14 Apr 2013

Doa Yabes Bagi Orang Kristen

Oleh Pdp. Filipus Heryanto, SE, MA

Dalam kitab 1 Tawarikh 4 : 9 -10 menulis : Yabes lebih dimuliakan dari pada saudara-saudaranya; nama Yabes itu diberi ibunya kepadanya sebab katanya : “Aku telah melahirkan dia dengan kesakitan.” Yabes berseru kepada Allah Israel, katanya : “Kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah dan memperluas daerahku, dan kiranya tangan-Mu menyertai aku, dan melindungi aku dari pada malapetaka, sehingga kesakitan tidak menimpa aku !” Dan Allah mengabulkan permintaannya itu.

Ayat ini menjelaskan siapa Yabes dan apa yang ia perbuat termasuk apa yang dia doakan dan doa tersebut dikabulkan oleh Allah. Yabes adalah sosok pribadi yang memiliki iman yang kuat dan mengetahui kehendak Allah atas hidupnya dengan pasti.

 Sejak penciptaan manusia Allah mempunyai rencana untuk memberkati ciptaannya ini dengan berkat yang berlimpah-limpah (Kejadian 1 : 28). Saat Yabes menaikkan doa supaya ia diberkati berlimpah-limpah dan daerahnya semakin diperluas serta meminta penyertaan dan perlindungan Allah atas hidupnya. Ini sesuai dengan janji Firman Tuhan atas manusia supaya mereka bertambah banyak, menaklukan bumi dan berkuasa atas segala binatang yang ada di bumi

Ada tiga pokok utama dari doa yang Yabes naikkan kepada Allah dan ketiga hal utama ini juga memiliki arti yang penting bagi setiap orang Kristen pada saat ini :

1. Kiranya Engkau memberkati aku dan memperluas daerahku

Pokok pertama ini berarti Yabes menghendaki suatu kemajuan yang ingin ia capai. Bukan hanya kemajuan dalam hal jasmani saja tetapi juga dalam hal rohani. Ia sadar dengan segala berkat yang Allah beri padanya maka ia sanggup turut memperluas Kerajaan Allah bahkan sampai ke daerah-daerah yang lainnya.

Yabes mengingatkan setiap orang Kristen bahkan gereja Tuhan untuk melihat, mendengar dan ambil bagian dalam memperluas Kerajaan Surga karena saat ini banyak orang Kristen tidak malu jika tidak maju padahal Amanat Agung haruslah kita lakukan bagi pelebaran Kerajaan Allah di bumi (Matius 28 : 19 – 20).

2. Kiranya tangan-Mu menyertai aku

Yabes meminta penyertaan Tuhan dalam segala yang ia kerjakan. Ia sadar bahwa tanpa Tuhan ia tidak dapat melakukan apa-apa. Yesus mengatakan : “Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kami tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yohanes 15 : 5). Kita seharusnya juga selalu meminta penyertaan Tuhan bagi segala yang akan kita kerjakan seperti Elisa meminta bagian dari Roh Allah yang ada di dalam Elia, Yakub terus memegang Malaikat Tuhan untuk memberkatinya. Adalah menjadi bagian orang percaya untuk selalu mengingatkan Tuhan akan janjiNya supaya janji tersebut dapat terjadi dalam kehidupan kita.

3. Kiranya tangan-Mu melindungi aku dari malapetaka

Yabes meminta Allah menjadi pelindung dan perisai bagi keselamatannya. Yabes menyadari segala kelemahan dan kekurangannya bahwa ia tidak akan pernah luput dari malapetaka atau pun kesakitan. Hanya Tuhanlah yang dapat menjagainya dan meluputkannya dari malapetaka dan kesakitan yang dating dalam kehidupannya. Kita sebagi orang-orang Kristen yang telah Yesus tebus dengan darahNya dan Yesus telah memberikan kesembuhan atas segala kelemahan dan sakit penyakit kita dengan rela menderita di kayu salib supaya kita dapat dibebaskan dari hal tersebut.

Yabes mengajarkan kepada setiap orang percaya supaya kita jangan hanya cukup menjadi jemaat atau bahkan menjadi turis rohani saja, yang datang untuk makan kenyang lalu tidur. Seperti Yabes meminta kepada Allah suatu kemajuan dalam hidupnya sehingga mampu memperluas Kerajaan Surga dalam apa yang ia kerjakan. Itu juga yang seharusnya dimiliki setiap orang percaya untuk bangkit membawa Firman Tuhan dan menjadi saksi-saksi Kristus untuk memberitakan Injil Kristus sampai ke ujung-ujung bumi.

Bangkitlah , menjadi teranglah, sebab terangmu datang,

7 Apr 2013

Merespon Panggilan: Bukan Kemampuan Kita, Tapi Kemauan

Ayat bacaan: Filipi 4:19
=================
"Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus."

Sewaktu kecil saya sering diminta ayah saya untuk pergi ke warung membeli sayur, bawang atau bumbu masak lainnya yang akan ia pakai untuk memasak telur dadar. Pada waktu itu hari minggu adalah satu-satunya hari yang bisa dipakai oleh ayah saya untuk melakukan kegemarannya sibuk-sibuk di dapur, karena di hari kerja jadwalnya penuh dalam bekerja sebagai dokter. Saya masih ingat betul pada mulanya saya ragu apakah saya mampu melakukan itu. Bagaimana jika saya ditipu harga, diberi kembalian yang tidak benar atau kendala-kendala lainnya seperti salah beli sayur, bumbu dan sebagainya? Satu hal yang ayah saya katakan pada waktu itu juga masih membekas dalam memori saya sampai hari ini. Ia berkata bahwa jika saya ia suruh, itu artinya ia percaya saya mampu. Akan halnya soal berhitung uang kembalian, bukankah saya sudah ia beri kesempatan untuk bersekolah, disamping ia dan ibu saya juga rajin mengajari saya dalam banyak hal termasuk matematika? Dan soal salah beli, kalaupun salah saya tinggal menukarkannya kembali, atau saya bisa bertanya kepada si penjual. Kalau begitu tidak ada yang harus saya khawatirkan. Saya tinggal mengaplikasikannya ke dalam bentuk nyata. Pengalaman hidup nyata yang sederhana ini ternyata teraplikasikan dalam kehidupan saya setelah dewasa, dan ternyata pula merupakan sebuah cerminan tentang bagaimana reaksi kita dalam menanggapi panggilan yang diberikan Tuhan.

Keraguan, itu akan selalu hadir ketika kita dihadapkan kepada sebuah tugas, tantangan dan juga sebuah panggilan. Logika kita akan segera mengukur batas kemampuan kita, dan di saat ukuran kita tidak sebanding dengan besarnya tanggungjawab yang dibebankan, maka keraguan pun segera muncul. Padahal apa yang diminta Tuhan bukanlah soal kemampuan kita, tetapi kemauan kita. Bukan kepintaran, kekuasaan, koneksi, keahlian atau gelar kita yang membuat Tuhan tertarik untuk memberi sebuah tanggungjawab lewat panggilan, tetapi kesediaan kita untuk mengerjakannya dengan taat, itulah sebenarnya yang diinginkan Tuhan. Selebihnya serahkan kepada Tuhan. Dia adalah Tuhan yang menyediakan (Jehovah Jireh), dan oleh karenanya segala keperluan kita butuhkan untuk mengerjakan sebuah panggilan tentu Tuhan sendiri yang akan sediakan. Dan lihatlah ayat yang secara tegas menyatakan hal itu. "Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus." (Filipi 4:19). Jika untuk keperluan-keperluan kecil kita saja Tuhan mau sediakan, apalagi untuk sebuah tujuan besar sesuai rencanaNya yang hadir dalam bentuk panggilanNya bagi kita masing-masing.

Jadi lihatlah bahwa ada perbedaan antara ukuran kesanggupan kita menurut penilaian kita sendiri dan pandangan Tuhan tentang kesanggupan kita menurut hematNya. Kita bisa melihat sebuah contoh akan kebimbangan ini lewat kisah Musa pada saat ia dipilih Tuhan untuk memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan untuk menuju tanah terjanji. Musa seperti kebanyakan dari kita langsung mengarahkan pandangan kepada keterbatasannya sebagai pribadi yang punya kelemahan fundamental yang bagi manusia mungkin akan dianggap sebagai nilai minus atau bahkan penghalang menuju keberhasilan. "Lalu kata Musa kepada TUHAN: "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah." (4:10). Berat mulut dan berat lidah, slow of speech and have a heavy and awkward tounge dalam bahasa Inggrisnya. Mungkin itu sejenis gagap, atau sekedar bukan orang yang pintar berbicara seperti layaknya orator ulung. Musa segera mengarah kepada kelemahannya dan lupa bahwa Tuhanlah sebenarnya yang menjadi pelaku utamanya, bukan dia. Itulah yang kemudian diingatkan Tuhan. "Firman Allah kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu." (3:14). Dalam versi bahasa Inggrisnya dikatakan "I AM WHO I AM and WHAT I AM, and I WILL BE WHAT I WILL BE." Tuhan secara jelas menyatakan bahwa siapa Tuhan itu jauh lebih penting daripada siapa Musa. "Akulah Aku", itu jauh lebih penting dari 'siapa aku.' Tuhan tidak melihat atau mengukur kehebatan diri kita, tetapi apa yang Dia minta adalah kemauan atau kesediaan kita. Itu saja. Selebihnya, Dialah yang akan melengkapi segala sesuatu yang kita butuhkan agar bisa berhasil menggenapi panggilanNya dengan baik.

Sikap sebaliknya kita dapati ketika Yesaya berada dalam situasi mirip dengan Musa saat mendapat panggilan Tuhan. Berbeda dengan Musa, Yesaya langsung menyatakan kesiapannya tanpa menghitung-hitung kemampuannya terlebih dahulu. "Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!" (Yesaya 6:8). Singkat namun tegas, demikian reaksi Yesaya. "Here am I, send me." Apakah Yesaya termasuk orang yang percaya diri berlebihan? Narsis? Sok hebat? Saya percaya bukan itu. Saya yakin Yesaya sangat tahu sampai dimana batas kemampuannya sebagai manusia. Tetapi ia menyadari betul bahwa ia hanyalah seorang utusan, seorang hamba. Ia tidak perlu takut. Bukankah ia memiliki "Tuan" dengan kuasa yang tidak terbatas? Bukankah ketika sang tuannya yang menyuruh, itu artinya tuannya tahu ia mampu, dan tuannya pula yang akan melengkapi apapun yang ia perlukan untuk melaksanakan tugas? Ini sebuah sikap yang seharusnya segera muncul dalam diri kita ketika Tuhan memberi sebuah panggilan. Bukan segera melihat kekurangan atau keterbatasan kemampuan kita, tetapi segera mengarahkan pandangan kepada Sang Pemberi tugas. Bukan mengeluh, tetapi sudah sepantasnya kita bersyukur karena kita dipilih Tuhan untuk melakukan pekerjaan yang mulia. Bukan kemampuan kita yang penting, tetapi kemauan kita. Selebihnya biarkan Tuhan yang berkreasi diatas segalanya lewat diri kita.

Dalam dua renungan terdahulu kita sudah melihat bagaimana caranya agar kita bisa mengerjakan panggilan secara maksimal. Hari ini marilah kita sadari bahwa apa yang diminta Tuhan adalah kesediaan kita, what He wants from us is simply our willingness, our obedience, our immidiate positive response based on trust and faith. Adakah panggilan Tuhan kepada anda yang hingga hari ini masih anda tunda karena ragu? Adakah panggilan Tuhan yang masih anda abaikan karena anda masih tidak percaya bahwa anda sanggup? Jangan tunda lagi, terimalah segera dan beranilah berkata seperti Yesaya: "Ini aku, utuslah aku!"

