuan dianggap sudah menikah walaupun mereka masih “bertunangan.” Percabulan dalam masa “pertunangan” ini dapat merupakan satu-satunya alasan untuk bercerai.

Namun demikian, kata Bahasa Yunani yang diterjemahkan “perzinahan” bisa berarti bermacam bentuk percabulan. Kata ini bisa berarti perzinahan, pelacuran dan penyelewengan seks, dll. Yesus mungkin mengatakan bahwa perceraian diperbolehkan kalau terjadi perzinahan. Hubungan seksual adalah merupakan bagian integral dari ikatan penikahan, “keduanya menjadi satu daging” (Kejadian 2:24; Matius 19:5; Efesus 5:31). Oleh sebab itu, memutuskan ikatan itu melalui hubungan seks di luar pernikahan dapat menjadi alasan untuk bercerai. Jika demikian, dalam ayat ini, Yesus juga memikirkan tentang pernikahan kembali. Frasa “kawin dengan perempuan lain” (Matius 19:9) mengindikasikan bahwa perceraian dan pernikahan kembali diizinkan dalam kerangka klausa pengecualian, bagaimanapun itu ditafsirkan. Penting untuk diperhatikan bahwa hanya pasangan yang tidak bersalah yang diizinkan untuk menikah kembali. Meskipun tidak disebutkan dalam ayat tsb, izin untuk menikah kembali setelah perceraian adalah kemurahan Tuhan kepada pasangan yang tidak bersalah, bukan kepada pasangan yang berbuat zinah. Mungkin saja ada contoh-contoh di mana “pihak yang bersalah” diizinkan untuk menikah kembali, namun konsep tsb tidak ditemukan dalam ayat ini.

Sebagian orang memahami 1 Korintus 7:15 sebagai “pengecualian” lainnya, di mana pernikahan kembali diizinkan jikalau pasangan yang belum percaya menceraikan pasangan yang percaya. Namun demikian, konteks ayat ini tidak menyinggung soal pernikahan kembali dan hanya mengatakan bahwa orang percaya tidak terikat dalam pernikahan kalau pasangan yang belum percaya mau bercerai. Orang-orang lainnya mengklaim bahwa perlakuan sewenang-wenang (terhadap pasangan yang satu atau terhadap anak) adalah alasan yang sah untuk bercerai sekalipun Alkitab tidak mencantumkan hal itu. Walaupun ini mungkin saja, namun tidaklah pantas untuk menebak Firman Tuhan.

Kadang-kadang hal yang dilupakan dalam perdebatan mengenai klausa pengecualian adalah kenyataan bahwa apapun jenis penyelewengan dalam pernikahan, itu hanyalah merupakan izin untuk bercerai dan bukan keharusan untuk bercerai. Bahkan ketika terjadi perzinahan, dengan anugrah Tuhan, pasangan yang satu dapat mengampuni dan membangun kembali pernikahan mereka. Tuhan telah terlebih dahulu mengampuni banyak dosa-dosa kita. Kita tentu dapat mengikuti teladanNya dan mengampuni dosa perzinahan (Efesus 4:32). Namun, dalam banyak kasus, pasangan yang bersalah tidak bertobat dan terus hidup dalam percabulan. Di sinilah kemungkinanan Matius 19:9 dapat diterapkan. Demikian pula banyak yang terlalu cepat menikah kembali setelah bercerai padahal Tuhan mungkin menghendaki mereka untuk tetap melajang. Kadang-kadang Tuhan memanggil orang untuk melajang supaya perhatian mereka tidak terbagi-bagi (1 Korintus 7:32-35). Menikah kembali setelah bercerai mungkin merupakan pilihan dalam keadaan-keadaan tertentu, namun tidak selalu merupakan satu-satunya pilihan.

Adalah menyedihkan bahwa tingkat perceraian di kalangan orang-orang yang mengaku Kristen hampir sama tingginya dengan orang-orang yang tidak percaya. Alkitab sangat jelas bahwa Allah membenci perceraian (Maleakhi 2:16) dan bahwa pengampunan dan rekonsiliasi seharusnya menjadi tanda-tanda kehidupan orang percaya (Lukas 11:4; Efesus 4:32). Tuhan mengetahui bahwa perceraian dapat terjadi, bahkan di antara anak-anakNya. Orang percaya yang bercerai dan/atau menikah kembali jangan merasa kurang dikasihi oleh Tuhan bahkan sekalipun perceraian dan pernikahan kembali tidak tercakup dalam kemungkinan klausa pengecualian dari Matius 19:9. Tuhan sering kali menggunakan bahwa ketidaktaatan orang-orang Kristen untuk mencapai hal-hal yang baik.

26 Jul 2010

Hambatan Doa

Hambatan paling jelas terhadap efektifitas doa adalah adanya dosa yang belum diakui dalam hati orang yang berdoa. Karena Allah kita adalah suci adanya, ada penghalang yang berdiri antara kita dan Dia ketika kita menghampiri Dia dengan dosa yang belum diakui dalam hidup kita. “Tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu” (Yesaya 59:2). Daud setuju, dia mengalami sendiri bahwa Allah jauh dari mereka yang mencoba menyembunyikan dosa mereka: “Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, tentulah Tuhan tidak mau mendengar” (Mazmur 66:18).