Bukan kemampuan kita, tetapi kemauan kita, itulah yang diminta Tuhan

Sumber: Renungan Harian Online

5 Apr 2013

Bergembira Dalam Kelelahan

Ayat bacaan: Amsal 15:13
====================
"Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat."

hati yang gembira, lelahTerkadang saya berpikir betapa manusia cenderung untuk sulit merasa puas. Selalu ada saja yang dikeluhkan, selalu ada yang kurang. Hal yang sama pun terjadi pada saya. Dulu, ketika saya belum memiliki pekerjaan, saya mengeluh dan terus berusaha dan meminta agar kiranya Tuhan memberkati saya dengan pekerjaan. Saat ini, ketika saya diberkati dengan pekerjaan yang begitu banyak sehingga saya tidak berhenti bekerja sejak pagi hingga lewat tengah malam selama beberapa hari terakhir ini, akhirnya malam ini tubuh saya terasa berontak. Saya merasa capai, uring-uringan dan akhirnya mengeluh. Jadi pengangguran mengeluh, punya pekerjaan banyak mengeluh. Tapi barusan saya mendapat teguran dalam hati saya, bahwa saya tidak boleh berlarut-larut membiarkan hal itu terjadi. Apa persisnya yang saya dengar? "manusia ini ya.. tidak punya kerja mengeluh, dikasih kerja mengeluh.." Itu perkataan yang saya dengar. Tuhan mengingatkan lagi pada saya, bahwa semua itu adalah berkat. Berkat yang bukan biasa-biasa, tapi luar biasa. Ada banyak orang yang mencari satu pekerjaan saja sulitnya bukan main, sedangkan saya tengah dipercayakan untuk melakukan banyak hal. Betapa keterlaluan jika saya malah mengeluh dan bukannya bersyukur bukan? Apalagi baru saja kemarin seorang murid saya berkata bahwa dia salut melihat saya, yang walaupun sedang sangat sibuk tapi tetap terlihat ceria seperti tanpa beban pikiran. Itu bentuk yang seharusnya ada dalam hidup anak-anak Tuhan. Tapi malam ini saya malah terpeleset dan kehilangan rasa gembira akibat terlalu lelah. Saya pun melakukan doa singkat, dan saat menulis renungan ini, saya sedang tersenyum. Saya kembali merasakan sukacita, merasakan kegembiraan ditengah kelelahan saya. Dan tubuh saya rasanya jauh lebih ringan.

Salomo menulis serangkaian hikmat mengenai hati yang gembira. Salah satunya adalah ayat bacaan hari ini: "Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat." (Amsal 15:13). Hati yang dipenuhi sukacita akan selalu membuat kita kelihatan ceria, sedangkan keluhan-keluhan akan mematahkan semangat kita. Selanjutnya Salomo berkata: "Hari orang berkesusahan buruk semuanya, tetapi orang yang gembira hatinya selalu berpesta." (Amsal 15:15) Bagaimana tidak buruk? Orang yang bersungut-sungut dan dipenuhi keluhan tidak akan bisa merasa senang dan bahagia. Tidak saja akan membuat perasaannya menjadi semakin tidak baik, tapi juga akan mempengaruhi orang-orang disekitarnya. Istri/suami, anak, orang tua, saudara, teman, tetangga, dan lain-lain, semua bisa kena getahnya. Padahal mereka tidak punya salah apa-apa. Dan ketika hati hanya dipenuhi amarah, kekesalan dan keluhan, semuanya pun terasa buruk. Lalu Salomo mengingatkan lagi: "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang." (Amsal 17:22). Sebuah penelitian menyebutkan bahwa 9 dari 10 penyakit disebabkan oleh pikiran. Dan benarlah apa yang dikatakan Salomo, hati yang gembira merupakan obat yang manjur, tapi semangat yang patah (bandingkan dengan Amsal 15:13 diatas) akan mendatangkan penyakit, atau membuat kita terlihat jauh lebih tua sebelum waktunya.

Saat ini saya berpikir betapa pentingnya kita mengucap syukur dalam segala hal. Anda merasa lelah? Ada Tuhan Yesus yang meringankan beban kita dan memberi kelegaan. (Matius 11:28). Ketika anda merasa beban pekerjaan menyita begitu banyak waktu anda dan membuat anda begitu letih, segera arahkan pikiran anda untuk melihat dari sudut pandang bahwa semua pekerjaan itu adalah berkat dari Tuhan, yang dipercayakan pada anda sesuai talenta yang telah Dia anugrahkan. Jangan fokus pada keletihan dan kesusahan anda dalam menyelesaikan pekerjaan. It's a blessing from God, sesuatu yang seharusnya kita syukuri dan bukan malah membuat kita dipenuhi keluh kesah. Daud mengalami banyak permasalahan dalam hidupnya, tapi Dia tetap fokus kepada rasa syukur pada Tuhan ketimbang tenggelam dalam permasalahannya. "dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu." (Mazmur 37:4). Paulus juga mengingatkan kita untuk terus bersyukur dalam segala hal, baik maupun buruk. "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika 5:8). Sesulit-sulitnya hidup, kita punya Kristus yang telah menyelamatkan kita dan menjanjikan kehidupan kekal penuh damai dan sukacita. Itu adalah hal yang luar biasa besar yang seharusnya mampu membuat kita selalu gembira dalam kondisi apapun.

Senyum saya semakin lebar sekarang, saat renungan ini mencapai akhir. Karena apa yang saya tuliskan juga sedang mengingatkan diri saya sendiri. Saya tidak merasa lelah lagi, karena beban itu telah diangkat dan digantikan dengan sukacita berlimpah. Haleluya. Saya mau bekerja dengan baik dalam segala perkerjaan yang telah dianugrahkan Tuhan pada saya dengan hati yang gembira, dan melakukannya sepenuh hati dengan sungguh-sungguh seperti sedang melakukannya untuk Tuhan (Kolose 3:23). Saya rindu mengajak teman-teman sekalian yang mungkin sedang merasakan kelelahan dalam pekerjaan juga untuk bersama-sama dengan saya mengembalikan kegembiraan dalam hati anda. "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!" (Filipi 4:4).

Gembira itu menyehatkan dan membuat awet muda. Gembira datang dari rasa syukur. Bergembiralah senantiasa

(C) Renungan Harian Online

1 Apr 2013

Bagaimana saya percaya ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS ?

Foto: Bagaimana saya percaya ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS ?


Kesaksian Professor Faouzi Arzouni
Bagaimana saya menjadi seorang pengikut Isa ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS ?

Perjalanan......
Pada intinya adalah perjalanan dari agama ke penyelamatan, saya gambarkan perjalanan hidup saya, dalam proses menjadi pengikut ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS, sebagai perjalanan dari ritual ke perdamaian. Dan ini sangat penting, karena saya dibesarkan dalam pedoman agama islam. Saya tumbuh dan memeluk agama islam dengan seluruh hatiku, sebaik yang bisa dilakukan sebagai seorang anak kecil di keluarga muslim.

Saya lahir di Senegal, Afrika Barat, dari keluarga berdarah Libanon, beragama Shia Muslim dan kami mengikuti pedoman dalam Alquran dan Hadits sebaik mungkin. Keluarga kami sangat beragama dalam semua aspek. Jadi, mengapa saya butuh lebih dari yang kami telah miliki ? Saya tidak pernah membutuhkan apa-apa. Sampai krisis kehidupan yang saya alami dan yang juga dialami semua orang, pada suatu waktu.

Membuat saya bertanya tentang beberapa hal terpenting dalam hidup :

Siapa saya ?

Kenapa saya dilahirkan ?

Apa artinya keberadaanku di dunia ini ?

Mengapa ada masalah ini ?

Mengapa kita mengalami pergumulan dalam hidup ?

Itulah sifat alami dalam manusia.

Untuk bergumul mencari jawaban dan untuk mencari belas kasihan TUHAN YESUS KRISTUS dan berkata, “TUHAN, kenapa?” TUHAN, kenapa aku ?

Apakah aku berbuat salah waktu kecil ?” orang tuaku bercerai dan keluargaku berantakan.

Kenapa kami mengalami pergumulan ketika sedang bertumbuh ?

Kenapa seorang dari latar belakangku membenci orang berkulit hitam ?

Dan kenapa walaupun kami semua muslim, kami semua tidak ada yang akur ?
Saya mulai mengerti saat saya sangat muda bahwa walaupun dengan pembicaraan mulai kami tentang Allah dan agama dalam keluarga, semua itu tidak menutup pintu kesengsaraan dan kerusakan yang dibawa masuk oleh dosa ke keluarga kami dan kehidupan masa mudaku. Saya mengalami semua ini.

Lalu saya mulai tugas untuk mereformasi hidupku karena saya mengira semua yang telah saya alami, semua hal buruk yang saya alami, terjadi karena saya bukanlah muslim yang baik. Saya pun mulai mengubah hidup saya dengan bersikap lebih hati-hati, membaca Alquran, mencoba mengikuti semua tradisi dan tentu melakukan segala ritual dan apapun yang diharuskan.

Tapi tahu tidak ada yang terjadi padaku ? Semakin aku melakukan semua itu, semakin aku mencoba, semakin aku menyadari ada sesuatu yang tidak beres, ada sesuatu yang salah.

Apakah ada masalahnya didalam hidup saya ? Atau saya tidak melakukannya dengan benar ? Saya mulai memperhatikan orang-orang lain. Saya memperhatikan siapa saja yang mengaku muslim, baik muslim fundamentalis atau muslim ktp. Dari satu ke yang lain.

Saya lihat secara keseluruhan semua jenis muslim yang mungkin ada, dan aku memperhatikan ada hal yang sama dalam hidup mereka dan saya. Yaitu, bahwa tidak ada kepastian pengampunan dosa, bahwa tidak ada damai yang sejati walaupun kami selalu berbicara tentang kedamaian, dan bahwa sejujurnya dalam hati saya dan juga hati teman-temanku yang muslim waktu itu, walaupun kami bilang 5x sehari dan ribuan kali disaat lain “Ar-Rahman Ar-Rahim”, kami tidak pernah benar-benar yakin kalau Allah ada di sisi kami. Kami tidak tahu apa yang dia telah tetapkan untuk kami. Kami tidak memiliki kepastian sama sekali.

Dan dalam situasi ini, pergumulan untuk mengubah diri, membuat saya merasa kesepian, sendiri, dan terasa sangat sulit. Namun, sebenarnya TUHAN melihat hati kami. Dan TUHAN melihat hatiku dan saya lihat hatiku sendiri dan saya tahu, saya tidak menemukan jawaban yang saya cari didalam agama. Apa lagi selain, cara kehidupan ? Apa lagi selain iman ? Apa lagi perlu saya lakukan supaya saya bisa naik ke tingkatan selanjutnya, ke langkah berikutnya. Aku tidak tahu, kemana saya harus berpaling ?

Pesan ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS

Apa yang ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS berikan kepada kita, bukanlah hanya sekumpulan peraturan atau hukum, amal-amal yang bisa dibawa supaya kita layak untuk dihargai dan berikan hadiah, seperti doa atau memberi zakat taupun juga, ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS datang untuk mengajari kita bahwa yang kita butuhkan adalah suatu hubungan, bukan agama. Dan hubungan tidak terjadi antara TUHAN dan kita, ketika kita belum memiliki pendamaian antara kita dengan TUHAN. Ini harus dimulai dengan adanya pendamaian di dalam hati. Ini yang saya dapat dari pesan ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS, yang seseorang ceritakan padaku.

Pertama kali orang itu berbicara kepadaku, saya marah sekali. Saya bilang, “Jangan pernah bicara soal itu lagi !!! Kamu pikir siapa kamu?” dan saat itulah saya belajar ada perbedaan besar antara mereka yang mengaku mengikuti Alkitab dan pangikut ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS yang sejati. Orang yang berbicara pada saya adalah pengikut ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS yang sejati.

Saya ingat pertama kalinya saya mendengar seseorang berkobtah tentang injil. Dan orang yang memberi kotbah tentang itu, saya tidak pernah lupakan. Bagaimana dia mengangkat buku itu, Alkitab, yang berisikan semua wahyu-wahyu suci dari ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS dari Taurat sampai Injil. Dan dia mulai mengatakan, “ TUHAN YESUS adalah yang memberi janji-janji dan menepati janji-janji-NYA. Dan YESUS KRISTUS-lah yang menjamin bahwa kita bisa berpegang pada Firman-NYA.”

Itu adalah kata-kata yang menghiburku, karena dia mengatakan bahwa hal-hal yang TUHAN YESUS katakan yang tidak mungkin sekedar main-main, yang sungguh-sungguh memberikan kepastian. Karena saya besar di suatu sistem yang di dalamnya saya tidak pernah yakin kalau Allah benar-benar ada di sisiku. Saya diajari bahwa Allah lebih dekat kepadaku dari pada urat leherku tetapi setelah aku membaca Alquran untuk membaca ayat itu ternyata ini bukan berbicara soal kedekatan yang penuh kasih lebih lemah lembut kepadaku tetapi suatu peringatan kepada orang-orang yang sesungguhnya tidak taat. Jadi saya berada dalam ketakutan bukan dalam kedamaian.

Hari itu, di antara janji-janji yang saya dengar, salah satunya yang diberikan kepada kita, didalam kitab Kisah Para Rasul fasal ke 4 : 1 - 12 yang berbunyi: tidak ada nama lain di bawah langit dan di atas bumi, yang berikan kepada kita yang oleh-NYA kita dapat diselamatkan. Dan jika kita percaya, TUHAN YESUS akan mengampuni kita. YESUS KRISTUSlah satu-satunya yang bisa memberikan nyawa-NYA sebagai tebusan, korban yang TUHAN YESUS telah siapkan. Keyakinan itu menusuk hatiku. Itu bukan sesuatu yang saya cari selama ini. Saya tidak berpikir ke sana. Dan Puji TUHAN ! Ini bukanlah suatu ajakan untuk pindah agama. Tidak, ini bukan soal itu. Tapi saya mendapat kepastian dan jaminan mutlak 100% dari TUHAN YESUS KRISTUS akan hidup yang kekal.

Ini bukan soal agama, ini soal pendamaian, inilah pesan dari injil, berita suka cita. Inilah yang dibawa ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS : Pendamaian. Jadi saat ini, kepada siapa saja yang mendengarkan, saya ingin bersaksi. Bahwa Injil itu Benar !!! Injil itu benar dan bersembunyi: yang artinya: hanya ada satu TUHAN dan tidak ada perantara lain antara manusia dan TUHAN kecuali YESUS KRISTUS, ANAK MANUSIA. Dan itulah yang saya inginkan saat ini, bahwa jika dengan iman, kamu menerima apa yang diberikan oleh Injil, kamu menemukan solusi hidup. Kehidupanku berubah karena kebenaran itu.

Apa yang tidak bisa ketemukan dalam agama, agama apapun juga itu sama saja, bisa agama apa saja, apa yang tidak bisa kutemukan dalam agama, saya temukan keselamatan lewat penebusan dosa dalam nama ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS, saya mendapat pendamaian dengan TUHAN yang mengubah hatiku dan hal itu memberikan damai sejati. Dan itu kenapa saya mau mengikuti ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS dan kenapa saya mengikut ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS, karena saya selalu bilang ke surga, mari dapatkan pendamaian dirimu dengan TUHAN. Dalam nama ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS dan jadilah pengikut-NYA.

Catatan :
Kesaksian ini saya posting untuk mencerikatan suatu Kebenaran yang harus di sampaikan, bukan untuk mau menyinggung yang berbeda agama. Biarlah Kebenaran yang dari TUHAN YESUS yang menenari hati kita.


TUHAN YESUS Memberkati. Kesaksian Professor Faouzi Arzouni
Bagaimana saya menjadi seorang pengikut Isa ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS ?

Perjalanan......
Pada intinya adalah perjalanan dari agama ke penyelamatan, saya gambarkan perjalanan hidup saya, dalam proses menjadi pengikut ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS, sebagai perjalanan dari ritual ke perdamaian. Dan ini sangat penting, karena saya dibesarkan dalam pedoman agama islam. Saya tumbuh dan memeluk agama islam dengan seluruh hatiku, sebaik yang bisa dilakukan sebagai seorang anak kecil di keluarga muslim.

Saya lahir di Senegal, Afrika Barat, dari keluarga berdarah Libanon, beragama Shia Muslim dan kami mengikuti pedoman dalam Alquran dan Hadits sebaik mungkin. Keluarga kami sangat beragama dalam semua aspek. Jadi, mengapa saya butuh lebih dari yang kami telah miliki ? Saya tidak pernah membutuhkan apa-apa. Sampai krisis kehidupan yang saya alami dan yang juga dialami semua orang, pada suatu waktu.

Membuat saya bertanya tentang beberapa hal terpenting dalam hidup :

Siapa saya ?

Kenapa saya dilahirkan ?

Apa artinya keberadaanku di dunia ini ?

Mengapa ada masalah ini ?

Mengapa kita mengalami pergumulan dalam hidup ?

Itulah sifat alami dalam manusia.

Untuk bergumul mencari jawaban dan untuk mencari belas kasihan TUHAN YESUS KRISTUS dan berkata, “TUHAN, kenapa?” TUHAN, kenapa aku ?

Apakah aku berbuat salah waktu kecil ?” orang tuaku bercerai dan keluargaku berantakan.

Kenapa kami mengalami pergumulan ketika sedang bertumbuh ?

Kenapa seorang dari latar belakangku membenci orang berkulit hitam ?

Dan kenapa walaupun kami semua muslim, kami semua tidak ada yang akur ?
Saya mulai mengerti saat saya sangat muda bahwa walaupun dengan pembicaraan mulai kami tentang Allah dan agama dalam keluarga, semua itu tidak menutup pintu kesengsaraan dan kerusakan yang dibawa masuk oleh dosa ke keluarga kami dan kehidupan masa mudaku. Saya mengalami semua ini.

Lalu saya mulai tugas untuk mereformasi hidupku karena saya mengira semua yang telah saya alami, semua hal buruk yang saya alami, terjadi karena saya bukanlah muslim yang baik. Saya pun mulai mengubah hidup saya dengan bersikap lebih hati-hati, membaca Alquran, mencoba mengikuti semua tradisi dan tentu melakukan segala ritual dan apapun yang diharuskan.

Tapi tahu tidak ada yang terjadi padaku ? Semakin aku melakukan semua itu, semakin aku mencoba, semakin aku menyadari ada sesuatu yang tidak beres, ada sesuatu yang salah.

Apakah ada masalahnya didalam hidup saya ? Atau saya tidak melakukannya dengan benar ? Saya mulai memperhatikan orang-orang lain. Saya memperhatikan siapa saja yang mengaku muslim, baik muslim fundamentalis atau muslim ktp. Dari satu ke yang lain.

Saya lihat secara keseluruhan semua jenis muslim yang mungkin ada, dan aku memperhatikan ada hal yang sama dalam hidup mereka dan saya. Yaitu, bahwa tidak ada kepastian pengampunan dosa, bahwa tidak ada damai yang sejati walaupun kami selalu berbicara tentang kedamaian, dan bahwa sejujurnya dalam hati saya dan juga hati teman-temanku yang muslim waktu itu, walaupun kami bilang 5x sehari dan ribuan kali disaat lain “Ar-Rahman Ar-Rahim”, kami tidak pernah benar-benar yakin kalau Allah ada di sisi kami. Kami tidak tahu apa yang dia telah tetapkan untuk kami. Kami tidak memiliki kepastian sama sekali.

Dan dalam situasi ini, pergumulan untuk mengubah diri, membuat saya merasa kesepian, sendiri, dan terasa sangat sulit. Namun, sebenarnya TUHAN melihat hati kami. Dan TUHAN melihat hatiku dan saya lihat hatiku sendiri dan saya tahu, saya tidak menemukan jawaban yang saya cari didalam agama. Apa lagi selain, cara kehidupan ? Apa lagi selain iman ? Apa lagi perlu saya lakukan supaya saya bisa naik ke tingkatan selanjutnya, ke langkah berikutnya. Aku tidak tahu, kemana saya harus berpaling ?

Pesan ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS

Apa yang ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS berikan kepada kita, bukanlah hanya sekumpulan peraturan atau hukum, amal-amal yang bisa dibawa supaya kita layak untuk dihargai dan berikan hadiah, seperti doa atau memberi zakat taupun juga, ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS datang untuk mengajari kita bahwa yang kita butuhkan adalah suatu hubungan, bukan agama. Dan hubungan tidak terjadi antara TUHAN dan kita, ketika kita belum memiliki pendamaian antara kita dengan TUHAN. Ini harus dimulai dengan adanya pendamaian di dalam hati. Ini yang saya dapat dari pesan ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS, yang seseorang ceritakan padaku.

Pertama kali orang itu berbicara kepadaku, saya marah sekali. Saya bilang, “Jangan pernah bicara soal itu lagi !!! Kamu pikir siapa kamu?” dan saat itulah saya belajar ada perbedaan besar antara mereka yang mengaku mengikuti Alkitab dan pangikut ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS yang sejati. Orang yang berbicara pada saya adalah pengikut ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS yang sejati.

Saya ingat pertama kalinya saya mendengar seseorang berkobtah tentang injil. Dan orang yang memberi kotbah tentang itu, saya tidak pernah lupakan. Bagaimana dia mengangkat buku itu, Alkitab, yang berisikan semua wahyu-wahyu suci dari ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS dari Taurat sampai Injil. Dan dia mulai mengatakan, “ TUHAN YESUS adalah yang memberi janji-janji dan menepati janji-janji-NYA. Dan YESUS KRISTUS-lah yang menjamin bahwa kita bisa berpegang pada Firman-NYA.”

Itu adalah kata-kata yang menghiburku, karena dia mengatakan bahwa hal-hal yang TUHAN YESUS katakan yang tidak mungkin sekedar main-main, yang sungguh-sungguh memberikan kepastian. Karena saya besar di suatu sistem yang di dalamnya saya tidak pernah yakin kalau Allah benar-benar ada di sisiku. Saya diajari bahwa Allah lebih dekat kepadaku dari pada urat leherku tetapi setelah aku membaca Alquran untuk membaca ayat itu ternyata ini bukan berbicara soal kedekatan yang penuh kasih lebih lemah lembut kepadaku tetapi suatu peringatan kepada orang-orang yang sesungguhnya tidak taat. Jadi saya berada dalam ketakutan bukan dalam kedamaian.

Hari itu, di antara janji-janji yang saya dengar, salah satunya yang diberikan kepada kita, didalam kitab Kisah Para Rasul fasal ke 4 : 1 - 12 yang berbunyi: tidak ada nama lain di bawah langit dan di atas bumi, yang berikan kepada kita yang oleh-NYA kita dapat diselamatkan. Dan jika kita percaya, TUHAN YESUS akan mengampuni kita. YESUS KRISTUSlah satu-satunya yang bisa memberikan nyawa-NYA sebagai tebusan, korban yang TUHAN YESUS telah siapkan. Keyakinan itu menusuk hatiku. Itu bukan sesuatu yang saya cari selama ini. Saya tidak berpikir ke sana. Dan Puji TUHAN ! Ini bukanlah suatu ajakan untuk pindah agama. Tidak, ini bukan soal itu. Tapi saya mendapat kepastian dan jaminan mutlak 100% dari TUHAN YESUS KRISTUS akan hidup yang kekal.

Ini bukan soal agama, ini soal pendamaian, inilah pesan dari injil, berita suka cita. Inilah yang dibawa ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS : Pendamaian. Jadi saat ini, kepada siapa saja yang mendengarkan, saya ingin bersaksi. Bahwa Injil itu Benar !!! Injil itu benar dan bersembunyi: yang artinya: hanya ada satu TUHAN dan tidak ada perantara lain antara manusia dan TUHAN kecuali YESUS KRISTUS, ANAK MANUSIA. Dan itulah yang saya inginkan saat ini, bahwa jika dengan iman, kamu menerima apa yang diberikan oleh Injil, kamu menemukan solusi hidup. Kehidupanku berubah karena kebenaran itu.

Apa yang tidak bisa ketemukan dalam agama, agama apapun juga itu sama saja, bisa agama apa saja, apa yang tidak bisa kutemukan dalam agama, saya temukan keselamatan lewat penebusan dosa dalam nama ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS, saya mendapat pendamaian dengan TUHAN yang mengubah hatiku dan hal itu memberikan damai sejati. Dan itu kenapa saya mau mengikuti ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS dan kenapa saya mengikut ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS, karena saya selalu bilang ke surga, mari dapatkan pendamaian dirimu dengan TUHAN. Dalam nama ISA AL-MASIH/ TUHAN YESUS KRISTUS dan jadilah pengikut-NYA.

Catatan :
Kesaksian ini saya posting untuk mencerikatan suatu Kebenaran yang harus di sampaikan, bukan untuk mau menyinggung yang berbeda agama. Biarlah Kebenaran yang dari TUHAN YESUS yang menenari hati kita.