Alkitab menunjuk pada beberapa macam dosa yang menjadi penghalang untuk doa yang efektif. Pertama, ketika kita hidup dalam kedagingan, dan bukannya dalam Roh, keinginan kita untuk berdoa dan kemampuan kita untuk secara efektif berkomunikasi dengan Allah terhalang. Meskipun kita menerima natur baru ketika kita dilahirkan kembali, natur baru itu masih berdiam dalam tubuh yang lama dan “tenda” kita yang lama sudah korup dan berdosa. Daging dapat mengambil alih kendali atas tindakan, sikap dan motivasi kita kecuali kalau dengan rajin kita “mematikan perbuatan-perbuatan tubuh” (Roma 8:13) dan dipimpin oleh Roh dalam hubungan yang benar dengan Allah. Hanya demikian kita akan mampu untuk berdoa dalam persekutuan yang dekat dengan-Nya.

Satu cara hidup dalam daging menampakkan diri adalah dalam mementingkan diri sendiri, yang merupakan halangan lainnya untuk doa yang efektif. Ketika doa kita bermotivasi egois, ketika kita meminta kepada Allah apa yang kita mau dan bukannya apa yang Dia inginkan, motif kita menghalangi doa kita. “Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya” (1 Yohanes 5:14). Meminta sesuai dengan kehendak Allah adalah sama dengan meminta dalam penaklukan kepada apa saja yang menjadi kehendak-Nya, baik kita ketahui atau tidak. Sebagaimana semua hal lainnya, Yesus adalah teladan doa kita. Dia selalu berdoa dalam kehendak Bapa-Nya, “Tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” (Lukas 22:42). Doa yang mementingkan diri selalu merupakan doa yang dimaksudkan untuk memuaskan nafsu kita sendiri, dan kita tidak mengharapkan Allah menanggapi doa semacam itu. “Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu” (Yakobus 4:3).

Hidup menurut keinginan daging yang egois juga menghalangi doa kita karena itu menghasilkan ketegaran hati terhadap orang lain. Kalau kita tidak perduli terhadap kebutuhan orang lain, kita bisa berharap bahwa Allah tidak akan memperdulikan kebutuhan kita. Ketika kita menghampiri Allah dalam doa, perhatian utama kita haruslah kehendak-Nya. Yang kedua adalah kebutuhan orang lain. Hal ini berasal dari pemahaman bahwa kita harus mempertimbangkan orang lain lebih dari diri sendiri dan memperhatikan kepentingan mereka melebihi kepentingan kita sendiri (Filipi 2:3-4).

Hambatan utama terhadap doa yang efektif adalah tidak mengampuni orang lain. Ketika kita menolak mengampuni orang lain, akar kepahitan mulai bertumbuh dalam hati kita dan mencekik doa-doa kita. Bagaimana kita dapat berharap Allah mencurahkan berkat-Nya atas kita, orang berdosa yang tidak layak, kalau kita menyimpan kebencian dan kepahitan terhadap orang lain? Prinsip ini digambarkan secara indah dalam perumpamaan hamba yang tidak mengampuni dalam Matius 18:23-35. Cerita ini mengajarkan bahwa Allah telah mengampuni hutang kita yang tak terbayangkan besarnya (dosa kita), dan Dia mengharapkan kita mengampuni orang lain sebagaimana kita telah diampuni. Menolak melakukan itu akan menghalangi doa-doa kita.

Hambatan utama lain terhadap efektifitas doa adalah ketidakpercayaan dan keraguan. Hal ini bukan berarti, seperti yang diajarkan oleh sebagian orang, bahwa karena kita datang kepada Allah dengan keyakinan bahwa Dia akan mengabulkan permohonan kita, maka Dia akan merasa wajib untuk mengabulkan. Berdoa tanpa ragu artinya berdoa dalam keyakinan dan pemahaman akan karakter, natur dan motif Allah. “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia” (Ibrani 11:6). Ketika kita menghampiri Allah dalam doa, meragukan karakter, tujuan dan janji-janji-Nya berarti kita amat menghina Dia. Keyakinan kita haruslah pada kesanggupan-Nya mengabulkan semua permohonan yang sesuai dengan kehendak dan tujuan-Nya dalam hidup kita. Kita harus berdoa dengan pemahaman bahwa apapun kehendak-Nya itu adalah skenario paling baik. “Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan” (Yakobus 1:6-7).

Akhirnya, perselisihan dalam rumah tangga jelas merupakan hambatan terhadap doa. Petrus secara khusus menyebut hal ini sebagai hambatan untuk doa-doa suami yang sikapnya terhadap istri tidak saleh. “Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang” (1 Petrus 3:7). Ketika ada konflik yang serius dalam hubungan keluarga dan kepala keluarga tidak menunjukkan sikap seperti yang disebutkan oleh Petrus, komunikasi doa suami dengan Allah terhalang. Demikian pula istri-istri harus mengikuti prinsip Alkitab untuk tunduk pada kepemimpinan suami kalau tidak mau doa mereka terhalang (Efesus 5:22-24).

Untungnya, semua halangan doa ini dapat diatasi dengan datang kepada Allah dalam doa pengakuan dan penyesalan. Dalam 1 Yohanes 1:9 kita dijamin bahwa “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Begitu kita sudah melakukan hal itu, kita dapat menikmati saluran yang bebas dan terbuka untuk berkomunikasi dengan Allah, dan doa-doa kita bukan hanya akan didengar dan dijawab, namun kita juga akan dipenuhi dengan rasa sukacita yang dalam.

Followers