TUHAN YESUS Memberkati.
 

Sumber Akun FB: Samuel Benny

10 Jan 2012

Kepuasan yang sesungguhnya.

Ayat Pengantar: Yohanes 6:25-40

Yohanes 6:26-27  Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya."

Kepuasan yang sesungguhnya. Kebaktian Kebangunan Rohani lebih disukai daripada pembinaan-pembinaan rohani mendalam dan serius. Adakah kegiatan kebangunan rohani tersebut dilanjutkan dengan keseriusan membina diri bertumbuh dalam iman percaya? Orang banyak di masa Tuhan juga demikian. Mereka mencari Tuhan bukan supaya mereka tumbuh dalam pengenalan yang benar, yaitu meyakini bahwa Tuhan Yesus adalah yang diutus Allah, Mesias yang hidup. Pertemuan dengan Tuhan dalam kelompok besar tidak membawa mereka pada kesadaran melakukan kehendak Allah. Rasa lapar dan haus yang terus-menerus dirasakan adalah karena mereka tidak datang pada Roti Hidup yang sesungguhnya, Tuhan Yesus Kristus (35)

Jaminan keselamatan. Firman yang telah membuat kita percaya kepada Kristus adalah kebenaran yang sesungguhnya. Rintangan, hambatan, kesulitan dalam hidup dari berbagai pihak sepatutnya tidak meluluhkan iman percaya kita. Kita adalah orang-orang pilihan Allah, anak-anak Allah yang meyakini bahwa di dalam Kristus ada kehidupan kekal dan jaminan keselamatan.

Renungkan: Tanyakan kepada diri Anda, sudahkan iman percaya kepada Yesus Kristus itu membawa Anda mengalami kepuasan yang sesungguhnya?

8 Jan 2012

Teladan dan kuasa dalam pelayanan.

Matius 9:35 Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan.

Baca Juga Matius 10:4

Teladan dan kuasa dalam pelayanan. Kemarin kita telah belajar bahwa kita harus tunduk kepada Yesus sebagai Tuhan. Hari ini kita akan belajar bagaimana membuktikan penundukan diri kita. Salah satu caranya adalah melanjutkan misi-Nya di dunia. Kita menjadi pekerja-pekerja-Nya yang digerakkan oleh belas kasihan Yesus untuk mengabarkan Kabar Baik dan menjangkau mereka yang terhilang dalam masyarakat dengan memberikan kesembuhan kepada mereka yang sakit dan menguatkan mereka yang lemah tubuh.

Namun seringkali kita terlalu menitikberatkan kepada pelayanan pemberitaan Injil, sehingga mengesampingkan pelayanan-pelayanan yang dapat memenuhi kebutuhan fisik dan sosial orang lain, karena kita menganggap bahwa masalah rohani lebih penting daripada masalah jasmani. Padahal Yesus dengan belas kasihan-Nya berusaha untuk menyembuhkan pribadi manusia secara utuh. Karena itu kita memang harus berkhotbah dan mengajar, namun kita pun harus meneladani pola pelayanan Yesus dan menyatakan kasih Allah seperti yang Yesus lakukan, dengan menyediakan makanan bagi yang lapar, merawat yang sakit, dan membela yang ditindas.

Selain model pelayanan Yesus, kita pun dapat meneladani rasul-rasul yang diutus oleh Yesus. Kuasa yang Yesus berikan kepada murid-murid-Nya memampukan mereka untuk melakukan pelayanan secara efektif dan berdampak nyata dalam kehidupan manusia (ayat 10:11). Mereka dilengkapi dengan kuasa karena merekalah yang telah dipilih dan dilatih oleh Yesus. Merekalah yang senantiasa berada dekat kaki Yesus dan mendapatkan pengajaran-Nya. Di samping itu mereka semua—-selain Yudas—-adalah murid-murid yang berkomitmen penuh kepada Yesus.

Renungkan: Marilah kita teladani pola pelayanan Yesus dan murid-murid-Nya. Selama ini mungkin pelayanan kita tidak efektif atau tidak memberikan dampak kepada kehidupan manusia secara langsung dan nyata. Jika demikian kita perlu mengevaluasi apakah selain kesibukan dalam berbagai aktifitas, kita senantiasa menyediakan waktu untuk duduk bersimpuh di kaki Yesus dan mendengarkan Dia. Satu hal lagi yang harus diingat adalah bahwa kuasa tidak selalu untuk melakukan mukjizat, tetapi meliputi kuasa untuk mengajar, berkhotbah, dan menghibur sehingga kasih Allah kepada manusia dapat dinyatakan kepada dunia.

5 Nov 2011

Mantan Teroris bertobat dan sekarang menjadi pengikut TUHAN YESUS (Isa Almasih)



Walid Shoebat: Mengapa Saya Meninggalkan Jihad..

“Saya teringat pada satu kesempatan di Betlehem ketika para penonton yang penuh sesak di sebuah bioskop bertepuk-tangan dengan sukacita saat menonton film 21 Hari di Munich. Saat kami melihat orang-orang Palestina …membunuh atlet-atlet Israel, kami…berteriak,’allahu Akbar!’ allahu akbar Sebuah slogan sukacita”.

Salah satu kekuatan yang paling dahsyat di dunia adalah kesaksian yang mengubah hidup. Sebagaimana Parvin dan Homa Darabi, Walid Shoebat juga mengalami jahatnya terorisme karena ia pernah menjalaninya,Pada kenyataannya, ia mempraktekkannya. Sewaktu remaja, ia membom sebuah bank di Tanah Suci dan turut serta memukuli seorang tentara Israel. Ketika istrinya yang beragama katolik menantangnya untuk mempelajari Alkitab, hatinya yang keras kemudian menjadi lembut saat ia belajar tentang anugerah, rekonsiliasi, dan kasih yang diberikan melalui pengorbanan YESUS KRISTUS (Isa Almasih). Sekarang Walid menyerukan perlunya toleransi beragama dan kebebasan pribadi. Dan ia berusaha keras, berjalan dari seorang teroris menjadi seorang yang anti teroris.

Kisah Walid Shoebat dengan tajam menunjukkan pada kita apa yang akan terjadi di lingkungan kita jika kita tidak menghentikan terorisme islam. Ia meninggalkan Islam dengan alasan yang jelas: Islam menghasilkan kekerasan. Ia takut jika kita yang hidup di dunia Barat dan negara-negara non-Muslim lainnya tidak bersatu sekarang, kita akan menghadapi kekerasan Islam yang lebih dahsyat di kemudian hari. Saat itu terjadi, itu tidak terjadi di suatu tempat di seberang lautan, itu akan terjadi di dalam komunitas kita sendiri.

Walid Shoebat : Mengapa Saya Meninggalkan Islam?


Saya lahir dan dibesarkan di Beit Sahour, Betlehem, di Tepi Barat, dalam sebuah keluarga berada. Kakek dari pihak ayah saya adalah seorang mukhtar, atau kepala suku, di desa itu. Ia adalah sahabat dari Haj-Ameen Al-Husseini, Mufti Agung Yerusalem dan sahabat dekat Adolf Hitler. Kakek dari pihak ibu saya, F.W.Georgeson, di sisi lain, adalah sahabat dekat Winston Churchill, dan pendukung keras terbentuknya negara Israel, walau saya tidak terlalu menyadari akan hal ini sampai bertahun-tahun kemudian dalam hidup saya. Saya dilahirkan pada salah satu hari raya penting Islam, yaitu hari kelahiran nabi muhammad. Ini adalah suatu kehormatan besar untuk ayah saya. Untuk merayakan hari itu, ia menamai saya Walid, yang berasal dari kata bahasa Arab mauled, yang artinya “kelahiran”. Itu adalah cara ayah saya untuk mengingat kenyataan bahwa putranya dilahirkan pada hari yang sama dengan kelahiran nabi terakhir dan terbesar dari semua nabi.

Ayah saya adalah seorang Muslim Palestina yang mengajar bahasa Inggris dan studi Islam di Tanah Suci. Ibu saya adalah seorang Amerika yang menikahi ayah saya pada tahun 1956 ketika ayah saya sedang studi di Amerika. Karena mereka takut akan pengaruh dari gaya hidup Amerika terhadap anak-anak mereka, saat ibu saya sedang mengandung saya, orang-tua saya pindah ke Betlehem, yang pada waktu itu adalah bagian dari Yordania. Itu terjadi pada tahun 1960. Tak lama setelah orang-tua saya tiba di Betlehem, saya dilahirkan. Ketika ayah saya berganti pekerjaan, kami pindah ke Arab Saudi dan kemudian kembali ke Tanah Suci,kali ini ke dataran terendah di muka bumi: Yerikho. Saya dibesarkan dan belajar bagaimana membenci namun diselamatkan melalui teladan mengasihi yang ditunjukkan oleh ibu saya yang adalah orang Amerika, yang paham soal belas kasih, keadilan, dan kebebasan.

Saya tidak pernah melupakan lagu pertama yang saya pelajari di sekolah. Judulnya adalah “Orang-orang Arab Kekasih Kami dan Orang-orang Yahudi Anjing-anjing Kami”. Waktu itu saya baru berumur 7 tahun. Saya ingat waktu itu saya bertanya-tanya siapakah orang Yahudi itu, namun bersama dengan teman-teman sekelas saya, saya mengulangi kata-kata itu tanpa benar-benar memahami apa arti yang sebenarnya.
Saya dibesarkan di Tanah Suci, saya mengalami beberapa pertempuran antara Arab dan Yahudi. Pertempuran pertama, ketika kami masih tinggal di Yerikho, adalah Pertempuran Enam Hari, ketika orang Yahudi menaklukkan Yerusalem tua dan sisa “Palestina”. Sulit sekali menggambarkan betapa hal ini sangat mengecewakan dan mempermalukan orang Arab dan kaum Muslim di seluruh dunia.

Konsul Amerika di Yerusalem datang ke desa kami tidak lama sebelum perang itu terjadi untuk mengevakuasi semua orang Amerika di wilayah itu. Oleh karena ibu saya adalah orang Amerika, mereka menawarkan bantuan kepada kami, tapi ayah saya menolak bantuan apapun dari mereka, karena ia mencintai negerinya. Saya masih ingat banyak hal selama perang itu ,suara ledakan bom yang berlangsung berhari-hari dan bermalam-malam selama 6 hari, penjarahan toko-toko dan rumah-rumah oleh orang-orang Arab di Yerikho, orang-orang mengungsi menyeberangi Sungai Yordan karena takut terhadap orang Israel.

Perang itu dinamai demikian karena hanya berlangsung dalam 6 hari. Orang Israel memperoleh kemenangan atas pasukan multi-nasional Arab yang menyerang dari banyak front. Hanya pada hari ke-7 peperangan ini, Rabbi Shalom Goren, ketua rohaniwan pasukan Pertahanan Israel, mengeluarkan pernyataan yang bergema dishofar, mengumumkan kontrol Yahudi atas Tembok Barat dan kota tua Yerusalem. Banyak orang Yahudi menghubungkan peristiwa ini paralel dengan kejadian yang dicatat dalam Alkitab ketika Yosua dan bangsa Israel menaklukkan Yerikho. Yosua dan orang Israel mengelilingi tembok Yerikho selama 6 hari, dan pada hari yang ke-7, mereka mengelilingi tembok itu 7 kali. Para imam membunyikan shofar bersamaan dengan orang-orang Israel berteriak dengan satu suara. Tembok pun roboh dan orang Israel menguasai kota itu.
Sesuai perang, bagi ayah saya di Yerikho, seakan-akan tembok itu telah roboh langsung menimpanya.

Selama perang, ia duduk lengket dengan radio mendengarkan stasiun radio Yordan. Ia selalu berkata bahwa orang-orang Arab akan memenangkan perang itu , tetapi ia mendengarkan stasiun radio yang salah. Stasiun radio Israel mengabarkan kebenaran mengenai kemenangan telak mereka. Namun ayah saya memilih untuk mempercayai orang Arab yang mengklaim bahwa orang-orang Israel selalu berbohong, mengumumkan propaganda palsu. Banyak diantara kita sekarang yang tentunya masih ingat menteri informasi Saddam, yang dikenal dengan “Baghdad Bob”, dan semua klaim liar dan laporan palsu yang diteriakkannya beberapa hari setelah kejatuhan Baghdad? Dalam dunia Islam, nampaknya ada hal-hal yang tidak pernah berubah.

Kemudian, pindah kembali ke Betlehem, dan ayah saya memasukkan kami ke sebuah sekolah Anglikan-Lutheran agar dapat menguasai pelajaran-pelajaran bahasa Inggris. Saudara saya laki-laki dan perempuan, dan saya sendiri adalah satu-satunya orang Muslim di sekolah itu. Kami bertiga dibenci. Terutama bukan karena kami orang Muslim, tetapi karena kami setengah Amerika. Walaupun itu adalah sekolah Kristen, sekolah itu masih memiliki jejak kekristenan yang berwarna Islam yang mempengaruhi banyak orang Kristen Palestina hingga saat ini. Agar dapat diterima  dan kadangkala hanya supaya bisa tetap hidup , banyak orang Kristen di negara-negara yang didominasi Islam mengadopsi sikap benci yang dimiliki orang Muslim di sekeliling mereka terhadap Israel, Amerika dan dunia Barat. Karena kami separoh Amerika, guru-guru seringkali memukuli kami sementara murid-murid Kristen menertawakan hal itu.

Akhirnya, ayah saya memindahkan saya ke sekolah pemerintah dimana saya mulai bertumbuh kuat dalam islam. Saya diajari bahwa suatu hari penggenapan sebuah nubuat kuno oleh nabi muhammad akan terjadi. Nubuat ini menceritakan suatu peperangan dimana Tanah Suci akan kembali ditaklukkan Islam dan eliminasi orang Yahudi akan terjadi dalam sebuah pembantaian massal. Nubuat ini ditemukan dalam banyak buku suci tradisi Islam yang dikenal dengan Sahih Hadith. Tradisi ini berbunyi sebagai berikut, dan merupakan pola pikir semua pengikut Islam radikal”
“[muhammad berkata:] Saat terakhir tidak akan datang kecuali orang Muslim memerangi orang Yahudi dan orang Muslim akan membunuh mereka hingga orang Yahudi menyembunyikan diri di balik batu atau pohon dan berkata: Muslim, atau hamba Allah, ada orang Yahudi di belakang saya; datang dan bunuhlah dia; tetapi pohon Gharqad tidak akan berkata, karena itu adalah pohon orang Yahudi”. (Sahih Muslim Buku 041, Nomor 6985). Jika ditanya dimana pembantaian itu akan dilaksanakan, tradisi mengatakan bahwa itu akan terjadi di “Yerusalem dan daerah sekelilingnya”.

Selama masa remaja saya, seperti ayah, saya selalu menyesuaikan diri dengan islam dan apa saja yang diajarkan guru-guru Muslim kepada kami. Saya, seperti halnya teman-teman sekelas saya pada umumnya, sangat terinspirasi oleh visi muhammad yang gelap dan penuh darah. Saya menyerahkan hidup saya untuk jihad, atau perang suci, untuk memenuhi penggenapan nubuat ini. Saya ingin menjadi bagian dari tercapainya rencana muhammad, ketika islam akan memperoleh kemenangan terakhir atas orang Yahudi dan akhirnya tanpa halangan lagi  memerintah dunia. Ini adalah ideologi para mentor saya, dan ketika saya telah meninggalkan paham fanatik ini, jutaan orang di Timur Tengah masih mempercayainya, dan mereka masih berjuang untuk menjadikannya sebuah realita.


Selama masa remaja saya, sering ada kerusuhan di sekolah menentang apa yang kami sebut sebagai pendudukan Israel. Sedapat-dapatnya saya berperan sebagai penghasut dan penggerak. Saya bersumpah untuk memerangi musuh Yahudi, percaya bahwa dengan melakukannya saya sedang melakukan kehendak Tuhan di atas bumi. Saya tetap setia pada sumpah saya saat saya memerangi tentara Israel dalam setiap kerusuhan. Saya menggunakan berbagai alat yang ada untuk menghasilkan kerusakan dan sakit yang sebesar-besarnya. Saya berunjuk rasa di sekolah, di jalanan, dan bahkan di Temple Mount di Yerusalem. Selama sekolah menengah, saya adalah pemimpin aktivis yang memperjuangkan Islam. Saya akan mempersiapkan pidato-pidato, slogan-slogan, dan menulis grafiti anti Israel sebagai usaha untuk memprovokasi murid-murid lain untuk melempari tentara-tentara Israel yang bersenjata dengan batu. Gema bergemuruh teriakan-teriakan kami masih jelas dalam ingatan saya:
Tidak ada damai atau negosiasi dengan musuh!
Darah dan jiwa kami kurbankan untuk Arafat!
Darah dan jiwa kami kurbankan untuk Palestina!
Matilah Zionis!

Impian saya adalah untuk mati sebagai sahid, seorang martir untuk Islam. Pada saat berunjuk rasa saya akan membuka baju saya berharap untuk ditembak, tetapi karena orang Israel tidak pernah menembaki tubuh, saya tidak pernah berhasil. Ketika gambar-gambar sekolah diambil, saya dengan sengaja berpose dengan wajah yang cemberut mengantisipasi bahwa pada koran berikut wajah sayalah yang akan dimuat sebagai martir berikutnya. Banyak kali saya hampir terbunuh waktu unjuk rasa siswa dan kerusuhan dengan tentara Israel. Jantung saya berdebam; tak ada yang dapat menyingkirkan keinginan saya,kebencian dan kemarahan saya ,selain dari mujizat. Saya adalah salah seorang dari orang-orang muda yang mungkin anda lihat di CNN melempar batu dan bom molotov pada hari-hari Intifada atau “kebangkitan”. Pada waktu itu, saya akan membenci label itu; tetapi sebenarnya saya adalah seorang teroris muda. Pencucian otak dengan paham Islam-Nazi oleh para guru dan imam dalam keseluruhan budaya saya mencapai pengaruh yang dicita-citakannya.

Apa yang saya ketahui sekarang adalah bahwa saya tidak hanya meneror orang lain, tetapi dalam banyak hal, saya sedang meneror diri saya sendiri dengan apa yang saya percayai. Perjuangan utama saya adalah untuk mendapatkan nilai yang cukup  untuk membangun catatan teror yang hebat agar disukai allah swt. Saya hidup dengan takut akan penghakiman dan neraka dan berpikir bahwa hanya dengan bersikap jahat seperti itu saya mempunyai kesempatan untuk masuk janna(surga, atau nirwana). Saya tidak pernah yakin bahwa semua “perbuatan baik” saya dapat melebihi perbuatan-perbuatan jahat saya jika ditimbang pada Hari Penghakiman. Saya tidak hanya digerakkan oleh kemarahan dan kebencian, tetapi juga oleh rasa tidak aman dan ketakutan secara spiritual. Saya percaya pada apa yang telah diajarkan pada saya: cara yang paling pasti untuk meredakan kemarahan allah swt terhadap dosa-dosa saya adalah dengan mati memerangi orang Yahudi. Mungkin, jika saya berhasil, saya akan diberi pahala tempat khusus di Surga dimana wanita-wanita cantik bermata besar akan memenuhi hasrat saya yang terdalam.

Sulit untuk menggambarkan sampai pada tahap seperti apa pencucian otak yang dialami orang seperti saya, yang dibesarkan di bawah sistem pendidikan Palestina. Semua pihak berotoritas menyuarakan pesan yang sama: pesan Islam adalah jihad atau kebencian terhadap orang Yahudi dan hal-hal yang seharusnya tidak berkuasa atas pikiran orang muda.


Saya teringat satu kejadian di Sekolah Menengah Dar-Jaser di Betlehem saat sedang studi tentang islam, ketika salah seorang teman kelas saya bertanya kepada gurunya, apakah seorang Muslim diijinkan memperkosa wanita Yahudi setelah mengalahkan mereka. Jawabannya adalah, ”Wanita yang ditangkap dalam pertempuran tidak mempunyai pilihan dalam hal ini, mereka adalah gundik-gundik dan mereka harus menaati tuannya. Berhubungan seks dengan budak tawanan bukanlah “sebuah pilihan bagi para budak”. Ini bukanlah pendapat guru itu semata-mata, tetapi jelas sekali diajarkan di dalam alquran yaitu:
“Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (allah swt telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapannya atas kamu”. Surah 4:24
Dan juga dikatakan dalam alquran:

“Hai Nabi, sesungguhnya kami telah menghalalkan bagimu istri-istrimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada nabi kalau nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang Mukmin”. Surah 33:50.

Kami tidak mempermasalahkan soal muhammad mengambil keuntungan dari hak istimewa ini saat ia menikahi sekitar 14 istri dan mempunyai beberapa budak wanita yang dikumpulkannya sebagai rampasan beberapa perang yang dimenangkannya. Kami tidak benar-benar tahu berapa banyak istri yang dimilikinya dan pertanyaan itu senantiasa merupakan hal yang kami perdebatkan.Salah seorang dari istri-istrinya diambil dari anak angkatnya sendiri, yaitu Zayd. Setelah Zayd menikahi wanita itu, muhammad tertarik padanya. Zayd memberikannya kepada muhammad, tetapi muhammad tidak menerima pemberian Zayd itu hingga turunlah wahyu dari allah swt. Istri-istri muhammad yang lainnya adalah para tawanan Yahudi yang dipaksa menjadi budak, setelah muhammad memenggal kepala para suami dan keluarga mereka. Inilah hal-hal yang kami pelajari dalam studi kami mengenai Islam di sekolah menengah. Inilah orang yang harus kami teladani dalam segala hal. Inilah nabi kami, dan dari dia dan perkataannyalah kami belajar untuk membenci orang Yahudi.


Saya teringat pada satu kesempatan di Betlehem ketika para penonton yang penuh sesak di sebuah bioskop bertepuk tangan dengan sukacita saat mereka menyaksikan film 21 Hari di Munich. Saat kami menyaksikan orang-orang Palestina melempar granat ke dalam helikopter dan membunuh para atlet Israel, kami semua dan ratusan penonton berteriak, “allahu akbar, allahu akbar!" sebagai sebuah slogan sukacita.
Dalam suatu usaha untuk mengubah hati orang Palestina, stasiun televisi Israel menayangkan film dokumentasi mengenai Holocaust. Saya duduk dan menonton, menyoraki orang Jerman sambil makan pop corn. Hati saya begitu keras, mustahil bagi saya untuk mengubah sikap saya terhadap orang Yahudi, kecuali melalui “pencangkokan hati”.

Oleh karena kemurahan Tuhan, saya memiliki sesuatu yang hanya dimiliki oleh sedikit dari teman-teman sekelas saya. Saya mempunyai seorang ibu yang berbelas kasih dan memiliki suara yang lembut  dengan sabar berusaha menggapai saya di tengah-tengah hiruk pikuk suara kebencian yang menulikan di sekitar saya. Ia berusaha mengajari saya di rumah tentang apa yang disebutnya dengan “rencana yang lebih baik”. Namun demikian, pada waktu itu apa yang diajarkannya hanya berdampak sedikit pada saya, karena tekad saya sudah teguh , saya akan hidup atau mati memerangi orang Yahudi. Tetapi seorang ibu tidak pernah menyerah.

Saya tidak menyadarinya waktu itu, tetapi ibu saya telah dipengaruhi oleh sepasang misionaris Amerika. Ia bahkan telah dengan diam-diam meminta mereka untuk membaptisnya. Namun, ketika ia menolak untuk dibaptis di kolam yang penuh dengan ganggang hijau, pendeta misionaris itu harus meminta YMCA di Yerusalem untuk mengosongkan kolam yang dikhususkan untuk pria, dan kemudian ibu saya dibaptis disana. Tak seorang pun anggota keluarga kami mengetahuinya.

Seringkali ibu mengajak saya mengunjungi berbagai museum di Israel. Ini berdampak positif pada saya dan saya jatuh cinta pada arkeologi. Saya terpesona pada arkeologi. Dalam banyak argumentasi saya dengan ibu, secara langsung saya katakan padanya bahwa orang Yahudi dan orang Kristen telah berubah dan memalsukan Alkitab. Ia menanggapinya dengan membawa saya ke Museum Gulungan Kitab di Yerusalem dimana ibu menunjukkan pada saya gulungan kuno kitab Yesaya yang masih utuh. Ibu saya berhasil menyampaikan argumennya tanpa berkata-kata. Walaupun ibu berusaha mencapai saya dengan sabar dan lembut, saya tidak tergoyahkan. Saya akan menyiksanya dengan hinaan. Saya menyebutnya seorang “kafir” yang mengklaim bahwa YESUS (Isa Almasih) adalah Anak Tuhan dan saya menyebut ibu “seorang penjajah terkutuk Amerika”. Saya menunjukkan padanya gambar-gambar di surat kabar tentang semua remaja

Palestina yang telah menjadi “martir” sebagai akibat dari perselisihan dengan tentara Israel dan saya menuntut ibu untuk memberikan jawaban. Saya membencinya dan meminta ayah untuk menceraikannya dan menikahi seorang wanita Muslim yang baik.

Di samping semua hal ini, ibulah yang membantu saya ketika saya dijebloskan ke Penjara Muscovite di Yerusalem yang pergi ke konsulat Amerika di Yerusalem dan berusaha untuk mengeluarkan saya. Penjara Muscovite dulunya adalah kamp Rusia yang digunakan sebagai penjara pusat di Yerusalem bagi mereka yang kepergok menghasut orang untuk melakukan kekerasan terhadap Israel. Ibuku yang kekasih sangat kuatir akan arah hidup yang saya ambil sehingga rambutnya mulai rontok. Kekuatirannya bukannya tanpa alasan. Selama saya di penjara saya menjadi anggota kelompok teror Fatah milik Yasser Arafat. Tak lama kemudian, saya direkrut oleh seorang pembuat bom yang sangat terkenal dari Yerusalem yang bernama Mahmoud Al-Mughrabi.

Sudah tiba saatnya bagi saya untuk melakukan yang lebih besar daripada sekedar protes dan membuat kerusuhan. Al-Mughrabi dan saya berencana untuk bertemu di Jalan Bab-El-Wad di Klub Bela Diri Judo-Star yang dikelola ayahnya di dekat Temple Mount di Yerusalem. Ia memberi saya bahan peledak yang rumit yang telah dirakitnya sendiri. Saya harus menggunakan bom  berbahan peledak yang disembunyikan dalam seketul roti untuk meledakkan cabang Bank Leumi di Betlehem. Mahmoud menolong saya menyelundupkan bom itu, seperti halnya Wakf Muslim, polisi agama di Temple Mount. Dari Temple Mount, saya berjalan keluar menuju podium dengan bahan peledak dan pengatur waktunya di tangan saya.

Kami berjalan di sepanjang Dinding Ratapan dan menghindari semua titik pemeriksaan. Dari sana, saya berjalan ke stasiun bis dan naik bis ke Betlehem. Saya sudah sangat siap untuk menyerahkan hidup saya jika memang harus demikian. Saya berdiri di depan bank itu dan tangan saya sudah benar-benar siap untuk meledakkan bom di pintu depan, ketika saya melihat beberapa anak Palestina berjalan di dekat bank. Pada saat terakhir, saya malah melemparkan bom itu ke atap bank. Dan saya berlari. Ketika saya sampai di Church of the Nativity (gereja yang dibangun di tempat Yesus dilahirkan,Red), saya mendengar ledakan. Saya sangat ketakutan dan sangat depresi sehingga saya tidak dapat tidur berhari-hari. Saya hanyalah seorang remaja berusia 16 tahun. Saya bertanya-tanya apakah saya telah membunuh orang hari itu. Itulah kali pertama saya mengalami bagaimana rasanya memiliki tangan yang berlumuran darah. Saya tidak menikmati apa yang telah saya perbuat, tetapi saya merasa harus melakukannya karena itu adalah tugas saya.

Kisah yang akan saya ceritakan pada anda berikut ini juga merupakan pergumulan. Itulah kali pertama saya berusaha untuk membunuh seorang Yahudi. Seperti jutaan belalang, batu-batu beterbangan dimana-mana saat kami bertikai dengan tentara Israel. Sekelompok orang dari pihak kami telah menyalakan api dengan cara membakar ban untuk digunakan sebagai blokade. Seorang tentara terluka kena lemparan batu. Ia mengejar anak yang telah melemparinya. Namun kami berhasil menangkap tentara itu. Bagaikan segerombolan binatang liar, kami menyerangnya dengan apa saja yang ada di tangan kami. Saya memegang pentungan dan saya menggunakan pentungan itu untuk memukuli kepalanya sampai pentungan itu patah. Seorang remaja lain memegang tongkat dengan paku-paku yang mencuat keluar. Ia terus memukuli kepala tentara yang masih muda itu hingga ia berlumuran darah. Kami hampir saja membunuhnya. Ajaibnya, seakan-akan dengan didorong ledakan adrenalin yang terakhir, dia lari sekencangnya menyeberangi blokade ban-ban berapi dan berhasil lolos ke seberang dimana para tentara Israel menggotong dan menyelamatkannya. Saya tidak tahu dari mana ia mendapatkan kekuatan itu. Tapi sekarang saya merasa senang karena ia berhasil melarikan diri. Sekarang, setelah bertahun-tahun berlalu, sulit sekali bagi saya mengekspresikan bagaimana saya sangat menyesal dan pedih jika mengingat bahwa saya pernah melakukan hal-hal seperti itu. Sekarang saya bukan orang yang sama seperti waktu itu.



Setelah saya menyelesaikan sekolah menengah atas, orang-tua saya mengirim saya ke Amerika untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi. Saya masuk di sekolah yang kemudian dikenal dengan Loop College, yang terletak di jantung kota Chicago. Ketika saya tiba disana, saya langsung terlibat dengan banyak acara sosial politik yang anti Israel. Saya masih benar-benar percaya bahwa akan datang harinya dimana seluruh dunia akan tunduk kepada Islam dan kemudian dunia akan menyadari betapa dunia sangat berhutang kepada orang-orang Palestina yang telah mengalami banyak kehilangan oleh karena mereka adalah barisan terdepan dalam perang islam melawan Israel.

Loop College dipenuhi oleh berbagai organisasi islam. Ketika saya berjalan ke kantin, rasanya seperti masuk ke sebuah kafe Arab di Timur tengah. Berbagai kelompok islam beroperasi di luar jam sekolah pada waktu itu, tiap kelompok bersaing untuk merekrut siswa lain. Dengan segera saya mengabdikan tenaga saya untuk melayani sebagai seorang aktifis PLO ,Organisasi Pembebasan Palestina. Secara resmi saya harus bekerja sebagai penerjemah dan konselor bagi siswa-siswa Arab melalui sebuah program Amerika yang disebut CETA (Comprehensive Employment and Training Act) dimana saya dibayar dengan bantuan dari pemerintah Amerika Serikat. Namun, sebenarnya, apa yang saya lakukan, meliputi menerjemahkan iklan-iklan untuk acara-acara yang bertujuan memenangkan simpati orang Amerika atas perjuangan Palestina. Kenyataannya, “memenangkan simpati” adalah ekspresi yang palsu. Kami berusaha untuk mencuci otak orang-orang
Amerika ,semua yang kami pandang sangat mudah tertipu. Dalam bahasa Arab, iklan-iklan untuk acara-acara semacam itu dengan terang-terang menggunakan jihadist, sebuah deskripsi anti semitis seperti: “Akan ada sungai darah…Datang dan dukunglah kami untuk mengirim siswa-siswa ke Selatan Libanon untuk memerangi orang Israel…” Di lain pihak, dalam versi bahasa Inggris, kami akan menggunakan deskripsi yang halus dan tidak merusak, seperti: “pesta budaya Timur tengah, datanglah dan bergabung dengan kami, kami akan menyajikan domba gratis dan baklava…” Waktu itu tahun 1970.

Kemudian terjadilah Septembar Hitam. September Hitam adalah bulan yang dikenal di seluruh Timur Tengah sebagai saat ketika Raja Hussein dari Yordania bergerak menggagalkan sebuah usaha PLO di Yordania meruntuhkan kekuasaannya sebagai Raja. Banyak orang Palestina terbunuh dalam konflik yang berlangsung hampir setahun lamanya itu hingga bulan Juli 1971. Hasil akhir dari semua ini adalah pengusiran PLO dan ribuan orang Palestina dari Yordania masuk ke Lebanon.
Tentu saja, konflik itu berkembang dan mempengaruhi berbagai organisasi siswa Arab di Loop College. Saya sangat kecewa dan frustrasi menyaksikan hal ini, karena saya menyadari bahwa tanpa persatuan, tujuan jihad di Amerika tidak akan berhasil. Pada saat itulah saya bergabung dengan Al-Ikhwan,

Persaudaraan Muslim.
Persaudaraan Muslim adalah organisasi yang membawahi sejumlah oragnisasi teroris lainnya di seluruh dunia. Saya tidak sendirian saat bergabung dengan Persaudaraan ini; ada ratusan siswa Muslim lain dari seluruh penjuru Amerika yang juga bergabung ketika itu. Saya percaya bahwa bekerja sebagai seorang aktifis untuk Persaudaraan Muslim adalah cara yang terbaik untuk membawa kesatuan diantara orang Muslim; bukan Muslim Palestina atau Muslim Yordania, melainkan satuummah Muslim – satu komunitas Muslim universal – di bawah satu payung Islam. Hingga akhirnya, seorangsheikhYordania bernama Jamal Said datang ke Amerika untuk merekrut siswa-siswa. Pertemuan perekrutan itu diadakan di gudang bawah tanah atau dengan menyewa kamar hotel. Para siswa Muslim berkumpul dari seluruh penjuru Amerika untuk menghadiri pertemuan itu dan mendengarkan Sheikh Jamal Said. Jamal memiliki status dan reputasi yang legendaris. Dia adalah sahabat Abdullah Azzam, yang terkenal di seluruh Timur tengah sebagai mentor dari

Osama Bin Laden.
Orang seringkali bertanya pada saya apakah menurut saya ada kelompok-kelompok sel teroris yang beroperasi di Amerika.Tidak diragukan lagi bahwa kelompok-kelompok itu memang ada. Sementara banyak mahasiswa Amerika di tahun 70-an bereksperimen dengan narkoba, memprotes pemerintah mereka, dan berpartisipasi dalam melahirkan gerakan “anak bunga”, mereka tidak memperkirakan adanya revolusi bawah tanah lainnya yang dilahirkan oleh para siswa Muslim radikal di seluruh negeri itu. Di dalam Islam, diajarkan bahwa jika seorang Muslim memasuki sebuah negara untuk menaklukkannya bagi Allah, ada beberapa tahapan sebelum mencapai “invasi” itu jika anda menginginkannya. Itu adalah tahap-tahap awal dari gerakan paling subversif yang akan dialami oleh negara itu. Itulah kelahiran gerakan jihadis di Amerika.

Akhirnya saya pindah ke California, dimana saya bertemu dengan istri saya, seorang Katolik dari Meksiko. Saya ingin mentobatkannya kepada Islam. Saya mengatakan padanya bahwa orang Yahudi telah memalsukan Alkitab dan ia meminta saya untuk menunjukkan beberapa contoh pemalsuan itu. Ia menantang saya: ia menantang saya untuk mempelajari Alkitab itu sendiri supaya saya sendiri melihat apakah semua yang telah diajarkan kepada saya mengenai Alkitab dan orang Yahudi itu benar atau tidak. Itu membuat saya memulai sebuah perjalanan yang mengubah hidup saya secara radikal. Pada saat itu saya harus pergi membeli Alkitab dan saya mulai membacanya dan ada banyak sekali kata “Israel” di dalamnya. Kata yang paling saya benci itu ada dimana-mana di dalam kitab itu. Saya berpikir, bagaimana ini harus dijelaskan?
Saya mulai berpikir bahwa orang-orang Yahudi sesungguhnya tidak menyakiti kami tetapi kami membenci mereka dan menuduh mereka melakukan hal-hal yang mengerikan ini.

Ini adalah sebuah perjalanan, yang dalam beberapa waktu lamanya hingga saya menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya, lebih merupakan sebuah obsesi. Saya akan begadang sampai larut malam dan membaca dengan tekun kitab suci orang Yahudi dan Kristen ini. Saya membaca Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Saya mempelajari sejarah Yahudi. Saya berdoa dan menggumuli hal-hal yang saya temukan. Banyak hal dalam kepercayaan saya yang membentuk dasar-dasar cara berpikir saya yang Islami mulai bertumbangan. Karena dikonfrontasi dengan konflik yang jelas terlihat antara cara saya memandang dunia ini dan agama saya semenjak remaja dan kebenaran Alkitab yang menusuk, lalu saya berdoa mohon bimbingan Tuhan. Pada pertengahan tahun 1990, saya pergi ke reuni keluarga di selatan California, disana terjadi pertengkaran setelah saya membela tokoh Alkitab Rahel yang disebut oleh paman saya sebagai “pelacur Yahudi”.
Paman saya berkata kepada saya :“Kamu layak dimusuhi”, kata paman saya, dan mereka melemparkan saya keluar dari rumah.
Saya sadar mereka tidak tahu apa-apa soal sejarah; apa yang mereka ketahui hanyalah propaganda yang dulu selalu diajarkan pada saya.

Pertobatan saya membawa saya untuk meninggalkan kekerasan dan menjadi orang Kristen, tetapi untuk itu ada harga yang harus saya bayar: keluarga saya tidak mau mengakui saya lagi dan saudara saya sendiri mengancam akan membunuh saya karena telah meninggalkan islam. Sekarang saya berharap bahwa dengan mengatakan kebenaran saya akan membuka mata orang banyak.

Sekarang, saya adalah pendiri Yayasan Walid Shoebat. Misi hidup saya dan cita-cita saya adalah membawa kebenaran tentang orang Yahudi dan Israel ke seluruh dunia, sambil mengijinkan Kristus (Isa Almasih) untuk menyembuhkan jiwa saya melalui pertobatan dan mengupayakan rekonsiliasi. Saya telah berketetapan untuk dengan tidak berlelah berbicara tentang Israel kepada ratusan ribu orang di dunia. Saya bersyukur kepada TUHAN YESUS (Isa Almasih) karena IA memberikan saya kesempatan untuk meminta pengampunan dan berekonsiliasi dengan orang Yahudi dimana pun di seluruh penjuru dunia. Kepada siapa pun yang mau mendengarkan, saya akan menceritakan kisah saya. Sebagai tambahan, walaupun ada banyak ancaman terhadap hidup saya ,Harga kepala saya termasuk imbalan 10 juta Dollar untuk menangkap dan membunuh saya . lalu saya terus berbicara menentang kebohongan-kebohongan Islam-Nazi yang dulu mengindoktrinasi saya. Jika mereka menangkap saya, saya akan terus bersuara. Ya, hari ini saya mengatakan pada dunia, Saya mengasihi orang Yahudi! Dan saya sangat percaya bahwa orang Yahudi adalah umat pilihan TUHAN semesta alam yang bertujuan untuk memberi terang kepada orang-orang Arab dan juga seluruh dunia ,jika mereka mengijinkan orang Yahudi menerangi mereka.

Mengetahui kebenaran ini telah mengubah cara berpikir saya dari menjadi seorang pengikut muhammad dan yang mengidolakan Adolf Hitler menjadi seorang yang percaya kepada TUHAN YESUS KRISTUS (Isa Almasih), dari mempercayai kebohongan menjadi mengenal kebenaran, dari sakit secara spiritual menjadi dipulihkan, dari hidup dalam gelap menjadi melihat terang, dari terkutuk menjadi diselamatkan, dari keraguan kepada iman, dari benci menjadi kasih, dari perbuatan-perbuatan jahat kepada anugerah TUHAN YESUS KRISTUS (Isa Almasih) di dalam KasihNYA Saya di ubah olehNYA,Inilah saya hari ini. Terpujilah Engkau TUHAN YESUS.amin.

Saya berharap dengan membaca kesaksian saya dan yang lainnya dalam buku saya ,anda mulai menyadari bahwa ada peperangan antara yang baik dan yang jahat, dan antara damai dengan terorime, perselisihan antara kebebasan dan neo-fasisme. Sebagaimana yang saya katakan saya berbicara di Universitas Columbia: Hari ini saya berjuang untuk hak semua orang; saya berjuang untuk orang kulit hitam agar dibebaskan dari perbudakan, bagi orang muslim agar bebas untuk bertobat kepada kekristenan, bagi orang-orang Yahudi yang menolak untuk menjadi Kristen, dan bagi orang-orang ateis untuk mendapatkan haknya menjadi orang ateis. Dan saya Rela mati untuk hak kebebasan berbicara bagi semua orang di Amerika Serikat.

sekian kesaksian dari Walid Shoebat adalah seorang Mantan Teroris bertobat & sekarang percaya kepada TUHAN YESUS (Isa Almasih)...
semoga bermanfaat yaa kesaksian ini..

15 Jul 2011

Mewujudkan Resolusi

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Roma 8:28

Menyusun resolusi adalah hal yang ke­rap dilakukan orang di awal tahun. Na­­mun, banyak orang begitu semangat me­nyusun resolusi agar menjadi “lebih ba­ik”, kemudian lupa ketika waktu berlalu. Ada banyak hal membuat kita sulit mewu­jud­kan resolusi. Akan tetapi, ada satu hal penting yang bisa menjadi pangkal kega­gal­an kita, yakni saat kita menyusun reso­lusi dengan pertanyaan yang salah, “Apa yang ingin saya capai tahun ini?” atau “A­pa yang ingin saya lakukan tahun ini?” Sebagai orang-orang yang menjadikan Ye­sus se­ba­gai Raja atas hidup ini, bukankah seharusnya kita mendasarkan resolusi pada perta­nya­an, “Tuhan, apa yang Engkau ingin aku lakukan tahun ini? Apa yang Engkau ingin agar saya capai tahun ini?” Ada dua alas­an mengapa kita harus melibatkan Tuhan dalam menyusun resolusi. Pertama, Yakobus mengingatkan agar kita tidak melupakan Tuhan dalam perencanaan, karena kita tidak tahu apa yang akan ter­jadi besok (ayat 14). Yakobus menasihati supaya kita berkata, “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu” (ayat 15). Hanya Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi di se­panjang tahun ke depan. Namun, Tuhan akan memimpin kita untuk membuat keputusan yang tepat, saat kita membuat rencana bersa­ma-Nya. Kedua, kita mesti ingat bahwa tujuan utama hidup kita adalah men­jadi serupa dengan Kristus (Roma 8:29). Karena itu, fokus re­so­lusi kita seharusnya adalah menjadi apa yang Tuhan mau, bukan se­kadar menjadi lebih baik menurut ukuran manusia. Mari membuat dan menjalani resolusi bersama Tuhan. Pegang­lah janji Tuhan, bahwa Dia akan “turut bekerja dalam segala se­su­atu” di sepanjang tahun ini (RH)

13 Jul 2011

RILEKS

Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya, sementara mereka menggisarnya dengan tangannya. Lukas 6:1

Kehidupan zaman sekarang penuh dengan tekanan; kesibukan dan ketergesaan seolah telah menjadi rutinitas. Bagaimana dengan Anda? Kapan terakhir Anda punya perasaan ingin berteriak sekeras-kerasnya? Kapan Anda merasa begitu ingin menangis? Apakah Anda mengalami kesulitan tidur pada malam hari dan terus diliputi ketegangan? Kapan terakhir Anda tersenyum dengan spontan? Kalau Anda sedang mengalami hal-hal itu, berarti Anda tengah mengalami gejala stres. Anda perlu waktu rileks. Rileks membantu me-recharge baterai kehidupan Anda. Firman Tuhan hari ini berkisah tentang Tuhan Yesus yang tengah berjalan di ladang gandum (ayat 1). Untuk apa Dia di sana? Alkitab memang tidak menjelaskan. Namun, sangat mungkin Dia tengah bersantai. Keluar sejenak dari kesibukannya, menikmati panorama alam pada Hari Sabat. Bisa dipahami, setiap hari Dia sangat sibuk —mengajar, melayani orang banyak, menyembuhkan orang sakit. Begitu padat aktivitas-Nya, sampai kadang makan pun Dia tidak sempat (Markus 6:31). Rupanya Tuhan Yesus juga sangat memperhatikan saat-saat untuk rileks. Rileks, berhenti sejenak dari hiruk pikuk rutinitas dan ketegangan sehari-hari, banyak sekali manfaatnya. Dalam olahraga golf dikenal pukulan yang disebut backswing. Kunci keberhasilan pukulan ini adalah rileks. Ketika si pemain berada dalam keadaan rileks, pukulannya bisa lebih jauh daripada kalau mereka melakukan dengan tegang. Begitu pula dengan hidup kita. Rileks akan membantu kita untuk mengembalikan kebugaran tubuh dan kejernihan dalam berpikir, sehingga hidup kita menjadi lebih produktif. Dan tentu lebih sehat pula.

12 Jul 2011

Tenggat Waktu (Deadline)

Kata Yesus kepada mereka: "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Yohanes 4 : 34

Ketika pekerjaan dikejar deadline (tenggat waktu), yang ada di benak hanya tuntutan “harus selesai”. Maka ketika seseorang sadar deadline menjelang, apa pun situasi yang dialami--padat aktivitas, ada masalah, kelelahan--ia akan memberi diri semaksimal mungkin untuk merampungkan tugas. Dan ia tak boleh menyerah dan tak boleh marah pada deadline, sebab untuk itulah deadline ditetapkan.
Ketika tiba saatnya Yesus menyelesaikan misi-Nya di dunia, Dia tahu waktu-Nya tak banyak. Maka, inilah kalimat kunci yang muncul dalam masa tiga tahun pelayanan-Nya: Dia selalu melayani dengan total! Dia memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk mengajar, menasihati, menegur, menyampaikan kabar baik, menyelamatkan orang berdosa. Tak heran jika beberapa kali kita membaca, Dia sampai kelelahan (ayat 6). Namun, dalam kondisi demikian pun, Yesus tak henti melakukan tugas-Nya. Dia menjangkau hati perempuan Samaria yang sengaja Dia temui, agar terjadi keselamatan baginya dan kaum sebangsanya (ayat 29,39). Karena tak selamanya Dia akan ada di dunia, Yesus selalu berkarya dengan totalitas.
"Untuk segala sesuatu ada masanya” (Pengkhotbah 3:1), kata firman Tuhan, ada deadline-nya. Tak ada tugas yang takkan berakhir di muka bumi ini. Tugas kita sebagai anak, sebagai orangtua, sebagai pasangan, sebagai pemimpin, sebagai staf perusahaan, dan sebagainya, suatu saat harus berakhir. Tak untuk seterusnya kita akan melakukan hal-hal yang kita lakukan sekarang ini. Suatu hari setiap peran itu akan berakhir, bahkan masa hidup kita di dunia pun akan berakhir. Maka seperti Yesus, mari lakukan setiap peran setotal mungkin kita bisa.

6 Jul 2011

KEKUATAN IMAN

Karena iman maka runtuhlah tembok-tembok Yerikho, setelah kota itu dikelilingi tujuh hari lamanya. Ibrani 11:30
Seberapa besar iman yang harus kita miliki? Bisa jadi inilah pertanyaan yang mendorong para murid untuk meminta kepada Tuhan Yesus, “Tambahkanlah iman kami!” Dan, jawaban yang mereka terima sangat mengejutkan, “Sekiranya kamu mempunyai iman sekecil biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada po-hon ara ini: Tercabutlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu” (Lukas 17:6). Biji sesawi tergolong biji-bijian yang sangat kecil. Diameter biji ini kurang lebih satu milimeter, bahkan ada yang lebih kecil dari itu. Ada yang berwarna kekuningan, ada yang kecoklatan, ada juga yang berwarna hitam. Begitu kecil ukuran biji sesawi ini, sehingga orang bisa sangat sulit memegangnya. Dan biji sesawi yang sangat kecil ini justru dijadikan “ukuran” oleh Tuhan untuk menunjukkan kekuatan iman yang besar. Iman melewati batas-batas perhitungan akal. Apa yang menurut akal sulit, bahkan tidak mungkin, bisa terjadi di dalam iman. Tembok Yerikho menjadi bukti betapa kekuatan iman mampu meruntuhkan tembok (Yosua 6:1-27). Akal sehat kita tentu akan sangat sulit membayangkan tembok yang kokoh dan kuat itu runtuh, tetapi iman memungkinkan segala sesuatu terjadi. Karena itu, jangan berkecil hati jika kita tengah menghadapi “jalan buntu”; kesulitan dan hambatan bertumpuk di depan kita seolah-olah mustahil dilampaui. Jangan undur. Tetaplah berpaut pada iman, sebab di dalam iman selalu ada pengharapan akan adanya jalan keluar. Kadang-kadang hal itu dapat terwujud dengan cara dan waktu yang sama sekali tidak terduga.

5 Jul 2011

Bukan Superstar

Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu. Yohanes 1:8
Lagu Ku Bukan Superstar dari Project Pop merupakan lagu yang mengutarakan kejujuran. Lirik lagu tersebut dengan jujur mengatakan bahwa saya bukan superstar, melainkan hanya orang biasa. Perlu sebuah keberanian untuk memiliki kejujuran seperti ini. Dan, hal tersebut hanya dapat dimiliki oleh orang-orang yang memiliki pengenalan yang baik terhadap dirinya sendiri. Yohanes Pembaptis memiliki kesempatan untuk menjadi seorang superstar. Ia bisa saja mengaku kepada orang-orang bahwa dirinya adalah Mesias atau sedikitnya Nabi Elia, tetapi ia tidak melakukan hal itu (ayat 20,21). Mengapa? Karena ia tahu siapa dirinya dan apa yang harus dilakukannya. Yohanes tahu bahwa ia hanyalah saksi yang tugasnya adalah membuka jalan agar Mesias Sang Superstar yang sesungguhnya itu, dapat dikenal oleh banyak orang. Yohanes Pembaptis tidak merasa rendah diri karena hal itu dan juga tidak merasa terpaksa melakukannya. Yohanes Pembaptis tidak pernah mengatakan, “Mengapa Dia, bukan saya?” Kejujuran Yohanes membuat dirinya tampil sebagai dirinya sendiri, bukan sebagai orang lain. Dengan demikian, ia memenuhi tujuan yang Allah tetapkan dalam hidupnya. Dan saya yakin inilah yang diingini oleh Allah. Sesungguhnya, Allah menciptakan kita sebagai pribadi yang unik dan istimewa. Allah telah mengaruniakan banyak kelebihan dalam diri kita. Jadi, untuk apa tampil di dunia ini sebagai orang lain? Tampillah secara jujur. Tunjukkanlah keunikan, kelebihan, dan keistimewaan yang telah dikaruniakan Allah kepada kita secara pribadi.(RH)

4 Jul 2011

Makna Kehilangan

katanya: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" Ayub 1:21

Siapa yang tidak sedih ketika kehilang­an sesuatu yang berharga dalam hi­dup­nya? Seorang ibu menangis pedih ka­re­na kehilangan anak tunggalnya yang me­ninggal karena sebuah kecelakaan. Se­mua orang akan mengerti kepedihan ha­ti sang ibu dan memakluminya apabila sang ibu menangisi kepergian si anak se­demi­kian rupa. Bicara tentang kehilangan, sesung­guh­nya tidak ada yang dapat menandingi ke­pe­dihan Ayub. Bayangkan, dalam seke­jap hartanya habis. Bukan hanya itu, ke­pe­­dihannya makin bertambah ketika se­mua anaknya pun tewas seketika, bahkan kesehatannya pun hilang. Dalam sekejap, Ayub, yang semula adalah orang yang ka­ya raya, menjadi orang yang sangat mis­kin. Dari orang yang memiliki anak menjadi ayah yang tanpa anak lagi. Dari orang yang sehat menjadi orang yang memiliki sakit borok di sekujur tubuhnya. Ditambah lagi dengan cibiran dari sang istri—orang yang seharusnya menjadi penolong dalam hidupnya. Kurang apa lagi derita yang dirasakan oleh Ayub? Namun yang luar biasa, da­ri mulut Ayub tidak keluar kata-kata keluhan, tetapi sebuah kata pu­jian, “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah na­ma Tuhan!” (ayat 21). Ayub sadar bahwa semua yang ia miliki bukan miliknya, melainkan milik Tuhan, sehingga tatkala Tuhan mengambil se­mua yang ada pada Ayub, Ayub tidak memprotes dan menuduh Tuhan sebagai tokoh yang kejam dan tidak adil. Ada kalanya dalam hidup, kita mengalami kehilangan. Memang be­rat dan pedih jika kita mengalaminya. Namun, mari kita meman­dang semuanya itu sebagaimana Ayub memandangnya supaya kita da­pat menghadapi peristiwa kehilangan dengan tetap berpengha­rap­an. (RH)

3 Jul 2011

Jika Kamu Percaya

Jawab Yesus: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?"  Yohanes 11 : 40

Ketika ibu saya sakit, saya sangat ingin Tuhan menyembuhkannya lewat mukjizat, sehingga tak perlu operasi. Namun, saya harus menerima kenyataan yang berbeda. Ibu saya harus dioperasi dan menjalani kemoterapi. Iman saya harus berhadapan dengan ujian untuk tetap teguh percaya walau jalan yang ditempuh tampak berbeda. Akan tetapi, mukjizat itu tetap ada. Iman orangtua saya—yang saat itu baru mengenal Tuhan—tetap teguh bertahan menghadapi semua proses tersebut. Bahkan, mereka mengakui kebesaran dan kebaikan Tuhan lewat peristiwa ini. Ibu saya pun sembuh dari sakit. Sampai akhirnya, kedua orangtua saya justru dibaptis setelah pengalaman tersebut, bahkan juga nenek dan bibi saya.
Kerap kali kita memiliki pemikiran yang berbeda dengan Tuhan, sehingga kita menjadi kecewa, bingung, dan sedih. Demikian pula dengan Maria. Ia berharap Tuhan Yesus datang saat Lazarus masih terbaring sakit, sehingga ia tidak akan mati (ayat 32). Kenyataannya, justru sebaliknya. Tuhan menunda datang. Namun, di tengah ketidakmengertian Maria akan pemikiran Tuhan, Dia meminta agar Maria tetap percaya. Sebab ketika orang percaya, maka ia akan melihat kemuliaan Tuhan (ayat 40). Dan inilah yang Tuhan tunjukkan; kebangkitan Lazarus membuat banyak orang menjadi percaya (ayat 45).
Ketika hal-hal yang terjadi di hadapan kita tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, dan kita sama sekali tidak mengerti rencana Tuhan, maukah kita tetap percaya? Sebab, Dia hendak menunjukkan kemuliaan-Nya, hingga akhirnya membuat kita mengerti apa maksud dan rencana Tuhan di balik semua yang terjadi.

1 Jul 2011

Cinta Sejati

Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia. Markus 10:9

Owa Jawa (hylobates moloch) adalah sejenis kera kecil (lesser apes) yang hidup di Pulau Jawa, meskipun banyak penduduk di Pulau Jawa yang tidak mengetahui keberadaan satwa yang sudah di ambang kepunahan ini. Owa Jawa, sebagaimana beberapa jenis owa lain, biasanya hidup berpasangan dan monogami. Untuk mendapatkan pasangan yang cocok, Owa Jawa kadang memerlukan waktu yang panjang. Namun setelah mendapatkannya, pasangan ini akan bertahan seumur hidup. Benar-benar tak tergantikan. Jika pasangannya mati, owa tersebut biasanya tidak akan mencari pasangan lagi. Sampai mati. Pengagungan cinta kasih manusia tentu saja dan semestinya melebihi cinta kasih satwa. Walaupun kini tengah marak fenomena perpisahan dalam hubungan suami-istri, tetapi yang Tuhan kehendaki adalah hubungan yang harmonis layaknya Tuhan dengan jemaat-Nya. Efesus 5 dengan jelas menggambarkan hubungan ini. Ada cinta kasih dan kesetiaan yang dituntut dalam hubungan antara suami dan istri—yakni seperti Kristus dengan jemaat-Nya. Dan, hubungan yang dipersatukan oleh Allah harus dipelihara dengan baik sebagai wujud ungkapan syukur terhadap Tuhan, “Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Markus 10:9) Bahkan kematian pun seyogianya hanya memisahkan manusia secara fisik. Apakah kita sudah mengasihi pasangan kita layaknya Kristus mengasihi jemaat? Atau, mungkin kita masih harus belajar dari kera kecil yang hampir punah di beberapa kawasan hutan yang tersisa di Pulau Jawa?

26 Jun 2011

Baik dan Jahat

Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku Matius 13:29-30

Gandum dan lalang adalah dua tanaman yang sangat mirip, tetapi sebenar-nya sangat berbeda. Gandum adalah makanan pokok yang sangat berguna bagi manusia, sedangkan lalang sama sekali tidak berguna. Bahkan lalang lebih banyak menyerap sari makanan dari tanah, sehingga mengganggu pertumbuhan gandum. Sayangnya lalang dan gandum baru dapat dibedakan ketika bulir-bulir-nya ke-luar. Dan, lalang yang dicabut sebelum waktunya bisa membuat gandum turut tercabut. Satu-satunya cara memisahkan lalang dan gandum adalah de-ngan menunggunya sampai saat menuai tiba. Seumpama lalang dan gandum, begitulah orang jahat tetap dibiarkan hidup di dunia ini bersama orang baik, meski mereka membawa penderitaan bagi orang-orang baik. Tuhan mengasihi seluruh ciptaan-Nya, baik yang berbuat jahat atau yang berbuat baik. Dia masih memberi kesempatan kepada yang jahat supaya bertobat, juga memberi kesempatan kepada yang baik untuk terus bertumbuh dalam ketaatan pada firman Tuhan. Justru dengan adanya “lalang”, maka “gandum” ditantang untuk makin tekun bertumbuh, makin tahan uji, dan makin berkualitas. Hari ini kita diajar mengenal hati Allah yang panjang sabar dan mengasihi seluruh isi dunia ini. Dia bersabar karena segala sesuatu ada waktunya; kasih-Nya menerima setiap orang apa adanya. Kasih-Nya memberi kesempatan kepada setiap orang untuk berubah dan bertumbuh lebih baik, bukan cepat menghakimi dan menghukum. Allah memiliki kasih yang besar, yang tidak menyerah untuk terus mengasihi. Sebagai “gandum” di ladang-Nya, hendaknya kita terus bertumbuh dalam kasih dan kebenaran yang sejati

19 Jun 2011

JEBAKAN KENYAMANAN

Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci. Yesaya 6:1
Alexander Solzhenitsyn, seorang kristiani Rusia, pernah dibuang ke kamp pekerja Soviet. Di situ ia disiksa. Disuruh bekerja bagai kuda. Anehnya, setelah keluar ia malah mensyukuri masa-masa itu. Di situ saya mendapat pengalaman berharga, katanya. Sebelum menghadapi bahaya dan kesusahan, jebakan kenyamanan membuat saya malas bertumbuh. Di kamp itu, baru saya sadari, betapa penting-nya mengandalkan Tuhan. Hidup yang keras dan sulit justru membuat iman saya bertumbuh. Nabi Yesaya mendapatkan panggilan Tuhan dalam tahun matinya raja Uzia. Siapakah Uzia? Raja Yehuda terbaik sejak zaman Raja Salomo. Ia berhasil membuat rakyat merasa aman dan nyaman di bawah pemerintahannya. Ia menciptakan kemakmuran. Sisi buruknya, rakyat menjadi sangat bergantung kepadanya. Jebakan kenyamanan membuat mereka kurang bergantung kepada Tuhan. Kini sang raja telah wafat. Yang diandalkan lenyap. Padahal, musuh (bangsa Asyur) semakin dekat. Pada saat itulah Tuhan menyatakan diri kepada Yesaya. Tuhan ingin menyadarkan umat-Nya bahwa di atas raja dunia masih ada Raja alam semesta. Ketika raja dunia tak lagi dapat diandalkan, kini mereka perlu belajar bergantung pada Raja Surgawi. Tanpa sadar, kita pun bisa terjebak dalam kenyamanan hidup. Raja Uzia kita bisa berbentuk harta, asuransi, suami, istri, anak, kepandaian, atau karier. Itu semua memang perlu, tetapi bisa men-ciptakan rasa aman yang semu. Maka, jangan jadikan hal-hal itu sebagai andalan. Bergantunglah hanya kepada Tuhan, supaya jika segala yang semu itu lenyap, kita tidak sampai kehilangan pegangan

Followers